11. Terungkap Sudah

1509 Kata
"Apa maksud kamu?" tegur Azzam dengan tak biasa. "Sudah, sudah.... Rere kamu lanjutkan makannya, Ummi mau bikin kopi buat Azzam dulu." ucap Laila berjalan ke arah dapur, setelah melerai keduanya. "Dasar manja." cibirnya. "Kamu kenapa? Dari tadi kok sensi banget sama saya?" "Udah ah gue mau balik! Mau tidur. Oh ya, jangan lupa bawa piring yang tadi bekas gue makan ke dapur." ucap Rere melenggang pergi. Azzam menggeleng melihat kelakuan gadis yang satu ini. **** Malam ini Azzam tak bisa tidur. Ia terus memikirkan besok siang, saat ia akan mengajarkan Rere mengaji. Ia takut gejolak di hatinya kembali datang. Karena setiap bertemu dengan Rere jantungnya berdetak tak karuan. Apalagi saat melihat gadis itu tersenyum. Akhirnya Azzam mengambil air wudhu, kemudian mengaji. Untuk menenangkan kegelisahan di hatinya. Pagi ini Rere, Yesi, Aini dan Lulu sudah siap untuk pergi ke karnaval. Hari ini adalah hari jum'at. Hari dimana setiap santri dibebaskan pergi kemana saja, asal masih sekitaran pesantren. Dan kebetulan karnaval itu berada di kampung sebelah. Jaraknya pun tidak terlalu jauh. "Ini dimana karnavalnya?" tanya Rere yang sudah malas untuk berjalan lagi. "Sebentar lagi." jawab Lulu. "Oh ya Re, Mbak baru ingat kalo tadi malam Ustadz Azzam titip pesan ke kamu." ujar Yesi. "Pesan apaan?" "Katanya, nanti sehabis solat jum'at Ustadz Azzam akan mengajari kamu mengaji." jelas Yesi. "Sebentar-sebentar." ucap Rere tidak mendengar jelas suara Yesi karena ponsel di sakunya terus berdering. "Ada apa Bang?" "Papa sakit Re!" "Hah! Abang nggak bercanda kan?" "Nggak, Abang nggak bercanda. Papa nggak mau di rawat ke rumah sakit, Rere cepet pulang ke Jakarta." "Iya Bang, iya." Tidak disadari air mata Rere mulai mengalir. Membuat Yesi, Lulu dan Aini merasa khawatir. "Hiks.... Hiks.... Gue... Gue mau balik ke Jakarta." ucap Rere mulai gelisah. "Kamu kenapa Re?" tanya Lulu. "Re... Kamu yang tenang dulu." ujar Aini mengelus punggungnya. Rere menarik nafas panjang. "Papa gue sakit, gue harus cepet balik ke Jakarta." "Kita ke pesantren dulu." tutur Yesi mencoba menenangkannya. "Kita minta bantuan Ustadz Azzam dulu ya, Re." lanjut Yesi. Rere mengangguk pelan. Aini dan Lulu menggandeng tangan Rere. Yesi berusaha menenangkan Rere yang terus menangis. Saat sampai di pesantren, Rere langsung berlari ke rumah Azzam. Tok tok tok "Azzam.... Azzam..." ucap Rere memanggil Azzam, ia berharap Azzam ada di dalam rumah. "Aduhh... Azzam kemana sih..." gerutu Rere menghentakkan kakinya ke lantai, membelakangi pintu. "Itu siapa yang ketuk pintu, Mas?" tanya Rahman. "Nggak tau Bi, Azzam baru mau melihatnya." ucap Azzam lalu melenggang pergi. Cekleekk Rere membalikkan badannya "Azzam...." ucap Rere dengan mata berbinar. "Mata kamu kenapa? Kok sembab gitu?" tanya Azzam. "Rere abi-" ucap Lulu terpotong. "Ayo cepet anter gue balik ke Jakarta!" Rere menarik tangan Azzam. "Lepasin tangan saya!" pinta Azzam dan Rere pun langsung melepaskannya. Sebenarnya Rere tengah menutupi kesedihannya. Ia hanya berpura-pura bersikap biasa saja di depan mereka. Rere adalah orang yang tertutup. Ia hanya akan membagi masalah hidupnya dengan orang yang paling dekat dengannya. "Ini ada apa? Kok ribut-ribut?" tanya Rahman yang baru tiba diambang pintu. "Enggak ada apa-apa kok Pak Kyai." ucap Aini menutupi. "Abi, Azzam minta izin antar Rere pulang ke