"Za ...." "Hmm ...." Pria yang duduk di sebelahnya bergumam pelan. Ia menegak air mineral dalam dari dalam botol. Crisy hanya menoleh sekilas lalu kembali melempar pandangan ke arah sekumpulan orang yang sedang senam pagi. "Apa menurutmu aku harus ke psikiater?" Raiza menyeka tetesan air yang tertinggal di sudut bibir. Ia pun menoleh. Menatap Crisy yang memandang bimbang ke arah depan. Kakinya diluruskan membiarkan darah mengalir dengan bebas di urat nadi setelah tadi lari mengitari taman. Pria itu tersenyum. Tangannya terulur menyentuh pucuk kepala sang istri membuat wanita itu menoleh. "Jika menurutmu itu yang terbaik, aku akan carikan dokter terbaik untukmu dan mendampingimu berkonsultasi." Semua tindakan dan ucapan Raiza selalu membuat Crisy tersentuh. Ia menatap suaminya tanpa ke

