08. Asrama

1143 Kata
"Sekarang keluarga gue buang gue ke tempat ini. Tempat asing yang nggak pernah ada di pikiran gue. Lo tau betapa sengsaranya gue, setelah lo pergi? Tapi gue bertahan, karena gue yakin lo masih hidup! Lo akan kembali demi gue" batin Rere. Tok tok tok Tok tok tok Mendengar suara ketukan pintu, Rere langsung mengusap air mata di pipinya. Ia beranjak membuka pintu. Ia tersenyum kikuk mendapati seorang wanita paruh baya yang sepertinya seusia dengan ibundanya jika masih hidup. "Kamu habis nangis?" tanya Laila tersenyum hangat kepadanya Rere menggeleng pelan. "Kamu belum mandi 'kan?" tanya Laila merangkul lengan Rere dan menariknya ke dalam kamar. "Sekarang kamu mandi, terus makan, Ummi sudah siapkan makanan untuk kamu" ucap Laila setelah menyerahkan sebuah handuk pada Rere. Mau tidak mau, Rere akan menerimanya. "Ummi??" batin Rere "Koper aku dimana Tante?" tanya Rere dengan suara serak. "Panggil Ummi aja ya nak. Koper kamu ada di samping lemari. Kalau begitu Ummi tinggal ya?" Sesuai yang dikatakan Laila. Rere melangkahkan kaki menuju samping lemari. Ia menarik kopernya, lalu meletakkannya diatas kasur. "Hahh!" teriak Rere saat membuka koper. Rere terkejut melihat semua pakaian di dalam kopernya adalah overall. Ia mengeluarkan semua pakaianya, berharap ada pakaian lain. Tapi nyatanya Nihil. Nafasnya memburu saat sebuah nama terlintas di otaknya. Bima Yeah, pasti dia yang melakukan itu semua. Rere memandang ke sekitar, ia mencari benda berbentuk kotak persegi. Senyumnya terukir saat melihat ponselnya berada di atas nakas. "BANG BIMAA" teriak Rere setelah Bima menerima panggilannya. "Biasa aja kali! Gue nggak budeg!" protesnya. "Lo kan yang masukin semua baju overall gue ke koper?!" duga Rere. "Hahaha.... Iya gue, kenapa emangnya??" tawa Bima yang membuat Rere semakin naik darah. "Lo gila kali ya!!! Masa tiap hari gue pake baju overall terus?!" "Lo suka kan sama bajunya." ucapnya tertawa "Suka sih suka tapi nggak berlebihan kayak gini!! POKOKNYA GUE NGGAK MAU TAU BESOK LO BAWA BAJU-BAJU GUE!!! AWAS KALO LO NGGAK BAWA! GUE NGGAK AKAN MINJEMIN MOTOR GUE KE LO LAGI!!" ujar Rere penuh penekanan. "Jangan gitu dong Re.... Kalo lo nggak minjemin gue motor lo, gue nggak bisa pamer ke temen kuliah gue lagi Re!" "Makanya lo besok bawa baju gue ke sini!!" ucap Rere kesal. Setelah itu mematikan panggilan sepihak. **** Rere memandangi dirinya di cermin. Cantik. Wajah Rere tetap terlihat cantik tanpa memakai make-up. Wajah natural membuat orang gemas melihatnya. Bibir mungilnya semakin membuatnya terlihat imut. Setelah mengemas pakaiannya kembali ke dalam koper, Rere keluar kamar. Baru saja ia melangkahkan kaki, ia sudah dipanggil seseorang dari arah belakang. "Rere sini!" ucapnya melambaikan tangan ke arahnya. Tanpa menyahut sepatah kata pun Rere segera berjalan ke arahnya. Lalu duduk di kursi meja makan. Laila menyodorkan sepiring nasi kepada Rere dan langsung disantapnya tanpa permisi. Setiap berada dekat Laila hati Rere terasa damai. Mungkin karena ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. "Mas, nanti antar Rere ke asrama ya. Ummi sebentar lagi ada kajian." ucap Laila kepada Azzam yang berjalan ke arah mereka. "Baik ummi." jawab Azzam melirik ke arah Rere, yang sedari tadi tak mempedulikan pembicaraan mereka. Tak penting. Itulah kata yang ada di benaknya. 