Tidak lama lagi, kehidupannya akan berubah.
Zee menatap Cindy sahabatnya. Hatinya bimbang antara ingin memberitahu atau tidak. Akhirnya Zee memutuskan untuk tidak memberitahu Cindy dahulu.
Di mading ada pengumuman untuk kelas X yang tertarik mendaftarkan diri untuk seleksi pengurus OSIS. Cindy tertarik, dengan begitu dia bisa lebih dekat dengan Brian.
"Zee, ikutan seleksi untuk pengurus OSIS yuk" ajak Cindy di kantin.
"Gak tertarik" kata Zee
"Kenapa?" tanya Cindy. "Apa karena ada kak Brian?" tanya Cindy hati-hati.
"Bukan" jawab Zee
"Trus?" jawab Cindy
"Gue tuh gak terlalu suka ikut campur urusan orang. Nanti kalau di OSIS, ikutan razia, ikutan kepo kenapa ngelanggar, trus ngadu ke guru BP. Gak, gue gak suka kayak begitu" jelas Zee lagi
"OSIS kan gak cuma itu, kadang bikin acara baksos" jelas Cindy. "Peduli terhadap orang lain"
"Peduli terhadap orang lain, gak kudu jadi OSIS kan?" tanya Zee cuek
Brian dan Novri masuk ke kantin. Mata Zee dan mata Brian bertatapan, keduanya saling membuang muka. Novri melihat Zee tersenyum
"Hi, my girl yang jutek maksimal" sapa Novri sambil menowel pipi Zee. Brian melotot melihat calon istrinya dicolek sahabatnya. Zee malah cemberut dan gak protes.
"Tumben negor, ada apa?" serang Zee
"Anak pinter" puji Novri "Tauk aja, gue ada maunya"
"Cepetan" Zee melotot galak
"Lo ikutan seleksi pengurus OSIS ya" rayu Novri
"Ogah" jawab Zee
"Kenapa?" tanya Novri
"Lo tanya aja sama Cindy" jawab Zee
"Kok tanya Cindy?" tanya Brian
"Dia tadi juga ngajakin, guenya gak mau. Gitu aja pada gak paham" jawab Zee sinis.
"Tapi lo jagoan gue Zee. Masak lo kalah sebelum bertanding" rayu Novri
"Enak aja kalah sebelum bertanding. Gue ogah karena punya alasan, bukan karena takut" jawab Zee gusar
"Masih gak berubah juga, Zeeku yang jutek" kata Novri mengelus kepala Zee. Lalu mengajak Brian pergi. Percuma membujuk Zee, dia gak bakal mau. Nanti kalau dia mau, pasti ada alasannya.
'Kak" Zee memanggil Novri. Novri menoleh berharap ada keajaiban.
"Lo kenal gue kan. Gue cuma bisa bantu, tapi bukan tercatat." kata Zee tersenyum, Novri mengangguk.
"Maksudnya?" tanya Brian bingung.
"Dia gak mau jadi pengurus, tapi kalau kita butuh bantuannya, dia mau bantu. Tapi gak usah banyak orang tahu, cukup gue atau elo yang tau. Zee bukan orang yang suka popularitas. Makanya cara elo kemarin salah" Novri menjelaskan
"Lo sepertinya kenal banget sama itu anak, pacarlo ya?" tebak Brian
Novri ngakak "Kasih tau gak ya..." kata Novri sambil setengah berlari meninggalkan Brian. Novri memesan sate padang.
"Zee, lo kayaknya akrab-akrab jutek sama temennya Kak Brian tadi"
"Kak Opi, gue manggilnya, namanya Novri" jawab Zee "Udah kayak abang gue, dia"
"Serius, gak ada hubungan apa-apa?" tanya Cindy
"Gak ada, lo tanya aja sama dia. Kalau dia naksir gue, pasti otaknya udah korslet" jawab Zee santai
*****
Hari pernikahan tiba.
Zee mengamati dirinya didepan cermin. Hiasan sederhana. Zee memang tidak suka make up. Hanya polesan tipis dan sederhana. Namun malah membuat Zee semakin cantik.
Brian memandang cincin berlian yang dibelinya. Menurut Zee, mereka tidak perlu menggunakan cincin kawin, karena itu hanya budaya orang barat. Zee hanya meminta perhiasan sebagai mas kawinnya dan Brian memberikan cincin berlian sebagai mas kawin.
Kedatangan Novri disambut manja oleh Zee. Novri mencubit pipi gadis tersebut. Berbeda dengan di sekolah, Zee malah terlihat manja pada Novri.
Widya masuk kedalam kamar dan mengatakan sebentar lagi keluarga Brian akan tiba. Novri tersenyum dan ikut keluar untuk menyambut keluarga Brian.
Brian terlihat gagah dan semakin ganteng. Novri tersenyum melihat sahabatnya. Brian belum sadar bahwa Novri ada diantara keluarga Zee.
Akad nikah segera dimulai. Brian diizinkan melihat Zee di dalam kamar. Brian terpana melihat Zee. Cantik.
Zee tersenyum tersipu.
Brian kembali ke ruangan.
"Bagaimana?" tanya penghulu. "Sudah melihat calonnya?" tanya penghulu memastikan. Brian mengangguk. "Sudah siap untuk menikah?" Brian mengangguk lagi.
Prosesi akad nikah dimulai. Zee dari dalam kamarnya meminta izin kepada Slamet untuk menikahkan dirinya dengan pria yang dipilihkan orang tuanya.
Slamet mengizinkan. Sejenak keharuan ada pada anak dan orang tua. Selesai Slamet memberikan izin, dia dan Widya keluar kamar dan mendatangi Brian, para saksi dan tentu saja penghulu.
Penghulu lalu melihat syarat akad nikah, dan memulai akad. Slamet duduk didepan Brian dan menggenggam tangan Brian. Pengucapan akad pun dilakukan dengan lancar.
"Sah?" tanya penghulu
"Sah" jawab seluruh keluarga yang hadir.
Zee keluar kamar ditemani ibunya. Anggun dan manis. Zee melemparkan senyum pada Novri.
Saat itulah Brian melihat Novri dan terkejut atas kehadiran Novri. Belum sempat Brian berpikir, Zee sudah berada dihadapannya. Brian mengecup kening Zee dengan gemetar. Dan Zee mencium tangan Brian dengan kikuk.
Selesai memberikan mas kawin. Mereka melakukan sungkeman dan foto bersama. Novri memang kawan yang jail. Dia meminta difoto hanya berdua dengan Zee. Jelas saya Brian tidak terima. Zee tertawa ngakak sambil mencubit pinggang Novri. Brian jengah melihat becanda mereka.