Gue tau kok...

894 Kata
Randy menerima pesanan makanan-makanan kecil dari ojek online. Menikmati kopi sambil makan cemilan, sesuatu yang nikmat. Cindy mulai menikmati minum kopi pertamanya, gak lama HPnya berdering. Cindy mengangkat telepon.  "Zee, gue harus pulang, nih babang ojek udah ngajak pulang bareng, kangen kayaknya" katanya tertawa. Zee tertawa dan mengangguk. "Makasih ya, gue udah diajarin" kata Zee memeluk Cindy. Cindy tertawa.  "Lebay banget lo, pake meluk segala" kata Cindy.  "Hati-hati ya, Cin" kata Zee mengantarkan Cindy ke depan rumah. Para lelaki masih sibuk dengan kopi dan cemilan. Zee masuk kedalam rumah, ketika Cindy sudah menghilang dari pandangannya. Ketiga laki-laki ada dihadapannya. "Ran, gue mau ngomong sama elo" kata Novri membuka percakapan "Kayaknya gue bisa nebak" kata Randy tersenyum "Serius?" tanya Zee "Lo lupa, kalo gue tetangga lo?" tanya Randy terkekeh. "Gue sempet lihat Novri dateng ke rumah Zee, gak lama Brian dateng kerumah Zee bareng orang tuanya. Gue paham kok, kenapa kalian gak ngundang gue. Karena memang untuk keluarga aja." kata Randy tersenyum "Sorry ya Ran" kata Novri Randy mengangguk. "Dan rumah ini, rumah Brian dan Zee. Untuk menutupinya, Novri harus pura-pura tinggal disini" lanjut Randy lagi tersenyum. "Gak jadi masalah kalau cuma Brian yang dateng. Tapi masalah akan ada ketika Cindy dateng. Cindy akan sering main kesini, masak iya nanti Brian yang nganterin Cindy pulang. Dan gak mungkin juga Novri nganter Cindy. Kan anak-anak taunya Novri dan Zee yang disini" "Ini baru, abang gue, cerdas" kata Zee tergelak "Makanya tadi Zee ngajak gue main, padahal Zee cuma kepengen gue jadi ojek langganannya Cindy" kata Randy ketawa "Sok menderita lo" kata Zee ketawa "Padahal lo senengkan, bisa nganter Cindy" kata Zee lagi. "Emang gue gak tau, lo suka ngelirik Cindy" kata Zee lagi ngakak. Brian tersenyum lega.  "Zee, walaupun orang gak tau, Brian itu suami lo, tapi becanda lo di kontrol ya" kata Randy. "Iya, kayak tadi, tiba-tiba nongol dari dapur, nanya, mau ngapain lo kesini" kata Novri ketawa "Coba kalau Brian jawab, mau nyium elo, elo bini gue. Mau apa lo?" goda Novri lagi. Zee tertawa. "Maaf ya kak Bi" kata Zee manja "Perasaan kesalahan Zee waktu itu, belum kebales kan ya?" tanya Randy menggoda. "Apaan sih" kata Zee memanas. "Hukum aja, tuh bocah. Lo cium sampe gak bisa nafas" kata Novri tertawa "Dih, gak perlu didepan lo semua kali" protes Zee sewot. Tiba-tiba Zee dikagetkan oleh Brian yang mengecup pipinya. Novri dan Randy tertawa. Zee mencubit Brian "malu" katanya. "Zee, gue rasa dari dikantin tadi, Brian pengen banget nyium elo" kata Novri. "Cuma harus ditahan. Eh, sampe sini, ada Cindy" Novri ketawa lagi. "Temenlo jangan sering-sering kesini, Zee. Lo kan butuh privacy sama Brian." nasehat Randy. "Kalau gue, Novri, kalian cuekin aja deh, kita bisa cari kesibukan sendiri." lanjut Randy lagi. Zee mengangguk. Zee bersyukur, mempunyai orang-orang yang perhatian padanya ***** Novri dan Randy sudah pulang. Brian merangkul Zee yang sedang belajar. Pipi Zee diciumin sampai Zee tertawa geli. Brian kangen banget sama Zee. "Ini kangen sama Bianca ya?" tanyanya Brian gak menjawab pertanyaan Zee, bibirnya terus mencium pipi Zee. Zee tersenyum manja dan mendekatkan badannya pada d**a Brian. "Sudah sampai mana, belajarnya?" tanya Brian melihat buku yang dipegang Zee "Ish, tinggal baca aja sih" kata Zee merengut Brian tertawa. "PRnya udah semua?" tanyanya lagi. "Udah" jawab Zee manja "Eh iya, aku lupa ngasih tau" kata Zee "Ada apa?" tanya Brian "Aku ikut turnamen minggu depan" kata Zee "Turnamen apa?" "Tae kwon do antar SLTA se provinsi" Brian membalikkan badan Zee. "Kamu atlit?" Zee mengangguk. Brian mengingat, ada 2 piala tae kwon do sejak dia menjadi OSIS. Namun siapa yang juara, Brian tidak pernah tahu. Sepertinya hanya kepala sekolah dan pembina OSIS yang tahu. "Piala tae kwon do di sekolah?" tanya Brian "Iya, kak Bi, itu aku. Tapi kak Bi, kan tau, aku bukan orang yang suka publikasi, sehingga aku hanya kasih ke kepala sekolah atau pembina OSIS aja. Aku mohon jangan diumumin" "Kenapa kamu gak suka publikasi?" "Aku gak suka jadi orang ngetop" lalu Zee tertawa "Belum tentu aku ngetop sih" Brian memeluk Zee. "Jadi orang ngetop itu gak enak. Kak Bi pasti ngerasain, tiap hari ada aja orang yang kepo" Brian mengangguk. 'Zee, kalau tournament nanti aku gak dateng, gak apa-apa?" tanya Brian hati-hati "Gak apa-apa. Kak Bi kan lagi sibuk ngurusin baksos bareng kak Opi, belum lagi seleksi jadi pengurus OSIS" kata Zee "Kamu beneran gak mau ikut seleksi?" tanya Brian "Novri jagoin kamu loh" Zee menggeleng. "Jadi OSIS itu capek, kak. Kak Bi aja yang sibuk. Aku nyiapin keperluan kak Bi. Kalau aku sibuk, nanti yang nyiapin keperluan kak Bi, siapa. Masak sih harus mbok" jelas Zee. Brian kembali mencium pipi Zee "Kamu itu, masih muda, tengil, tapi omongannya banyak benernya" kata Brian sambil menjawil hidung Zee. Zee tertawa berbalik dan merangkul suaminya. Kali ini Zee mencium pipi Brian. Membuat Brian terkejut. Wajah Brian tersipu malu. Zee tertawa lalu badannya kembali membelakangi Brian. Melihat leher Zee seperti menggoda, Brian mencium leher Zee sampai gadis itu teriak kegelian. "Kak Bi..." tiba-tiba Zee berbalik dan inget sesuatu. Tapi Brian malah semakin ganas menciumnya. Tangan Zee berusaha menyetop bibir Brian. Brian menangkap tangan Zee, lalu bibirnya mencium bibir Zee. "Kak Bi...." rengek Zee.  "Iya" Brian menjawab di kuping Zee. Zee teriak geli "Ish, serius, aku mau ngomong" "Ya udah, ngomong aja" kata Brian lagi sambil mengigit kuping Zee pelan "Geli" kata Zee tertawa "Jadi cuma mau bilang, geli?" kata Brian mencium bibir Zee
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN