"Zee itu adik sepupu gue. Mama Widya adik nyokap gue. Nyokap gue udah meninggal, makanya gue manggil orang tua Zee, mama dan papa juga" jelas Novri sebelum melihat perang cemburu antara dia dan Brian
"Kenapa gak cerita" Brian melotot kepada Novri
"Lo gak nanya" gelak Novri "Makanya waktu Zee ke kelas pertama kali, gue tanya elo, mau hukum Zee seperti apa. Walaupun lo sahabat gue, gue tetep akan bela Zee, kalau dihukum keterlaluan sama elo"
Brian tertawa. "Ternyata, gak perlu dilapangan, sekarang dia bukan pacar gue lagi, malah jadi istri gue" kata Brian sambil tertawa.
"Nah, gue pernah bilang kan" ceplos Novri
"Bilang apa?"
"Apa ya?" kata Novri sambil tertawa
Brian tertawa "Brad, cuma elo aja yang tau ya. Lo paham, kan?"
Novri tertawa dan memberikan kode OK sambil mengedipkan mata
*****
Brian dan Zee izin tidak masuk selama tiga hari. Alasan mereka adalah ada acara keluarga yang harus mereka hadiri. Hanya Novri yang tahu, acara keluarganya itu adalah pernikahan Brian dan Zee.
Setelah menikah, Brian dan Zee merasa lelah. Keduanya masuk kedalam kamar. Zee dan Brian terlihat canggung. Mereka melihat tempat tidur Zee yang sudah dihias menjadi tempat tidur pengantin. Zee menatap Brian bingung.
Brian menarik tangan Zee untuk duduk dikasur. Zee menurut dan duduk disamping Brian.
"Gue...eh, aku mau jujur sama kamu" Brian membuka percakapan. "Terserah kamu mau tertawa atau mengejek, aku gak peduli" kata Brian lagi. Zee menunduk dirinya bingung. Lidahnya kelu.
"Aku jarang pacaran, dan kalau pacaran aku cuma cium pipi, gak lebih" jelas Brian, sedangkan Zee hanya diam menunggu kelanjutan kalimat Brian yang dianggapnya gak penting
"Jadi, sejujurnya, aku gak ngerti gimana harus bersikap sama kamu. Kamu jangan tersinggung atau merasa terabaikan ya"
Spontan Zee ngakak. Kalimat Brian menurutnya lucu, terabaikan? mungkin jika usia Zee lebih dewasa, Zee akan merasakan hal itu, tetapi sekarang? Zee masih 16 tahun.
Melihat istrinya tertawa, Brian tersenyum. Kepala Zee ditarik kedadanya. Zee terdiam, tiba-tiba ia merasakan ada gemuruh didadanya.
"kak... kak Bi..." kata Zee lirih.
"Ya" jawab Brian masih memeluk Zee. "Kita jalanin senatural aja ya, sesuai usia kita" mohon Zee. Zee gak kebayang kelanjutan hubungan romantis bersama Brian.
Brian mengangguk. "Iya, Zee. kita mengalir aja. Lagian kita masih sekolah kan" kata Brian
Zee mengangguk. Tangannya kini melingkarkan dipinggang Brian. Brian tersenyum.
Malam itu, mereka tidur seranjang, namun hanya berpegangan tangan. Mereka merasa belum perlu menikmati malam pertama. Karena mereka berdua belum paham, daripada nanti malam pertamanya gak indah, lebih baik ditunda, ketika keduanya sudah siap.
*****
Pagi hari, ketika bangun. Brian menatap wajah Zee yang polos. Manis. Brian mengecup pipi Zee. Zee membuka matanya dan tersenyum melihat Brian. Bibirnya mengucapkan selamat pagi dengan lembut.
Melihat bibir Zee bergerak, Brian memberanikan diri mengecup sejenak. Zee sedikit kaget. Brian tersenyum.
"bangun yuk, sebentar lagi shubuh. Aku mandi trus ke masjid ya." Zee mengangguk. sejujurnya, Zee merasakan ada getar nikmat ketika Brian mengecup bibirnya. Namun Zee malu mengakuinya.
Zee bangkit dari tempat tidurnya dan menuju dapur. Didapur Zee bertemu dengan Widya yang sedang menyiapkan sarapan.
"Eh, pengantin baru sudah bangun" cium mamanya. Zee terkekeh. "Kamu mau bikin apa, nak untuk Brian?" tanya mamanya.
Zee terdiam, dia gak tau Brian suka apa. Karena mereka kan gak pernah ngobrol. "Ngggg..." Zee sibuk mikir.
Tiba-tiba Brian masuk dapur. "Apapun kamu bikin, aku makan" kata Brian sambil mengecup pipi Zee yang memerah. "Aku ke masjid" Brian mencium tangan Widya "Ma, aku pergi dulu" Widya tersenyum melihat anak dan mantunya.
Zee mengulek bumbu lalu menceburkan dalam penggorengan yang sudah diberi mentega dan sedikit minyak zaitun. Tercium aroma bumbu, Zee lalu memasukkan nasi. Ya. Zee akan membuat nasi goreng untuk Brian.
Selesai mengaduk, azan shubuh berbunyi. Zee mematikan kompor dan bersiap untuk wudhu. Widya sudah lebih dahulu berada di ruang mushola dan mengerjakan sholat sunnah qolbiah Subuh. Zee masuk mushola lalu mengerjakan sholat sunnah juga.
Widya meminta Zee jadi imam. Kata Widya, belajar, nanti kalau punya anak. Zee akan mengajari anak mereka sholat. Zee bergidik "Gak secepat itu, Ma" kata Zee manja. Widya tertawa.
Zee menjadi imam. Zee baru hafal 1 juz, juz 30 itupun sudah membuat orang tuanya bangga. Zee tidak suka terburu-buru dalam menghafal.
Slamet dan Brian masuk kedalam rumah. Brian tercenung mendengar suara Zee ketika menjadi imam. Slamet tersenyum dan menepuk bahu Brian. Brian menoleh kepada Slamet yang mengajaknya ke meja makan.
Widya dan Zee baru selesai sholat. Zee merapihkan mukena dan sarung yang dipakai Widya. Widya menyiapkan makanan untuk Slamet. Zee mendatangi Brian dan mencium tangan Brian. Lalu Zee memberikan nasi goreng buatannya. Slamet melirik masakan Zee.
"Sepertinya papa harus melawan rasa cemburu papa nih" goda Slamet. Zee merengut mencubit lengan ayahnya.