Sekolah lagi

882 Kata
Zee tersenyum "Gak apa-apa, ma. Zee harus bisa melawan alergi ini" kata Zee lirih. "Gak perlu, Zee cuma bikin kamu sengsara" jawab Brian "Udang kan makanan kesenangan kak Bi. Kalau aku gak lawan alergiku, nanti aku gak bisa masakin buat kak Bi" jawab Zee gemetar.  Dirinya sendiri sangsi apakah bisa melawan alerginya itu, Brian memeluk Zee. "Gak usah dipaksa ya, Zee"  Brian mengelus kepala Zee lembut. Zee terdiam, tidak mengangguk atau menggeleng. Meira tersenyum melihat Zee. Sejak kecil, Zee walau anak tunggal, dididik mandiri oleh kedua orang tuanya. Mereka memang sepakat menjodohkan anak mereka. Maka ketika Zee lahir, disusunlah rencana. Mereka akan menyekolahkan Brian dan Zee di SMA yang sama, dan biarkan mereka mengenal secara alami. Sebenarnya waktu kecil, mereka pernah beberapa kali bertemu, namun Zee lebih suka membaca daripada bermain dengan Brian. Setiap diajak ketempat Slamet, Brian selalu menolak karena merasa tidak ada teman.  Sampai akhirnya Bianca lahir dan hanya Bianca yang sering diajak kerumah Slamet. Sedangkan Brian lebih sering bertemu Slamet di kantor. Brian menelepon Novri. "Wah, penganten baru, baru juga sehari, udah telepon gue. Butuh bantuan apa?" tanya Novri terkekeh "Persis seperti adiknya, gak suka basa-basi" gerutu Brian "Adik gue baik kan?" tanya Novri tertawa "Lo pikir gue penjahat" sergah Brian tertawa "Kapan lo pindah?" tanya Novri "Besok udah tinggal disana. Tadi baru beresin barang Zee. Rencananya besok gue bawa barang gue dan beberes lagi" jelas Brian "Oke, gue bawa barang gue beberapa ya, untuk ngisi kamar satunya" kata Novri tergelak Brian tertawa. "Emang gue izinin" kata Brian "Setidaknya ada ruangan untuk meeting antara ketua panitia baksos dan ketua OSIS" kata Novri tertawa. Brian tertawa menanggapi Novri. "Gue akan buat itu seolah kamar gue. Dan kamar lo berdua gue bilang kamar Zee, karena Zee adik gue. Simple kan?" jelas Novri membuat Brian mengangguk. Adik sama kakak, sama cerdasnya. ***** Tiga hari gak masuk sekolah, membuat Zee kelabakan. HPnya sengaja dimatikan agar Cindy tidak menghubunginya. Berbeda dengan Brian, Novri selalu menghubunginya untuk memberi tahu pelajaran dan PR. Zee sudah sampai sekolah. Cindy belum muncul. Zee menyalakan HPnya, ratusan missed call dilihat dari Cindy dan beberapa teman-teman sekolahnya. "Kemana aja lu?" tanya Pandu "Gue ada acara keluarga, susah sinyal, jadi HP gue matiin" jawab Zee pendek. Gak lama CIndy muncul dan terkejut melihat Zee sudah duduk dikelas. "Zee, kangen gue. Kok gak bareng sih, berangkatnya." rajuk Cindy. Zee menatap Cindy dengan perasaan bersalah. Namun dirinya juga gak mungkin bercerita yang sebenarnya. "Maafin gue Cin. Kemarin ada acara keluarga, sinyal parah abis. Gue matiin HP. Dan sekarang gue pindah, Cin" kata Zee pelan, menunduk. "Ha? kemana?" tanya Cindy "Gak jauh dari sekolah" jawab Zee "Ngekost?" tanya Cindy "Enggak. Mama khawatir kak Opi sering pulang malam karena ngurusin baksos, jadi Gue sama kak Opi nempatin rumah deket sekolah" jelas Zee "Tapi kan lo cuma sepupuan, gak takut kalau kak Novri macem-macem sama elo?" tanya Cindy "Ada mbok. Lagian kak Opi udah kayak abang gue." jelas Zee "Kak Novri sahabatnya kak Brian loh, nanti malah kak Brian sering main kesana" goda Cindy tiba-tiba membuat Zee batuk. 'Lo kenapa Zee?" tanya Cindy "Gak apa-apa. gue lagi kurang sehat" kata Zee pura-pura gak enak badan. 'Ah Cin.. seandainya lo tau yang sebenernya. Mungkin lo akan bunuh gue' batin Zee melihat Cindy yang sudah sibuk dengan bukunya. "Cin, pinjem catetan lo ya" "Ngapain pinjem? nih udah gue buatin catetan khusus buat elo" Kata Cindy memberikan beberapa buku tipis. Zee membuka buku-buku tersebut dan berteriak senang. "Tapi PR bikin sendiri" kata Cindy tertawa "Iya, PR bikin sendiri" jawab Zee senang. "Nanti sore gue babat abis." "Mau gue temenin?" tanya Cindy "Boleh" jawab Zee. Zee langsung mengambil HPnya dan chat ke Brian. 'Kak Bi, pulang sekolah Cindy mau kerumah, mau bantu aku ngerjain PR' Zee menunggu sesaat, tidak lama pesannya ada centang biru. Brian mengetik. 'OK. Aku nanti ada rapat. Kalau Cindy masih ada disana, aku minta Novri mampir kerumah' Zee tersenyum. Cindy melirik HP sahabatnya namun Zee cepat menyadari dan menutup obrolan "Gebetan ya? kok senyum?" tanya Cindy curiga "Gak, cuma ngasih tau, lo mau kerumah" jawab Zee "Oh, bilangin kak Novri, siapin makanan yang banyak" tawa Cindy "Dia rapat OSIS, jadi kita bebas gak diganggu dia" jelas Zee tertawa ***** Istirahat pertama,  Zee sudah kangen dengan masakan kantin Banyak makanan yang dipesan. Cindy geleng kepala melihat Zee yang persis seperti orang kelaparan. Brian masuk bersama Novri, David dan Delon. Keempatnya berpapasan dengan Zee yang baru saja memesan makanan.  Tangan jahil Novri mencubit pipi Zee dengan gemas. Zee cuma melotot kearah Novri. Yang dipelototin malah ketawa. Delon melihat heran kearah Zee. "Ada cowok pegang pipi elo, lo diem aja. Giliran gue, cuma pegang pundak elo, lo banting" Delon mendelik marah kepada Zee. Zee cuma melihat sekilas ke Delon lalu berjalan menuju bangku yang biasa dia tempati bersama Cindy. "Eh, gue ngomong sama elo ya" sedikit marah melihat kelakuan Zee yang cuek. Brian canggung, antara gak suka perlakuan Delon kepada Zee, namun dia gak bisa berkutik. Novri tersenyum, trus merangkul Delon.  "Ntar gue yang jelasin" kata Novri "Lo pacaran berdua?" tanya Delon. Zee berbalik dan memandang Delon. "Gue pacaran sama kak Opi?" tanya Zee ketawa "Otak kak Opi belom korslet" Zee tertawa ngakak. Novri menghampiri Zee dan mengacak-ngacak rambutnya. Delon makin heran melihat tingkah Novri dan Zee. Brian memilih tempat duduk tidak jauh dari Zee, agar dia bisa mengawasinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN