Punya dua abang

763 Kata
"Perhatian semuanya" kata Novri tiba-tiba.  "Semua yang disini gue traktir" kata Novri disambut riuh gembira.  "Tapi sebelumnya, dengerin gue mau pidato. Itung-itung latihan buat sambutan baksos" katanya sambil tertawa. Seisi kantin langsung fokus kepada Novri. "Gue sama Zee itu saudaraan" kata Novri tertawa melihat Zee. Satu kantin berseru heran. "Gak mungkin" sergah Delon "Buktinya, elo nyentuh Zee, dihajarkan? Kalau gue nyentuh dia, dia malah bermanja-manja sama gue. Gue tuh abangnya" jelas Novri terkekeh. Brian pura-pura tidak peduli dan menikmati makanannya. "Gini, dengerin ya semua. Ibunya Zee dan ibu gue, adik kakak. Waktu gue SD, ibu gue meninggal. Sama mama Widya, ibu Zee, gue diurus. Karena bokap gue saat itu melampiaskan kesedihannya dengan kerja, gue gak keurus. Bokap gue cuma mikirin kerja dan kerja, saat itu. Gue dan bokap gue, kehilangan perempuan yang kita sayangin." "Gue sahabatnya Novri waktu SD" Randy tiba-tiba muncul dan mendekati Novri. "Gue juga tetangga Zee. Novri masuk sekolah gue dan Zee waktu gue kelas dua SD. Gue sekelas sama Novri. Novri tinggal dirumah Zee sampai kelas enam SD." "Yup, bener banget. Gue pindah ke sekolah Zee dan menjadi sahabatnya Randy sampai kelas enam" Novri merangkul Randy dan tersenyum. Brian terperangah, tidak menyangka ada kisah tak terduga. "Waktu SMP gue balik lagi ke rumah gue, karena bokap gue menyadari, dengan dia fokus kekerjaannya, dia jadi kehilangan dua orang, yaitu nyokap gue dan gue. Akhirnya selama SMP gue banyak menghabiskan waktu bersama bokap gue." jelas Novri "Karena gue sama Novri beda SMP dan Novri juga kembali kerumahnya, persahabatan gue jadi renggang. Kita ketemu lagi di SMA ini, namun beda kelas, dan kita jarang ngobrol" lanjut Randy. "Selama Zee masuk SMA ini, gue ngawasin Zee dari jauh. Karena gue yakin Zee cewek yang tough, bisa ngatasin masalah. Sampai suatu hari, dia berhadapan sama sobat gue sendiri, Brian" kata Novri tertawa.  "Saat Zee dateng ke kelas gue, dan ngobrol sama Brian, gue langsung siaga, untuk menjaga Zee dari jauh. Tapi ternyata, bocah itu, lebih lihai dari perkiraan gue" kata Novri tertawa. Sepanjang Novri dan Randy ngomong, hanya Cindy yang mendengarkan dengan seksama, sedangkan Zee asik makan. Dia sebagai objek yang diobrolin, malah cuek. "Lo pernah naksir Zee?" tiba-tiba Brian bertanya pada Randy. Randy, Novri dan Zee tertawa. Zee berdiri, dan mendekati Brian "Otak dia belom korslet, kak" Brian menatap Zee yang ringan banget kalau ngomong. Kadang seperti gak dipikir. "Zee itu gue anggap adik gue" kata Randy. "Nyokap gue keguguran, padahal gue pengen banget punya adek perempuan. Beruntung ada Zee yang manja" kata Randy tertawa. "Dulu, Zee itu sering gue gendong" kata Randy tertawa. "Sekarang? gak mungkin gue nyentuh dia" "Bukan mahrom" celetuk Zee. "Betul, nasib gue bakal kayak Delon, kalau tiba-tiba gue nyentuh Zee. Berbeda dengan Novri, yang memang sepupunya" jelas Randy. Brian baru tau cerita sesungguhnya. Brian menatap Randy, pantas saja Randy seperti sangat mengenal Zee. Ternyata mereka akrab dari kecil. "Seperti Novri, gue juga jagain Zee dari jauh. Gue tau siapa aja yang jail sama Zee. Tapi seperti Novri, gue yakin, adik kecil gue ini, bisa skakmat orang" kata Randy tersenyum, "Nah, sekarang gue mau ngomong ke inti nih" kata Novri. "Bentar doang, abis itu kalian boleh pesen makanan dan makan puas-puas." kata Novri tersenyum. "Mama Widya tuh khawatir banget karena gue sering pulang malem. Nih, gara-gara bapak ini" Novri menunjuk Brian yang cengar-cengir.  "Rapat OSIS, rapat Baksos. Pulang sampe rumah, malem. Bokap gue bingung, trus ngadu ke orangtuanya Zee. Akhirnyaaaaa..... gue sama Zee disuruh tinggal dirumah yang gak jauh deket sekolah. So, kalau lo semua lihat gue barengan jalan sama Zee dari rumah yang sama, gak usah ada gosip yeeee" jelas Novri santai. Zee dan Brian tersenyum. "Sekarang udah bisa pesen nih?" tanya Reno cengar-cengir. Delon dan David sudah lebih dulu memesan, lalu mereka duduk bersama Brian, Novri dan Randy. "Pesen sepuaslo" kata Novri terkekeh. "Satu yang kudu diinget, Zee punya laki-laki keren sebagai ajudannya. Macem-macem sama Zee.... kiiiiik" Novri meletakkan tangannya dileher seperti orang yang sedang menebas. Zee tertawa melihat tingkah Novri. Seisi kantin mulai memesan makanan dan minuman. Zee mendatangi Novri dan Randy dan tentu saja Brian, David, Reno dan Delon yang juga duduk satu meja. "Kak Opi, lo pasti disandera lagi ya, ntar pulang sekolah?" tanya Zee seolah menyindir Brian. Brian pura-pura makan. "Kayak gak tau aja" goda Novri sambil tertawa, melirik Brian. "Kak Ran, pulang sekolah, main kerumah gue yuk. Rumah baru. Ntar pulang sekolah, Cindy mau kerumah, ngajarin dan nemenin bikin PR. Kali aja kalau Cindy Give up, lo bisa ngajarin gue juga" ajak Cindy ke Randy.  Randy menatap Novri dan Brian.  "OK" katanya sambil tersenyum "Gue kangen godain adek gue" kata Randy tertawa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN