“Teteh harus membantu Aa agar sembuh dari trauma,” ujar Aisha ketika Kania tengah asik dengan lembar demi lembar foto sang suami. Saking asiknya, dia tidak menyadari lelaki dengan tinggi badan hampir 170 cm itu sudah tidak ada di ruang yang sama. “Lho, trauma apa? Aa mana?” mata Kania menyapu seluruh ruangan dia hanya mendapati pintu yang terbuka setengahnya. Dengan berat hati Aisha beranjak untuk menutup pintu tersebut. Perempuan berambut ikal ini khawatir rahasia sang ini akan terbongkar. Sementara selama ini kedua orang tuanya tahu bahwa Fawwaz sudah baik-baik saja. Kania masih diliputi kebingungan. Dia menelisik seraut wajah Aisha juga berkali-kali melihat ke arah pintu, berharap Fawwaz kembali. Kemudian menguraikan semua tanda tanya yang mengisi kepala Kania. Sek