Jakarta." ucap Azzam. "Boleh ya Pak Kyai.... Rere cuma mau ketemu sama Papa." ucap Rere di manis-maniskan. "Yasudah, hati-hati di jalan. Oh ya, satu lagi, kalian temani mereka supaya tidak berdua selama perjalanan" ucap Rahman menunjuk 3 gadis yang sedari tadi berdiri di hadapannya. "Kita bertiga Pak Kyai?" tanya Yesi memastikan. "Iya... Saya tidak ingin ada fitnah." "Baik Pak Kyai." ***** Setelah perjalanan jauh, kini mereka telah sampai di gerbang berwarna hitam sebuah rumah. Mereka tiba di Jakarta pada malam hari. Karena waktu menempuh perjalanan dari Probolinggo-Jakarta adalah 17 jam jika memakai kendaraan umum. Tetapi Azzam mampu menyingkat waktu 2 jam lebih cepat, itu semua karena paksaan dari Rere yang menyuruhnya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. "Papa....." teriak Rere saat baru keluar dari mobil. "Ini bener rumah Rere? Kok gede banget kayak istana di film-film Disney." ucap Lulu berlebihan  "Masya Allah." ucap Yesi kagum atas bangunan yang ditatapnya saat ini. Sedangkan Aini? Ia masih menatap rumah Rere tanpa berkedip. "Ayo masuk." ajak Azzam. Aini mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu segera menyusul Yesi dan Aini yang sudah berjalan lebih dulu. "Assalamu'alaikum." ucap mereka bersamaan. "Waalaikumussalam." jawab Bi Ijah dari arah dapur. Rere membuka pintu kamar Aryo. Dalam hatinya ia berdoa agar Aryo baik-baik saja. Dengan segera ia membuka pintu. Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita tua yang duduk di sofa sembari membaca koran. "Oma." lirihnya. "Rere!" panggil Aryo menyadari kehadiran putri semata wayangnya. Wanita tua itu pun mengalihkan pandangannya ke Rere. Rere melangkahkan kakinya pelan ke arah Aryo, setelah Aryo melambaikan tangan padanya. Air matanya pecah melihat kondisi sang Papa yang begitu lemas. Saat bicara pun tak terlalu jelas. Rere langsung memeluk erat tubuh Aryo dan mencium kedua pipinya. Tiba-tiba tubuh Rere terhempas begitu saja, membuatnya jatuh tersungkur di lantai. "Oma." ucap Rere menatap lekat Sarah-nama Omanya, yang telah melakukan hal yang tak pernah terpikirkan olehnya. Rere segera berdiri dan menghampiri sang Oma. "Oma... Apa yang telah oma lakukan kepada Rere? Apa salah Rere Oma?" ucap Rere dengan suara serak karena menangis. Dada Sarah mulai bergejolak pertanda amarahnya mulai memuncak. Ia tak mau bertele-tele. Ia akan berbicara to the point saja. "GARA-GARA KAMU, AFIF KEHILANGAN MAMANYA!!! DAN GARA-GARA KAMU NAMA KELUARGA SAYA TERCORENG JELEK DI MASYARAKAT!!" teriak Sarah. "Hiks.... Hiks....." tangis Rere pecah saat Sarah menyalahkan dirinya. "Yang Ibu katakan itu sudah melewati batas Bu!" ucap Aryo. "SUDAH CUKUP SAYA DIAM SELAMA INI! DAN SEKARANG SAYA TIDAK AKAN DIAM LAGI!" Rere tak mampu berkata apapun lagi. Suaranya seperti hilang dalam sekejap. Ia dapat melihat amarah Sarah yang menggebu-gebu dari ekspresi wajah Sarah. Dari dulu Sarah tak pernah bersikap baik terhadap Rere. Ia selalu perhatian pada Afif, tidak dengan Rere. Masalah mamanya? Rere tak tahu apa-apa. Bertemu dengan mamanya saja ia tak pernah, lalu mengapa ia yang disalahkan atas kematian mamanya?. "KARENA KAMU ANAK SAYA MENJADI KESEPIAN!! DAN KARENA KAMU CUCU SAYA MENJADI ANAK PIATU!!! DAN KARENA JUGA KAMU DERAJAT DAN MARTABAT KELUARGA SAYA SUDAH HILANG DI MASYARAKAT!!! SEHARUSNYA DARI DULU SAYA TIDAK MEMBIARKAN KAMU HIDUP!! JIKA BUKAN KARENA KEINGINAN