10 menit kemudian... Azzam mengajak Rere ke asrama. Ia menyuruh Rere untuk membawa kopernya sendiri. Di tengah jalan Rere menghentikan langkahnya, yang membuat Azzam memundurkan langkahnya beberapa langkah untuk berada dihadapan Rere. "Koper gue berat, lo yang bawa!" pinta Rere. Sebenarnya ia hanya malas membawa kopernya sendiri. Biasanya Bima yang selalu membawa barang-barangnya, sedangkan sekarang ia harus melakukannya sendiri. "Disini, kamu nggak boleh manja. Di sini saya akan memperlakukan kamu sama seperti santri lainnya. Kamu harus mandiri. Melakukan sesuatu sendiri tanpa merepotkan orang lain." jelas Azzam "Tapi-" "Meskipun kamu adik dari sahabat saya, itu tidak akan mempengaruhi apa pun. Saya tidak segan-segan menghukum kamu, jika kamu melakukan onar di pesantren." "Ni orang lama-lama ngeselin juga!" batinnya "Bodo Amat. Gue nggak denger apa yang lo bilang!" pekik Rere meninggalkan Azzam. Rere dapat merasakan tatapan tak ramah dari santriwati yang dilewatinya. Ia tahu, jika wajahnya memiliki kecantikan di atas rata-rata. Mungkin mereka semua iri, pikirnya. "Ini asrama kamu." ucap Azzam menunjukkan sebuah kamar yang berisi beberapa ranjang tingkat di sana. Yang membuat Rere ternganga melihat tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya. "Assalamu'alaikum." ucap Azzam diambang pintu. Seseorang gadis berjalan menghampiri mereka. "Waalaikumussalam, Ustadz." jawabnya "Ustadz?" batin Rere. "Saya mengantar Rere, dia akan tinggal di asrama ini bersama kamu dan yang lainnya. Saya titipkan Rere kepada kamu, Yesi." jelasnya tanpa menatapnya. "Baik ustadz." "Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum." pamitnya setelah itu pergi. "Waalaikumussalam." Yesi masih mengamati Rere dalam diamnya. Mata Rere terus menilik ke dalam kamar asramanya. Beberapa kali Yesi memanggil namanya, namun tak ada sahutan. Akhirnya ia lambaikan tangannya di depan wajah Rere. "A...ah kenapa?" ucap Rere gelagapan. "Masuk yuk!" ajak Yesi. Kemudian ia mengambil alih koper yang ditangan Rere. "Demi apa? Gue tinggal di tempat ini. Mana betah gue tidur di kasur kecil kayak gitu" batinnya saat menatap dua kasur dengan ranjang bertingkat. "Ini tempat tidur kamu." tunjuk Yesi. "Huufftt." Mau tidak mau Rere harus menerima tempat tinggalnya saat ini. Setidaknya ia akan terbebas dari segala fitnah yang diucapkan Ulfa. Rere langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. "Biar aku aja yang beresin pakean kamu, ya?" ucap Yesi membuka koper Rere. "Hm." "Re? Ini baju kamu semuanya overall??" tanya Yesi bingung. "Iya! Itu semua kerjaan si onyet Bima!" kesal Rere. "Husshh.... Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu." Rere mulai memejamkan matanya. Efek alkohol di tubuhnya sedikit masih terasa. Baru saja ia akan masuk ke alam mimpi, tiba-tiba segerombol orang datang mengucapkan salam, salah satunya dengan berteriak yang membuatnya semakin kesal. "Kalian dari mana aja? Aku dari tadi nungguin lho!" ucap Yesi. "Eh! Kalian! Kalo masuk, nggak usah teriak-teriak!! Ganggu gue tidur aja" teriak Rere membuat mereka membeku. Terlihat salah satu dari mereka menyenggol lengan temannya. Sedangkan yang disenggol hanya menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah. "Ma... Maaf aku nggak maksud ganggu kamu tidur." ucapnya dengan kepala yang tertunduk. "Gue akan nerima maaf lo, kalo lo beliin gue pizza. Kalo lo nggak beliin, gue nggak akan biarin lo masuk ke kamar ini." ucap Rere menatapnya sinis. Membuat orang yang melihatnya merasa tenggorokannya kering seketika. Rere bangkit dari duduknya dan mendorong orang itu hingga keluar kamar. "Re, kamu jangan gitu dong!" bujuk Yesi. "Lo beliin gue pizza sekarang atau gue nggak biarin lo masuk kamar!" ancam Rere dengan melipat kedua tangannya di depan d**a. Mereka hanya menatap Rere tak percaya. Belum saja berkenalan, tetapi Rere sudah menunjukkan sifat aslinya. Membuat mereka enggan berkenalan dengannya. Yesi tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga bingung dengan situasi ini. Bagaimana bisa Aini keluar dari pesantren?. Dan apakah ustadz akan memberinya izin hanya untuk memenuhi keinginan Rere??. "Aini, aku temenin kamu minta izin ke ustadz Azzam." ucap Yesi menghampiri Aini yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Saat ini ingin sekali Rere tertawa puas. Di sini tidak ada orang yang berani membantah perintahnya. Rere hanya mampu tersenyum sinis sebagai pelampiasan perasaan di hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN