10. Lelah

1365 Kata
Tak lama kemudian banyak santri-santri yang datang sambil membawa sepatunya. Rere yang tak tega melihat Arfan yang kewalahan pun ikut turun tangan membantunya. Meskipun ini adalah pertama kalinya menyemir sepatu. Dan nyatanya tidak begitu sulit, Rere hanya perlu memperhatikan Arfan melakukannya lalu mengikutinya. Rere mengangkat tangannya ke atas lalu membentuk huruf X. Ia tak kuat lagi. Untungnya hanya tersisa 1 pelanggan lagi dan itu dikerjakan oleh Arfan. "Huhh.... Huhh...." Napas Rere terengah-engah. Ia tak kuat di kerumuni banyak orang, yang membuatnya sulit bernapas. Rere langsung meminum air mineral yang dibawa oleh Pak Satpam. Karena sebelumnya, ia menyuruh Pak Satpam untuk membeli minuman dan makanan. "Sini duduk." ucap Rere melambaikan tangan ke arah Arfan yang telah selesai mengemasi peralatannya. "Nih, di minum." ucap Rere menyerahkan sebotol air mineral. "Terima kasih ya, Kak" ucap Arfan tersenyum. "Iya, sama-sama." "Oh ya Ka, ini uangnya kita bagi dua. Uangnya lumayan banyak, Kak!" ucap Arfan menyerahkan setengah uang dari hasil pendapatannya. Rere langsung menolak" Nggak, nggak usah. Uangnya di pake buat beli obat Ibu 'kan?" Rere langsung merogoh saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang. "Ini, Kakak tambahin uangnya." ucap Rere memberikan uang tersebut. "Tidak usah Kak. Ini lebih dari cukup." tolak Arfan menatap uang di tangannya. "Udah nggak pa-pa. Uang dari Kakak buat beli makanan. Uang yang kamu dapat hari ini buat beli obat Ibu." Rere memaksakan tangan Arfan untuk mengenggam uang tersebut. "Terima kasih, Kak. Kak Rere udah baik banget sama aku, aku nggak tau cara membalasnya? Semoga Kakak selalu dalam perlindungan Allah." "Aamiin." Bukan Rere yang meng-amin-kan do'a Arfan, melainkan Pak Satpam yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Rere hanya tersenyum tipis. Perasaannya sangat senang melihat senyum Arfan yang tak memudar. "Sekarang kamu pulang. Udah mau maghrib." ucap Rere. "Iya Kak. Aku pulang dulu." ucap Arfan mencium tangan Rere lalu Pak Satpam. "Assalamu'alaikum." ucap Arfan melenggang pergi. "Waalaikumussalam." "Pak, aku balik ke asrama ya!" pamit Rere. "Oh iya neng." 5 menit kemudian..... "Saya harus cepat sampai ke pos satpam. Jika tidak karena Dina saya sudah berada di sana sejak tadi." batin Azzam Flashback on "Itu suara siapa? Kok kayaknya aku kenal ya? Kenapa disini suaranya tidak begitu jelas? Saya harus cepat ke pos satpam." batin Azzam. Pos satpam, 3 kata yang terdengar di telinga Azzam. Ia mulai melangkahkan kaki ke sana. Tapi langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya. "Mas... Mas Azzam!" panggil seorang gadis. Azzam menoleh. Setelah melihat orang yang memanggilnya, Azzam memutar bola matanya jengah. Dina. Seorang gadis yang sejak dulu mengejar-ngejarnya. Ketika tiba di pesantren, dia adalah orang yang paling heboh sendiri. 