TERAKHIR MENANTU SAYA!! SAYA TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU HIDUP!!" teriak Sarah meluapkan segala amarahnya. Prannggg Rere melempar guci yang berada di atas meja ke lantai. Rere mengambil pecahan kaca yang tertinggal di meja, lalu meremasnya sekuat mungkin. Sebagai pelampiasannya. Aryo tak mampu berbuat apapun. Kondisinya yang tak memungkinkan ia beranjak dari atas kasur. Semua orang yang semula sedang menikmati suguhan makanan dan minuman, langsung berlari mengikuti Afif. Afif memberhentikan langkahnya saat melihat pecahan-pecahan kaca dan darah yang menetes di lantai. Yeah, telapak tangan Rere sudah di penuhi darah. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang tak sebanding dengan rasa sakit yang ia pendam selama bertahun-tahun. "Sudah cukup Oma!! Rere nggak mau denger Oma bicara lagi!! Sekarang giliran Rere yang bicara!!!" teriak Rere. "Hiks.... Hiks..." Rere menarik nafas panjang. "Selama ini Rere diam, bukan karena Rere nggak berani. Rere masih menghargai Oma sebagai Oma-Rere, tapi sekarang nggak lagi!! Dari dulu Rere nggak pernah nuntut Oma buat sayang sama Rere!! Rere hanya diam ketika Oma memberi mainan ke Abang. Rere nggak pernah minta apapun dari Oma. Rere selalu menjauh dari Oma, saat Oma main ke rumah. Dari dulu Rere sadar kalo Oma nggak suka sama Rere. Tapi Rere nggak pernah tau apa alesannya?, dan sekarang sudah terjawab semuanya!!" Rere menyeka air matanya lalu beralih menatap Azzam dan kemudian berjalan mendekat ke arah Sarah. "Asal Oma tau, Oma adalah orang terjahat yang pernah Rere temui di dunia ini!!" Plaakkk Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Rere. Pipi Rere mulai memanas. Mereka yang melihat kejadian itu hanya diam terpaku diambang pintu. Azzam merasa tak tega melihat kondisi Rere saat ini. Ingin sekali ia membawa pergi jauh Rere dari tempat ini. "Satu tamparan ini nggak sebanding dengan sakit yang Rere rasakan selama ini! Harusnya Oma sadar, kalo Rere juga benci Oma! Jika bukan karena Papa mungkin sudah lama Rere bunuh Oma!!" "ARYO!! UNTUK APALAGI KAMU PERTAHANKAN ANAK SEPERTI DIA!! ANAK INI SUDAH KELEWATAN BATAS!!" teriak Sarah beralih menatap Aryo "Bu... Sudah Bu..." ucap Aryo tak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit dari baringannya. Afif berjalan menghampiri Rere dengan sembawa sehelai kain untuk melilitkan tangan Rere yang berdarah. Setelah melilitkan kain di tangan, ia berdiri dan mengelus pipi Rere yang tadi ditampar oleh Sarah. Rere menampis keras tangan Afif. "Re..." "Udahlah Bang!! Nggak usah sok baik sama Rere!! Rere tau Abang nggak pernah sayang sama Rere!! Abang sama seperti Oma. Hiks... Hiks.... Abang cuma pura-pura baik sama Rere supaya Rere sembuhkan? Iya kan Bang? Nggak usah bohong sama Rere, Rere tau semuanya!!" pekik Rere dengan tangis yang semakin menjadi. Afif tak menyangka jika Rere mampu berpikir seperti itu. Ia mengulurkan kedua tangannya memegang bahu Rere. "Re, dengerin Abang." "Dengerin apa lagi Bang!! Rere muak dengan semua ini!!" ucap Rere melepaskan tangan Afif dari bahunya. "AFIF!! UNTUK APA KAMU BAIKIN ORANG SEPERTI DIA!! DIA ITU ORANG YANG NGGAK BERGUNA HIDUP!! DIA SELALU MENGHAMBUR-HAMBURKAN UANG UNTUK HAL YANG NGGAK ADA MANFAATNYA SAMA SE--" ucap Sarah menarik tangan Afif ke arahnya. "Cukup Oma, cukup!!" ucap Afif dengan nada tinggi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN