Belajar di rumah

866 Kata
"Kok lo gak pernah cerita sih?" tanya Cindy ketika mereka berdua kembali ke kelas. "Gak penting, lah. Gue bukan seleb yang semua orang harus tau tentang gue" jelas Zee Sesampai di kelas, teman-temannya sudah berkumpul. Agaknya mereka sudah tahu. Mungkin tadi sebagian ada yang sudah mendengar. "Pantes gue sering ngeliatin kak Novri dan kak Randy ngeliatin lo dari jauh" kata Bimo. Gue pikir mereka naksir elo. Ternyata mereka ngawasin elo" Bimo tertawa. "Kayak di film action" lanjut Bimo "Asik banget kali ya Zee, punya abang keren-keren gitu" kata Mona Zee tertawa. "Dulu, waktu kecil, mereka berdua paling bawel, paling cerewet. Heran cowok ribet amat" kata Zee tertawa "Tapi setelah udah gedean, baru gue mikir. Iya, gue dulu bandel banget, pantes mereka dulu galak banget sama gue" kata Zee tertawa lagi. "Tapi lo kok gak akrab sama mereka ya?" tanya Pandu Zee ketawa. "Iya, mereka gak mau kelihatan ngelindungin gue. Dan juga mereka pengen lihat gue mandiri. Gue udah gede kali. Bukan anak SD yang suka digendong sama mereka" kata Zee tertawa "Zee, lo gak mau ikutan seleksi pengurus OSIS?" tanya Cindy mengalihakan perhatian. "Kan biar lo bisa deket juga sama abang lo" kata Cindy. Padahal Cindy yang kepingin agar bisa bareng sama Zee. Zee menatap Cindy. "Gue punya dua abang, Cin. Novri, ada hubungan darah sama gue. Dan Randy yang gak ada hubungan darah. Namun ironisnya, gue sama kayak Randy. Gak mau ribet." Zee tertawa. "Trus lo gak pernah naksir mereka, Zee?" tanya Mona kepo Zee ketawa. "Gak. Gue anak tunggal, gue gak punya abang ataupun adik. Jadi mereka udah kayak abang kandung gue. Makanya gue bilang, korslet kalau mereka naksir gue. Lagian gue tau kok type cewek yang mereka suka" kata Zee tersenyum "Kayak apa?" tanya Cindy dan Mona bersamaan Zee cuma tertawa. Kalau udah begitu, Zee gak bakal mau bersuara, ngasih tau.  ***** Pulang sekolah, Randy menuggu Zee dan Cindy. Bertiga mereka berjalan menuju rumah Zee. Sedangkan Novri dan Brian sedang rapat OSIS. Zee mencoba memahami pelajaran dari catatan Cindy. Beberapa kali Zee bertanya, Cindy dan Randy bergantian menjawab. Zee mencoba mengerjakan PR. Randy melihat PRnya dan tersenyum. "Lumayanlah" kata Randy. "Kira-kira nilai berapa?" tanya Zee "Tiga puluh" kata Randy asal-asalan Zee melempar bantal kursi kearah Randy. Cindy mengambil buku Zee, rasanya gak mungkin Zee dapat nilai segitu.  "Ih, kak Randy.. iseng banget" kata Cindy "Jadinya berapa, Cin?" tanya Zee "Dua puluh" kata Cindy tertawa, diikuti Randy. Zee melempar bantal kursi kearah Cindy. "Ampun Zee, udah banyak yang bener. Gue gak berani ngasih bener semua, secara soalnya sama. Elo kan harus kerjain sendiri. Besok lo kumpulin deh PRnya" kata Cindy sambil tertawa. Zee mengambil bukunya. "Kak, ajarin lagi" kata Zee merayu Randy. "Gak mau" kata Randy. ***** Rapat OSIS sudah selesai. Novri dan Brian berjalan kerumahnya. "Sorry ya, Nov jadi ngelibatin elo" kata Brian "Gak apa-apa. Gue juga seneng kok. Minimal gue pulang kerumah kondisi gue udah fit. Kalau kemalamen gue nginep ya" kata Novri. Brian mengangguk. "Kayaknya Randy perlu tau deh" usul Brian "Gue juga mikir gitu." kata Novri. "Kayaknya Zee juga punya pikiran yang sama, makanya dia ajak Randy kerumah. Brian manggut-manggut. ***** Randy berjalan menuju dapur, dilihat ada mbok. Mbok tergagap melihat Randy. Tadi Zee sempat membisiki, bahwa teman-temannya hanya tau disini tinggal hanya Zee dan Novri bukan Brian, jadi mbok harus lebih ramah sama Novri. Dan pura-pura gak kenal Brian. "Ya, mas?" tanya mbok "Saya mau bikin kopi, mbok. Bentar lagi Novri dan Brian dateng" kata Randy "Biar mbok yang bikin, mas" kata mbok "Gak perlu mbok, saya aja yang bikin" kata Randy. Randy memasak air. Zee mendatangi Randy. "Bikin apa, kak?" "Kopi" jawab Randy "Widih, barista. Cin, lo mau kopi?" tanya Zee "Gue gak suka kopi" teriak Cindy Zee tertawa "Bikinin satu buat Cindy kak, yang paling enak" kata Zee mengedipkan mata. Randy tersenyum. Novri masuk rumah duluan, karena melihat sepatu Cindy dan Randy masih ada di depan.  Melihat Cindy, Novri bertanya Zee dan Randy dimana. "Dapur, katanya bikin kopi" jawab Cindy cuek. Novri bergegas ke dapur "Woasik, barista beraksi" kata Novri. Brian duduk di ruang tamu. Pura-pura sebagai tamu. Cindy gugup melihat Brian ada didepannya. Cowok idola ada didepannya, sepertinya mimpi banget. Brian pura-pura asik dengan HPnya. Zee keluar dan cemberut melihat Brian. "Ngapain lo?" tanya Zee pura-pura jutek Novri menjitak kepala Zee. Zee teriak, Brian tertawa dalam hati. "Yang sopan, ama temen gue" kata Novri santai. "Masalah lo berdua, bukan urusan gue. Dia sahabat gue, jadi sah aja kalau dia main kesini" kata Novri santai sambil makan cemilan di meja. "Dih, maen asal ambil aja. Cindy tuh yang beli" kata Zee menepis tangan Novri "Ikhlas gak Cin?" tanya Novri sambil menyuap kue kemulutnya Cindy tertawa sambil mengangguk. Randy datang membawa teko berisi kopi panas. Mbok membawa beberapa gelas kosong. Randy menuangkan kopi ke gelas, dan memberikan pada Cindy. Cindy menolak halus. "Cobain Cin, kalau gak enak, gak usah diterusin" kata Zee tertawa. Cindy mengambil gelas dari tangan Randy dan menutup matanya mencoba meminum kopi.  Rasa manis, pahit, asem, bercampur jadi satu. Dan nikmat. Mata Cindy terbuka. Randy tertawa melihat ekspresi Cindy.  Tangannya menuangkan kopi ke beberapa gelas. Zee memanggil mbok untuk mencicipi kopi bikininan Randy. 'Mbok, nanti kalau bikin kopi begini ya" kata Cindy tertawa. Mbok mengangguk
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN