" Baik Ma, kami berdua akan menginap disini." Ucap Edward kepada Nyonya Gu.
"Bagus, begini baru bagus." Ucap Nyonya Gu.
Christy melirik hasil sulam tangan Nyonya Gu. "Apakah ini hasil buatan tangan Mama ?" Tanya Christy
"Tentu saja." Jawab Nyonya Gu dengan bangga.
" Ini sangat cantik sekali Ma ." Ucap Christy
"Ibuku dulu suka sekali menyulam dan merajut." Ucap Christy agak sedih.
"Ah sayang jangan bersedih ya, sekarang kau memiliki Mama." Ucap Nyonya Gu.
"Apakah kau mau jika Mama mengajarimu ?" Tanya Nyonya Gu.
"Ya tentu saja Ma." Jawab Chirsty dengan hati senang.
Edward memandangi interaksi mereka berdua dengan penuh rasa haru, Christy adalah wanita pertama yang menerima ajakan mamanya untuk dengan senang hati menyulam bersama.
Edward meninggalkan mereka berdua sejenak, untuk mengecek keadaan kantor. Hari ini ada meeting penting yang tak bisa di undur tapi Edward mendelegasikannya kepada Yuri.
Setelah menerima laporan jika semua berjalan lancar, Edward kembali ke ruang perpustakaan dan melihat pemandangan Christy sedang terlinat serius menyulam bersama Mamanya.
Edward mengambil ponselnya dan mencadid mereka berdua. "Indah sekali". Ucap Edward dalam hati.
"Apakah sudah selesaI?" Tanya Edward.
Christy menengadah ke atas dan melihat wajah Edward yang sedang berdiri di belakangnya sambil menatapnya. "Eem, sedikit lagi. Mama sedang mengajariku cara menjelujur." Ucap Christy.
"Ma, sambil menunggu makan siang aku akan menunjukan kamarnya." Ucap Edward kepada Christy.
" Ya, ya kau ajaklah dia, Mama akan melihat dapur apakah makan siang sudah akan siap." Ucap Nyonya Gu.
"Ayo." Ajak Edward kepada Christy seraya menggenggam tangannya.
Edward menempatkan kamar Christy tidak jauh dari kamarnya dulu. "Kamarmu dan kamarku letaknya tidak berjauhan." Ucap Edward.
Setelah menunjukan kamarnya, Edward membawa Chirsty kekamarnya dulu kala. Christy melihat-lihat piala-piala yang berjejer di lemari.
"Pria ini ternyata sangat berprestasi, banyak sekali piala-piala kemenangannya." Ucap Christy dalam hati.
Christy sibuk melihat pernak-pernik yang ada di kamar Edward, sementara Edward sibuk membaca dan membalas email dari Yuri untuk mengirimkan jawaban notulen hasil meeting hari ini.
Christy mengambil sebuah bingkai yang memotret keakraban Edward dengan seorang gadis belia.
"Siapa ini ?" Tanya Christy lagi.
"Apa ini cinta pertamanya?' pikir Christy lalu memutuskan bertanya kepadanya.
"ini siapa ?" tanya christy seraya menunjukan bingkai foto itu.
Edward yang sedang serius dengan Tabletnya mengalihkan pandangannya ke bingkai yang ada di tangan Christy, lalu sedikit terkejut.
Edward mengambil bingkai foto itu dari tangan Christy. Lalu memandanginya dalam-dalam dan mengehela nafas kemudian menaruh bingkai itu di dalam laci mejanya dan menguncinya.
Edward menarik tangan Christy untuk keluar dari kamarnya. "Ayo Mama pasti sudah menunggu kita". Ucap Edward.
Christy menarik tangannya dari genggaman Edward, dan berhenti berjalan. "Mengapa kau tidak ingin mengatakan siapa dia?" tanya Christy.
"Apa dia kekasihmu dulu, mengapa kau masih menyimpan fotonya selama ini?" tanya Chirsty.
"Jika kau masih belum bisa melupakannya, lalu untuk apa kau mengejarku ?" tanya Chirsty dengan kesal seraya meninggalkan Edward yang masih saja terdiam tidak menjawab.
"Christy." Panggil Edward dan meraih pergelangan tangan Christy.
"Dia adalah adik sepupuku." Jawab Edward.
"Saat ini dia sedang terbaring koma." jelas Edward lagi.
Mendengar penjelasan Edward kekesalan Christy sedikit melunak. "Dia koma, karena apa ?" tanya Christy.
"Dia mengalami Kkcelakaan mobil." Jawab Edward
"Mobil yang dia kendarai jatuh ke dalam jurang, dan sejak saat itu dia pun Koma sampai saat ini." Cerita Edward lagi dengan sendu