'Tidak tahu malu'. Sebuah kalimat yang Azzam ucapkan dalam hatinnya untuk Dina. "Assalamu'alaikum." ucap Azzam saat Dina tiba dihadapannya. "Waalaikumussalam. Maaf Mas aku lupa." ucap Dina menunduk. "Jangan panggil Mas, panggil saya Ustadz saja." Entahlah Azzam merasa illfeel saat Dina memanggilnya dengan panggilan Mas. Jika Dina bukan anak Ustadzah di pesantren Abi-nya, ia tak akan mau meladeni gadis itu. Hanya menghargai. Itulah yang Azzam lakukan. Ia tak pernah memberi harapan apapun pada gadis ini. Tapi mengapa Dina selalu mengejarnya?. Azzam tak mau ambil pusing. Ia pun langsung bertanya pada Dina. "Ada perlu apa?" tanya Azzam dingin. "Mas... Eh maksudnya Ustadz dipanggil Ummi untuk membantu memindahkan barang-barang ke gudang." Azzam merasa bingung. Kali ini, ia sangat ingin ke sumber suara. Ia akan membuktikan, suara itu milik Rere atau bukan. Tapi, ia mengurungi niatnya, ia tak bisa egois karena perasaannya. "Oh ya sudah, mari." ucap Azzam yang diangguki oleh Dina. Saat ini Dina merasa ribuan kupu-kupu beterbangan di hatinya. Jalan berdampingan dengan Azzam membuatnya membisu, ia tak mampu berkata apapun. Senyumnya kini benar-benar merekah. Apalagi melihat wajah tampan Azzam membuatnya ingin teriak histeris. Tapi semua itu ia tahan. "Ustadzah Nurma dimana?" tanya Azzam. Tak ada sahutan. Ketika Azzam menoleh Dina tengah memandangnya yang membuatnya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali. "Ehem." dehem Azzam yang berhasil menyadarkan Dina dari dunia imajinasinya. "Kenapa Ustadz?" ucapnya gelagapan. "Ustadzah Nurma ada dimana?" geram Azzam. "Disana ustadz, diruangannya." Azzam segera mempercepat langkahnya. Ia sedikit kesal dengan Nurma dan Dina, karena mereka selalu meminta bantuan Azzam. Yang tak pernah absen setiap harinya. Azzam memindah barang-barang yang sudah terbungkus rapi di dalam kardus menuju gudang. Setelah selesai ia segera pamit dan melangkahkan kaki ke pos satpam. Flashback off Tampak suasana di pos satpam sangatlah sepi. Azzam pun sudah menyangka akan seperti itu, karena barangnya yang dipindahkan tidak sedikit dan juga jarak dari ruangan Nurma ke gudang itu cukup lumayan jauh. "Allahu Akbar.... Allahu Akbar" Suara adzan maghrib berkumandang. Azzam mengurungi niatnya untuk bertanya kepada pak Rahmat-satpam di pesantren mengenai hal yang baru saja terjadi. Ia pun beranjak menuju masjid. **** Rere merebahkan tubuhnya ke kasur. Ia merasa pinggangnya telah lurus kembali. Ia sempat sakit pinggang karena terlalu lama berjongkok. Tapi itu semua ia lakukan untuk membantu Arfan. "Re kamu mau solat maghrib nggak?" tanya Yesi. "Kalau kamu solat, cepet siap-siap, keburu telat!" "Nggak! Gue nggak solat! Gue mau tidur! Lo semua jangan ada yang ganggu gue!!" teriak Rere. "Yaudah yuk kita berangkat" ajak Lulu. Hanya beberapa menit kemudian, kini Rere sudah terlelap tidur. "Mas, Abi mau minta tolong sama kamu." ucap Rahman saat mereka sampai di rumah setelah solat magrib. "Minta tolong apa Abi?" "Kamu ajarkan nak Rere solat dan mengaji, juga tentang agama ya?!" pinta Rahman. "Apakah Rere bersedia belajar agama dengan saya?" batinnya "Akan Azzam usahakan, Bi." jawab Azzam. Azzam menunggu Yesi di depan rumahnya. Biasanya santriwati melewati rumah Kyai Rahman untuk mempersingkat jalan. Akhirnya sesosok yang di tunggunya datang bersama 2 gadis lainnya. "Assalamu'alaikum." ucap Azzam menangkupkan kedua tangannya. "Waalaikumussalam." jawab mereka bersama membalas dengan menangkupkan tangan juga. "Emm... Rere kemana ya? Saya dari tadi tidak melihat dia?" tanya Azzam gugup. "Rere lagi tidur Ustadz." jawab Yesi. "Tidur?" gumam Azzam. "Rere kayaknya kecapean deh, Ustadz." tambah Lulu. "Iya Ustadz, terus wajahnya juga keliatan pucat." lanjut Aini. "Oh ya sudah. Tolong sampaikan kepada Rere, nanti besok setelah solat jum'at saya akan mengajarinya mengaji. Saya tunggu di rumah." ucap Azzam menjelaskan tujuannya. "Baik Ustadz. Akan kami sampaikan." jawab Yesi. "Kalo gitu kita pamit Ustadz. Assalamu'alaikum." "Waalaikumussalam." Pukul 20.00 Rere terbangun dari tidurnya. Kosong. Suasana di asramanya. Rere masih mengucek-ngucek matanya. Udara disini sangat panas, membuatnya jadi gerah body. Rere teringat bahwa dirinya belum mandi. "Gue mandi dimana? Kamar mandinya aja gue nggak tau? Gue ke rumah Azzam aja deh." lirih Rere. Kemudian, ia mengambil pakaian ganti dan menuju rumah Azzam. Tok tok tok Cekkleekk "Rere?" "Eh Ummi." ucap Rere cengengesan "Ada apa nak?" tanya Laila lembut "Ummi? Aku boleh ikut mandi di sini nggak?" tanya Rere ragu. "Hemm... Boleh kok boleh.. Ayo masuk." ucap Laila mempersilahkan Rere masuk. "Terima kasih Ummi." ucap Rere tersenyum manis yang mendapat balasan senyuman yang tak kalah manis. Rere masuk ke kamar yang tadi kemarin ia tempati, karena Laila yang menyuruhnya. Saat berada di dalam, ia meneliti kamar ini dengan detail. Yeah, kamar ini adalah kamar seorang gadis. Karena ada sebuah lemari yang berisi penuh oleh boneka. "Lucu-lucu sih bonekanya." lirih Rere. Rere berjalan menuju kamar mandi. "Kamu udah selesai mandinya?" tanya Laila. "Iya Ummi." jawab Rere canggung. "Kamu udah makan belum?" Rere menggeleng. "Makan ya? Biar Ummi ambil dulu makanannya." ucap Laila melenggang pergi. "Nggak usah Ummi. Rere nggak laper?" elak Rere saat Laila memberikannya sepiring nasi serta lauk pauknya. "Udah sekarang kamu makan! Cepet buka mulutnya!" ucap Laila menyuapkan satu sendok nasi dan lauknya. Tanpa menolak Rere pun membuka mulutnya. "Kalo Mama masih hidup, pasti setiap hari gue disuapin kayak gini?!" batinnya. "Rere kenapa? Kok melamun? masakan Ummi nggak enak ya?" duga Laila. "E... Enggak kok Ummi, masakan Ummi enak. Rere cuma rindu sama Mama." "Kalo kamu rindu, kamu cukup titipkan rindu kamu kepada Allah." ucap Laila memasukkan satu sendok lagi. "Ummi kenapa sih, baik banget sama aku?" tanya Rere. "Setiap melihat kamu, Ummi selalu ingat dengan anak perempuan Ummi." jawab Laila merasa rindu kembali kepada anaknya. "Adiknya Azzam?" tebak Rere. Laila mengangguk. "Ummi.... Ummi...." panggil seseorang. Suara familiar itu sudah mampu di tebak oleh Rere. "Mas, kok nggak ucap salam dulu." ucap Laila saat Azzam mencium tangannya "Sudah kok Ummi, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Jadi Azzam langsung masuk." jelas Azzam setelah itu melirik ke arah Rere. "Alesan." lirih Rere memalingkan wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN