Luv you...

887 Kata
"Bukaaaaan" sambil tertawa Zee berusaha menghindar sergapan Brian. "Kak Bi, serius dulu" "Ya udah, sini, dipangku" kata Brian menepuk pahanya. Zee tertawa dan duduk dipangku Brian. "Salah. Ngadep sini" kata Brian memutar badan Zee. Zee membalikkan badannya duduk diatas paha Brian, dipangku, dan wajah mereka dekat sekali. Zee tertunduk malu. "Mau ngomong apa, sayang?" kata Brian mencium bibir Zee "Gimana mau ngomong kalau diciumin terus" kata Zee berusaha menjauh. Brian menarik badan Zee dan memeluknya. "Aku tuh kangen banget sama kamu" kata Brian. Zee mengangguk "Kak Bi, aku kepikiran mau pake jilbab" kata Zee Brian melihat kearah mata Zee. "Alhamdulillah" kata Brian sambil mencium kening Zee "Tugas aku sebagai suami, menjadi lebih ringan" kata Brian. "Nanti kita beli seragam dan pakaian yang panjang-panjang ya" kata Brian. "Kita belanja bareng Bianca, biar Bianca juga mau pake jilbab. Pasti kalian cantik banget" kata Brian memeluk Zee. Zee memeluk pinggang Brian. Brian mencium leher Zee yang terpampang persis didekat bibirnya. Zee terdiam. Brian melihat ke mata Zee. Rupanya Zee sudah tertidur. 'Cepet banget, udah molor aja' kata Brian tertawa. Brian menggendong Zee ke tempat tidur, dan meletakkannya dengan hati-hati. Zee sedikit membuka mata dan kembali memeluk Brian. Brian mengamati wajah Zee. Dirinya tidak pernah menyangka akan bisa menjadi suami Zee. Dan ternyata Zee itu manja banget. Beda dengan Zee yang Brian kenal. Pantas saja, Randy dan Novri selalu menyalahkannya. Mereka berdua sangat kenal Zee. Dan Zee bukan orang yang suka mengumbar kemanjaannya di depan orang-orang. Hanya orang-orang tertentu. ***** Pagi hari. Zee bangun duluan dibanding Brian. Zee mengecup pipi Brian dan mengamati kakak kelasnya yang jadi idola kampus. "Kak Bi, bangun, udah mau shubuh" kata Zee lembut Brian menarik leher Zee dan mengajaknya tidur kembali. Zee terkejut, spontan mengambil guling "Shubuh kak Bi. Bangun" kata Zee sambil memukul Brian dengan guling "Jahat banget sih" kata Brian mengucek mata. "Habisnya, malah mau ngajak bobo lagi. Emangnya kurang?" tanya Zee sambil memonyongkan bibirnya "Gak akan pernah puas, Zee" kata Brian sambil mengecup bibir Zee yang monyong "Issssh... bandel" katanya dengan wajah merah. Brian tertawa melihat wajah Zee yang memerah. Brian mendekati kuping Zee dan mengatakan "Luv you" dengan lembut dan mencium telinga Zee. Zee terkesiap. Wajahnya memerah, jantungnya berdebar. 'Brian beneran mencintainya?' dalam hatinya heran. Detik berikutnya dia merasa t***l, 'ya kalau gak cinta, ngapain dari kemarin Brian cium-cium dia' Zee tertawa sambil merapihkan tempat tidur. Zee menyiapkan seragam Brian dan Zee. Lalu Zee ke dapur menyiapkan sarapan. Zee rencanananya mau buat roti bakar. Dengan sigap, Zee meracik topping dan membakar roti. Wangi harum menebar ke seisi rumah ***** Brian mengajak Bianca belanja. Adiknya menjerit senang. Bianca dan Zee asik memilih gamis dan jilbab. Bianca juga tertarik pakai jilbab, model jilbab dan gamis yang terpampang membuat kedua perempuan kesayangan Brian asik dan melupakannya. "Ini gimana?' tanya Zee. 'O tidak, ternyata istrinya tidak melupakannya' Brian menatap Zee. Gamis berwarna biru tua, dengan list silver. Sederhana. Tidak banyak pernak-pernik. Jilbabnya berwarna biru tua. Kontras dengan kulit Zee yang putih. Brian mengangguk. Setelah puas belanja seragam sekolah, 3 set gamis dan jilbab. Zee menarik tangan Brian untuk mencari makan. Bianca juga membeli 3 set gamis dan jilbab serta seragam. Hanya bedanya model yang dipilih Bianca, anak-anak dan ceria. Rasa lapar memang menyelimuti perut Brian, namun dirinya tidak tega meninggalkan Bianca dan Zee belanja. Ketiganya memilih foodcourt. Zee dan Bianca makan cukup banyak. Rupanya energi mereka banyak terkuras untuk belanja. "Belanjanya udah? Tanya Brian disela-sela makan. Zee dan Bianca mengangguk. "Serius?" Tanya Brian lagi. Kedua perempuan itu mengangguk. "Kalian masih memilih pakaian rumah. Belum ada yang kepikiran  kalau mama papa ajak ke pesta pernikahan atau ulangtahun" Brian menjelaskan.  Bianca dan Zee berpandangan. "Dan kalian hanya memilih luaran. Kalian belum membeli legging atau celana panjang untuk dalaman" tambah Brian lagi. Zee dan Bianca tertawa. Yang mau pakai jilbab aja ga kepikiran. "OK bos, habis ini kita belanja lagi, ya" kata Bianca. "Kak Bi, untuk baju pesta, kak Bi yang pilihin ya" kata Zee. Mendengar hal itu, Bianca ikut minta dipilihkan. Akhirnya Brian mengangguk. Selesai makan, Brian mengajak kedua perempuan yang dicintainya itu kebagian pakaian pesta. Brian memilih abaya untuk Zee. Walau sederhana tidak banyak pernak-pernik. Namun berkesan mewah. "Warna hitam, ya Zee?" Tanya Brian. Zee mengangguk. "Satu lagi, mau maroon ga?" tanya Brian menunjuk satu gaun yang manis. Zee melihat gaun tersebut, kemudian mengangguk. Untuk Bianca, Brian memilih pakaian dari bahan satin dan dengan kombinasi warna yang terlihat mewah. Kalau Bianca mendapatkan 2 set pakaian dan jilbab. Sedangkan Zee hanya 2 abaya. Brian menarik tangan Zee dan Bianca ke tempat khusus jilbab. Berbagai jilbab berkesan mewah ada dihadapannya. Zee memilih jilbab warna hitam dan maroon sesuai abaya yang dibelinya. Zee mencoba abaya dipadu dengan jilbab tersebut. Brian setuju dengan pilihan Zee. "Zee, jilbab untuk olahraga jangan lupa" Brian mengingatkan. Zee mengangguk. Zee memilih model bergo untuk olah raga. Bianca pun ikutan memilih. "Tinggal legging" seru Bianca sudah lelah. "Terserah kalian mau beli lusinan satu warna, atau sesuai dengan gamis yang kalian beli." Bianca dan Zee saling berpandangan. 'Simple sih kalau beli lusinan. Tapi nanti ga tau mana yang sudah dipakai, mana yang belum' pikir Zee. Mereka menuju toko-toko menjual legging atau celana panjang khusus gamis. Ternyata ada lusinan dan dengan warna yang bermacam-macam. Zee dan Bianca sepakat membeli satu lusin saja. Nanti mereka bagi dua. Ukuran mereka pun ga jauh berbeda.  Setelah puas berbelanja mereka pun pulang
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN