Will you... (2)

747 Kata
'Huft, lama amat sih tinggal jawab iya aja" celetuk Bianca kesal, langsung disambut dengan cubitan Meira.  "Aduh, sakit, ma" teriak Bianca "Pernikahan bukan hal yang main-main. Dan Zee yakin, mama, papa, om dan tante sudah memikirkan sejak lama. Bahkan mungkin untuk hari ini ketemu, sudah direncanakan dengan matang" lanjut Zee lagi.  Bianca sudah gak sabar mendengar jawaban Zee. Sedang para orang tua, sudah tersenyum. Mereka sudah sangat paham Zee, kalau Zee menjelaskan sesuatu, pasti panjang dan bikin orang penasaran.  Sedangkan Brian menatap Zee dengan pandangan campur aduk. Akankah Brian merasakan penolakan hingga dua kali dengan gadis yang sama? "Kebahagiaan bukan karena kita mencintai seseorang, tetapi bagaimana kita bersyukur dan mengatasi masalah tanpa harus menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan Allah" lanjut Zee lagi. Bianca sudah gemas, tangannya mengambil kue buatan Zee. Daripada mendengar kalimat Zee yang panjang kali lebar, lebih bagus dia makan kue. "Bukan hanya sekedar menjawab ya dan tidak, namun ada konsekuensi terhadap jawaban yang kita pilih. Dan kita harus bertanggung jawab dengan jawaban itu" lanjut Zee lagi. "Aku setuju ma, pa" tiba-tiba Brian bersuara. "Bi memang baru kenal dengan Zee, tapi beberapa hari Bi kenal Zee, Bi semakin paham, bahwa Zee adalah perempuan yang baik dan cocok jadi istri Bi" kalimat tegas yang membuat Brian sendiri terkejut dia mengatakan hal tersebut. "Alhamdulillah" koor para orang tua, "Dan kamu, Zee?" tanya Slamet kepada Zee yang tersenyum menanggapi kata-kata Brian. "Pa" Zee mendekat Slamet, lalu memeluknya dengan manja. "Apakah laki-laki ini baik untuk Zee? terlepas orang tuanya adalah teman papa." tanya Zee "Insya Allah, nak. Papa mengenal Brian. Sangat mengenal Brian. Dia laki-laki yang baik. Dan baik untuk kamu" Slamet tiba-tiba menangis menatap Zee. Zee memeluk ayahnya.  Adegan haru membuat Brian menunduk. Bianca, Widya dan ibunya Brian pun ikut menangis. Zee melepaskan pelukannya pada Slamet. Zee memandang Brian, lalu memandang orang tua Brian. Zee menatap Widya dan terakhir, Zee kembali menatap Slamet. Semua menunggu kalimat yang akan Zee keluarkan. Brian deg-degan menanti jawaban Zee. Zee memandang Brian dan tersenyum tipis. Brian tidak bisa mengartikan senyuman itu, terkadang Zee tersenyum, namun kalimat yang keluar dari bibirnya berbeda. "Zee adalah anak perempuan papa" Zee memandang Slamet. "Tanggung jawab papa" Zee menatap Slamet lekat-lekat. "Dan sekarang, papa ingin memberikan tanggung jawab itu kepada kak Brian" Zee menatap Brian "Seorang laki-laki baik, yang bisa menggantikan tanggung jawab papa" Brian gelisah, tanda-tanda Zee akan menolaknya sudah cukup jelas. "Alhamdulillah" koor para orang tua kembali. Brian terkejut. Loh, kok malah bersyukur? "Jadi diterima atau enggak sih?" tanya Bianca bingung "Kalau perempuan menerima itu, gak harus dengan kata Ya, sayang" jelas Firdaus. Bianca masih bingung. Zee tertunduk, wajahnya memerah malu. Brian masih bingung dan menatap kearah Zee. "Bi, kapan kamu mau rencana nikah?" tanya Meira. Brian memandang Zee yang masih tertunduk "Setelah lulus, Ma" jawab Brian. Dua tahun waktu yang pas, agar dia dan Zee bisa saling mengenal dulu "Kelamaan" sergah Firdaus "Bi kan masih sekolah" protes Brian "Eh, gak usah dikasih tau, bokap nyokap lo juga tau kalo lo masih sekolah. Yang biayain lo sekolah emang siapa." ceplos Zee membuat para orang tua tertawa. "Bulan depan aja" usul Widya, disambut berbagai reaksi. Tentu reaksi setuju ada di kubu orang tua dan Bianca, sedang reaksi tidak setuju hanya ada pada Brian dan Zee. Dengan semangat Bianca mencari gaun pengantin melalui HPnya. Bianca mencolek Zee. "Kak, suka gak, gaun pengantinnya?" Zee melihat gaun biru muda yang sederhana. Terlihat manis dan tertutup. Zee menyukainya. Namun Zee tidak menjawabnya, malah memandang kearah Brian. Brian melihat baju yang diusulkan Bianca. Nampaknya Bianca cukup mengenal Zee. Pakaian itu, cocok untuk Zee. "Lo suka?" tanya Brian. Zee terdiam, tidak mengangguk atau menggeleng. "Bukan masalah gue suka atau enggak, tapi masalah elo suka atau enggak" jawab Zee "Lho kok?" "Ini acara pernikahan. Lo sebagai calon suami gue, harus melihat gue sempurna dihari itu. Jadi lo harus bisa memilih pakaian yang membuat gue menjadi ratu. Bisa jadi gue suka sama satu baju, tapi lo gak suka, maka lo gak akan melihat gue keren" jelas Zee sambil menunduk Brian terkesiap. Tidak disangka, Zee sangat dewasa dan berpikir jauh. Ada hal yang membuat Zee keras, tapi selalu pada tempatnya. Brian melihat foto gaun itu lagi dan mengangguk setuju. "Warna hitam, Zee?" tanya Brian. Brian masih ingat obrolan Zee dengan Cindy di kantin masalah gaun pesta. "Kok hitam?" protes Widya "Zee suka hitam, tante" jelas Brian "Siapa bilang? Zee tuh semua warna, tapi yang paling dia suka adalah biru" jelas Widya tertawa Brian wajahnya merah padam menahan malu. Zee malah tertawa "Sok tau" ledek Zee
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN