Packing

877 Kata
Brian tersenyum dan menyuap nasi goreng buatan Zee. "Lezat" Brian memuji.  "Bikinnya pake ini" bisik Widya menunjuk d**a Zee, maksudnya bikinnya pakai hati, pakai cinta. Zee tertunduk, wajahnya memerah. Brian tersenyum melihat Zee tersipu. "Kapan kalian pindah, agar papa bantu" tanya Slamet kepada Brian "Papa ngusir ya? udah gak sayang sama Zee" Zee pura-pura merajuk, membuat Brian semakin gemas.  Slamet mencubit pipi Zee. "Mau jawaban jujur?" goda Slamet "Gak mau, pasti nyakitin" kata Zee tertawa "Insya Allah nanti siang, kami mencicil pa. Zee hanya membawa pakaian sekolah dan sedikit pakaian rumahnya" jelas Brian. "Iya, jangan dibawa semua, sesekali nginep disini. Kami kan juga kangen sama kalian berdua." tiba-tiba Widya merasa sedih harus berpisah sama Zee. Untuk perlengkapan dapur, para mama sudah menyiapkan, jadi Zee tinggal pakai aja" jelas Widya. Zee terbelalak menatap mamanya. "Makasih, ma" Teriak Zee senang. "Warnanya apa, ma?" tanya Zee penasaran "Pink" jawab Brian tertawa. Slamet dan Widya juga tertawa melihat Brian. "Serius, ma, warna pink?" tanya Zee gak percaya "Jangan percaya sama Brian, syirik itu" goda Slamet. Zee menatap Brian dengan cemberut. ***** Zee menatap kamarnya, tidak lama lagi, dia akan jarang tidur dikamar ini. Brian mencium pipi Zee dan bertanya baju yang mana saja yang dimasukkan kedalam koper. Zee mengambil seragam SMAnya dan beberapa baju rumah serta piyamanya. Zee juga mengambil buku-bukunya dan dimasukkan kedalam kardus. Tidak banyak barang-barang Zee karena hanya barang yang penting saja. Nanti kalau ada yang kurang, Zee tinggal ambil saja. ***** Rumah milik keluarga Brian yang akan ditempati Brian dan Zee terletak gak jauh dari sekolah mereka.  Hanya berjalan kaki. Rumahnya tidak terlalu luas namun halamannya yang luas. Cukup untuk empat mobil. Rumah itu memiliki dua kamar tidur yang besar, satu kamar kecil untuk pembantu dan empat kamar mandi. Masing-masing kamar punya kamar mandi. Sedangkan dua kamar mandi lainnya, untuk tamu dan pembantu. Karena masih sekolah, orang tua Brian memberikan pembantu untuk membantu Zee mengurus rumah. Mbok mereka memanggil pembantunya. Mbok sudah ada dirumah itu ketika Brian dan Zee datang. Zee meminta mbok membantunya membersihkan rumah dan mencuci baju dengan mesin. Selebihnya Zee ingin mengerjakan sendiri, memasak dan menyetrika pakaian. Brian membantu Zee memasukkan pakaiannya kedalam lemari. Tiba-tiba Zee menjerit melihat lemari pakaiannya. Brian menoleh dan menatap Zee bingung. "Mama ngasih lingerie" jawab Zee sambil memegang satu dari beberapa lingerie yang tergantung disana. Brian terkekeh, matanya mulai menggoda Zee. "Isssshh..." Zee langsung mendorong Brian untuk menjauh. "Malem ini, pake ya?" goda Brian. Zee tertunduk malu. Gak kebayang dia harus mengenakan pakaian tidur yang tipis dan terbuka itu. "Bencanda" kata Brian menowel pipi Zee. "Simpan aja, sampai kita siap" perintah Brian sambil mengecup pipi Zee. Zee mengangguk. Tangannya menaruh lingerie kembali. Selesai menyusun pakaian dan buku. Brian berbaring dikasur. Brian menepuk kasur disisinya, memberi tanda Zee untuk tidur disampingnya. Dengan canggung, Zee mendekati Brian. "Dih, kok duduk. Baring, dong, sayang" kata Brian menggoda. Pipi Zee kembali memerah. Dengan kikuk Zee berbaring menatap Brian. "Mulai besok, kita pindah. Sore ini kita nginap dikamarku, dan besok kita tinggal disini" perintah Brian sambil mengelus kepala Zee. Zee terdiam. "Zee, kita sekolah berangkat sendiri-sendiri ya" Zee mendongak melihat Brian. "Bukan aku gak mau merhatiin istri aku. Tapi teman-teman kita kan gak tau, tentang ini. Hanya Novri yang tahu" jelas Brian. Zee mengangguk. Gak kebayang, derita apa yang akan dihadapinya jika para perempuan tahu, dirinya menikah dengan Brian, idola sekolahnya. "Kak Bi" panggil Zee lembut. Brian masih menatap dan mengelus kepala Zee. "Hm..." "Kamar yang satu kan kosong, kita minta kak Opi sesekali mampir ya" usul Zee sedikit ragu, disetujui oleh Brian. "Alasannya" tanya Brian tidak berubah ekspresi. "Kak Opi kan sahabat kak Bi. Kalau teman-teman pikir ini rumah Kak Opi, mereka anggap wajar kalau Kak Bi main kesini, begitu juga dengan aku" jelas Zee "OK, aku setuju, nanti aku hubungi Novri. Aku yakin, dia juga setuju" kata Brian tertawa. Karena Zee dan Brian belum belanja, maka mereka memutuskan untuk memesan makanan. Mbok ketika ditanya mau makan apa, jawaban khas "terserah" yang membuat mereka semakin bingung dalam memilih makanan ***** Sore hari, Brian dan Zee memasuki rumah Brian. Bianca yang sudah gak sabar, berlari ke depan menyambut abang dan kakak iparnya. "Kak, nginep kamarku ya" rengek Bianca kepada Zee. Meira menepis tangan Bianca. "Gak boleh." "huft" Bianca cemberut. Pipi tembamnya membuat Brian gemas. Ditarik adiknya lalu dicium dengan gemas. 'Kak Biiiiiii" teriak Bianca protes. "Ini pipi aku, bukan makanan" katanya setelah melepaskan diri. "Kamu setuju sama Bianca, Zee?" tanya Brian.  Zee menggeleng dan mendapat mata yang melotot dari Bianca. Dari dulu, Zee juga gemas dengan pipi Bianca. Ingin rasanya mencium seperti Brian tadi. Tapi Zee menyadari posisinya berbeda dengan Brian. "Kak Zee, jangan berpikir bisa mencium Bianca seperti kak Bi tadi ya... Bianca akan adukan ke pihak yang berwajib, Bianca mendapat perlakuan k*******n" ancam Bianca. Yang diancam malah tertawa ngakak. "Kak Bi, itu tandannya lampu hijau kan, ya?" tanya Zee usil. Brian mengangguk.  Secara kompak mereka memeluk dan mencium Bianca, Bianca berteriak mendapati dua orang yang menerkamnya. Meira tertawa melihat kejadian tersebut. "Makanya, gak usah iseng, Bianca. Udah tau punya abang dan kakak ipar juga jail" katanya sambil tertawa. "Mama masak apa? tanya Brian "Udang saos tiram" jawab mamanya. Brian teriak girang. Namun Zee malah gemetar. Brian melihat kearah Zee yang terdiam. Melihat Zee, Meira berteriak. "Aduh Zee,maaf, mama lupa, kamu alergi udang"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN