Pov Azzam
Setelah sholat dzuhur, aku berada di teras masjid, berbincang-bincang dengan santri di pesantren. Setelah memutuskan pindah kuliah di Probolinggo, aku kembali ikut andil membantu Abi mengurusi pesantren, aku mulai menanyakan semua perkembangan pesantren kepada Abi. Aku juga sering diberi tugas oleh Abi untuk memberi kajian kepada santri-santriwati setelah solat maghrib. Pandangan aku teralih kepada dua orang. Aku merasa bingung dengan Yesi dan Aini, yang berlari kecil ke arahku.
"Assalamu'alaikum Ustadz." ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumussalam." jawabku.
"Maaf Ustadz, kami ingin meminta izin untuk keluar pesantren." ucap Yesi. Aku dapat merasa ada yang janggal.
"Untuk urusan apa?"
"E...em i...itu Ustadz, Rere ngancem aku, karena aku nggak sengaja ganggu dia tidur Ustadz." jawab Aini menunduk.
"Ngancem?"
"Dia bilang kalo aku nggak belikan dia pizza aku nggak boleh masuk ke asrama Ustadz."
"Astagfirullahal adzim, pasti setelah ini dia akan melakukan yang lebih dari ini" batinku.
"Biar saya saja yang beli, sekalian saya mau jemput Ummi."
"Tapi Ustadz, aku nggak bawa uang, sebentar aku ambil dulu." ucap Aini hendak pergi.
"Ng... Nggak usah biar saya yang membelikannya untuk Rere, jadi kamu nggak perlu menggantikannya."
"Terima kasih Ustadz."
*****
Pov Author
Yesi dan Aini mampu bernafas lega. Tetapi masih ada rasa takut di hati Aini. Wajah seram Rere masih terbayang di pikirannya.
"Mbak." panggil Aini kepada Yesi yang berada di sampingnya pun langsung menoleh.
"Iya?"
"Mbak aku takut sama Rere, Mbak. Wajah seramnya itu lho, masih kebayang di pikiran aku, Mbak!" keluh Aini.
"Kamu nggak usah takut, biar Mbak yang bilang ke Rere." ucap Yesi menggenggam tangan Aini.
Tak terasa mereka sudah sampai diambang pintu asrama. Rere yang sedari tadi menunggu mereka langsung menghampiri.
"Mana pizzanya?" tanya Rere mengangkat dagu ke arahnya.
"Itu Re, Ustadz Azzam yang beli pizza nya. Kita nggak diizinin keluar pesantren." jelas Yesi lembut.
"Oke. Gue tunggu." ucap Rere melenggang pergi.
Rere menyilakan kakinya di atas kasur, lalu mengeluarkan handphone-nya. Senyum Rere terukir saat melihat sebuah foto di galerinya.
Saat itu mereka berempat menghabiskan waktu bersama setelah pulang sekolah sampai malam. Rere memaksa Farhan, Dimas, dan Ulfa untuk foto bersama dengan gaya sesuai keinginkan Rere. Mereka tak mempedulikan orang-orang yang memperhatikan mereka. 'Yang penting bahagia'. Kalimat yang diucapkan Farhan saat itu.
Mereka berfoto dengan urutan Rere, Farhan, Dimas, dan Ulfa.
"Re, kamu kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Yesi merasa penasaran.
Rere tak menyahut.
"Oh ya, kamu belum tau nama aku 'kan? Nama aku Yesi." ucap Yesi mengulurkam tangannya.
"Udah tau gue." ketus Rere yang masih menatap ke arah ponselnya.
Mendengar sahutan Rere membuat Yesi mengerucutkan bibirnya. Pandangan Rere teralih ketika dua orang lainnya memperkenalkan diri.
"Nama aku Aini." ucap gadis yang diancam Rere.
"Nama aku Lulu." ucap gadis yang saat itu menyenggol lengan Aini.
"Oh."
"Assalamu'alaikum."
Pandangan mereka teralih pada orang yang memberi salam. Dia adalah Azzam. Rere pun langsung berlari ke ambang pintu. Dan merebut sebuah kotak di tangannya.
"Wiihhh, kayaknya enak banget!" seru Rere sambil membuka kardus pizza.
"Terima kasih" ucap Azzam memberi kode.
"Sama-sama... Udah sana pergi lo!" usir Rere.
"Re, kamu nggak boleh gitu." tegur Lulu.
"Bodo amat, gue mau makan." ucap Rere melenggang pergi.
"Ustadz maafkan sikap Rere." ucap Yesi.
Azzam hanya tersenyum tipis.
"Ustadz terima kasih karena ustadz aku nggak jadi-" ucap Aini terpotong.
"Nggak pa-pa, saya permisi. Assalamu'alaikum." pamitnya.
"Waalaikumussalam."
"Kalian mau nggak?" tawar Rere dengan mulut penuh makanan.
Mereka menggeleng.
"Udah nggak usah malu-malu." ucap Rere memberi beberapa potong pizza kepada mereka, yang membuat mereka saling menatap bergantian.
"Cepet makan atau gue-"
"Kita makan kok ini." ucap Aini cepat, kemudian segera mungkin mereka memakan pizza tersebut, membuat Rere merasa puas.
"Gue mau pergi, itu pizza masih ada sisa. Kalo kalian mau, tinggal ambil aja, kalo nggak kasih ke yang lain. Yang gue mau saat gue dateng ke sini lagi, pizza ini harus udah habis!!"
"Iya-iya." sahut Yesi.
Rere memutuskan untuk mengelilingi pesantren ini. Ia mulai menelusuri koridor pesantren, langkahnya terhenti saat dua gadis menghadang jalannya dari arah depan.
"Minggir!! Gue bilang minggir!" teriak Rere pada dua gadis yang tetap menghalangi jalannya.
"Aku nggak akan minggir, kalo kamu nggak nurutin permintaan aku?!" ucap salah satunya.
"Siapa lo?!"
"Aku adalah anak Ustadzah di pesantren ini." jawabnya.
"Dia ini anak Ustadzah Nurma. Orang paling cantik di pesantren." jelas temannya.
"Huueeekk". Rere mengekspresikan wajah dan mulutnya seperti orang muntah.
"Kamu berani ya sama aku?" tuturnya menunjuk wajah Rere dengan jari telunjuknya.
Dengan cepat Rere menggenggam tangannya dan melintirkannya ke belakang pingganggnya.
"Lo itu anak mamih, jadi nggak usah nyari masalah sama gue!" bisik Rere di telinganya.
"Lepasin!!" pekiknya memberontak.
"Dina, kamu nggak pa-pa kan?" tanya temannya khawatir.
Rere melepas kasar tangan Dina. Vina-teman Dina memeriksa pergelangan tangan Dina, disana ada ruam merah bekas genggaman Rere.
"Aku nggak takut sama kamu, aku nggak akan ngebiarin kamu merebut Mas Azzam dari aku!" ucap Dina mendorong Rere.
"Azzam? Mending gue jadiin ni cewek, permainan gue disini. Asik juga kayaknya!" batinnya.
"Emangnya Azzam mau sama lo?" ucap Rere menggoda.
"Ya mau-lah. Dina ini 'kan rajin solat, ngaji, dan lainnya, yang disukai Ustadz Azzam. Dia ini calon istri idaman." seru Vina berkacak pinggang padanya
Rere tersenyum sinis.
"Liat aja nanti!" ucap Rere melenggang pergi.
****
Setelah lama berkeliling. Rere melihat pos satpam yang dekat dengan gerbang utama. Ia berlari kecil ke sana. Ia akan beristirahat di pos satpam sembari menikmati pemandangan pesantren. Bahunya ia sandarkan ke tembok dan kakinya ia luruskan. Ia lebih memilih duduk lesehan daripada di bangku yang tersedia.
"Permisi neng?" ucap seorang satpam yang baru saja datang.
"Iya Pak?"
"Neng nyari siapa? Kok dari tadi tengak-tengok saja?"
"Nggak nyari siapa-siapa kok, Pak." jawab Rere melipat kakinya yang tadi ia luruskan.
"Neng, santri baru?"
Rere mengangguk.
Kini pandangan Rere tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang duduk tertunduk dengan sebuah kotak di sampingnya.
"Pak, bukain gerbangnya dong! Aku mau keluar sebentar aja!" pinta Rere.
"Memangnya eneng mau kemana?" tanya pak satpam.
"Saya mau nemuin anak itu, Pak." ucap Rere menunjuk ke arah anak laki-laki itu.
"Yasudah."
Rere berlari kecil ke arah anak tersebut setelah gerbang dibukakan.
"Adek?" panggil Rere yang berjongkok dihadapannya.
Anak itu mengangkat kepalanya dan menatap Rere.
"Kamu ngapain?" tanya Rere.
"Aku lagi cari uang, Kak." lirihnya.
"Cari uang?"
"Aku jadi tukang semir sepatu keliling Kak. Dari pagi aku belum dapat pelanggan." ucapnya sedih.
"Emangnya orang tua kamu kemana?" tanya Rere mulai kepo.
"Ayah sudah meninggal, Kak."
Deeggg
Jantung Rere seperti terhantam benda keras.
"Sekarang Ibu sedang sakit, aku harus cari uang untuk membeli obat untuk ibu."
"Anak sekecil ini mencari uang?? Hanya demi membeli obat untuk ibunya. Sedangkan gue? Gue selalu menghabiskan uang untuk berfoya-foya. Betapa tak bergunanya gue jadi orang kaya kalo nggak berbagi dengan orang yang membutuhkan." batinnya.
Kesambet apa nih si Rere?! Tumben pikirannya bener. Biasanya melenceng mulu. Tapi, seharusnya kita ucapkan Alhamdulillah.... mungkin Rere dapat hidayah dari Yang Maha Kuasa.
"Kamu ikut Kakak ya ke pesantren, disana pasti banyak yang mau menyemir sepatunya!" tawar Rere.
"Kakak yakin?" ucapnya langsung berdiri.
Rere mengangguk. Kemudian berjalan beriringan menuju pesantren.
"Pak boleh pinjem toa?" ucapnya saat melihat sebuah toa yang berada di dalam pos satpam.
"Oh, boleh-boleh."
"Sekarang Arfan nyemir sepatu pak satpam dulu ya, Kak Rere mau cari pelanggan lagi!" ucap Rere.
"Siap Kak!" jawab Arfan bersemangat dengan senyum yang tak pudar.
"Ayo ayo semir sepatu murah, dijamin tidak mengecewakan. Ayo semua kumpul di pos satpam ada semir sepatu murah!!!" ucap Rere berulang-ulang kali.