Sebagai Tuan Rumah, Eric tentu saja bersopan santun. "Silahkan masuk Tuan". Ucap Eric Xie
"Kami sedang sarapan bersama, apakah kau ingin bergabung dengan kami". Ajak Eric.
Alis Edward Gu meninggi, "Christy memasak untuknya ?" tanya Edward dalam hati.
"Tentu saja Tuan, maaf telah merepotkan". Edward menerima tawaran Eric
"Kalau begitu silahkan masuk". Ucap Eric.
Edward pun ikut masuk pergi ke dapur rumah Eric Xie. Christy mengambilkan semangkuk bubur lagi untuk diberikan kepada Edward. Edward melihat Christy sudah sangat hafal dengan keadaan dapur rumah Eric Xie. Sedari kecil menghabiskan waktu disini sudah tentu Christymhafal setiap bagian rumah ini.
Christy memberikan mangkuk bubur buatannya kepada Edward. Tiba-tiba Edward berdiri , membuka jas nya lalu menutupi tubuh christy. Melihat dia memasak untuk laki-laki lain saja sudah membuatnya kesal setengah mati, apalagi membiarkan laki-laki lain memandangi tubuh Christy, sungguh Edward tidak ingin berbagi.
"Eeh, ini apa. Eem. Tuan". Ucap Christy kebingunggan.
"Pakailah itu, jangan di lepas. Bajumu terlalu tipis. Nanti bisa-bisa kau terkena flu dan sakit". Ucap Edward memberikan perhatiannya.
"Isssh". Ucap Christy sambil memanyunkan bibirnya.
Eric memperhatikani interkasi dua sejoli ini dengan pandangan tidak senang. Lalu teringat kejadian waktu mereka bertemu pertama kali.
"Apakah luka-lukamu tidak meninggalkan bekas Tuan?". Tanya Edward.
Edward menyadari Eric sedang menanyakan kejadian ketika di Apartemen Christy.
"Ya tentu saja, pengobatan sekarang sudah sangat maju hanya luka kecil saja bukan sebuah masalah". Jawab Edward.
Christy mengernyitkan alisnya. "luka apa, siapa yang terluka, dan kau mengapa bisa mengetahuinya ?" tanya Chirsty kepada Eric.
"Apa kalian sudah saling mengenal lama ?" tanya Christy kepada Edward dan Eric.
Mendengar pertanyaan Christy, Eric merasa kaget, Apakah Chirsty tidak mengenali laki-laki yang duduk disebelahnya adalah pria yang ada di Apartemennya malam itu.
"Apakah pada saat itu Edward Gu hanyalah seorang pria asing saja ketika itu, pria asing yang sedang di tolong oleh Christy". Pikir Eric.
Christy memandangi Eric, dan menagih penjelasan. "Eheem". Eric Berdehem. Melihat Edward yang diam saja akhirnya Eric buka suara
"Chirsty bukankah kau yang paling tahu jelas, karena kau yang mengobati Tuan Edward waktu itu bukan, dimalam ketika aku mendatangimu ke Apartemenmu". Ucap Eric Xie.
Christy menatap Edward yang terdiam tanpa kata. "Pria ini, pria tanpa ucapan terima kasih waktu itu "? pikir Christy sambil mencoba mengingatnya.
"Apakah benar yang dikatakan Eric Tuan Edward ?" tanya Christy Serius.
"Eem". Edward mengangguk mengiyakan.
Christy segera berdiri dari kursinya. "Jadi selama ini kau mengenaliku". Tanya Christy sambil bersedekap.
"Pantas saja dia menempatkanku di posisi sekretaris padahal seharusnya aku hanya menempati posisi staff admin". Pikir Christy.
Christy begitu marah, di tambah lagi terkadang Edward suka menindas dan sewenang-wenang kepadanya. Mewajibkan Christy selalu patuh pada perintahnya.
Memimirkannya Christy benar-benar dibuat kesal olehnya. Menatap Edward dengan penuh rasa kacau, lalu pergi meninggalkan dua pria itu di dapur.
"Apa kau sedang mencoba memenangkan hatinya, Tuan Edward". Tanya Eric Xie. Edward hanya diam memandangi Eric dengan tatapan Provokasinya.
"Aku beritahu Tuan, Tidak akan mudah mengambil hatinya. Dia bukan orang yang dengan mudah memberikan hatinya, dan ketika dia sudah memberikan hatinya maka ia akan sulit melepas". Ucap Eric seakan-akan ingin menegaskan bahwa Christy masih sulit melepaskan dirinya.
"Bagaimana pun kami tumbuh bersama, jadi sedikit banyaknkau pasti paham dengan yang kukatakan". Ucap Eric lagi.
"Apa menurutmu aku akan mendengarkan pria pecundang sepertimu yang bahkan tidak bisa membedakan mana berlian dan mana sampah". Ucap Edward merendahkan.
"Percayalah Christy akan menjadi wanitaku, karena aku menginginkannya". Ucap Edward dengan tegas.