Ketemu camer

672 Kata
Habis Isya, Brian, kedua orang tuanya dan Bianca pergi menuju rumah Slamet. Brian menyetir mobil, karena diminta Firdaus yang lelah seharian di kantor. Rumah Slamet tidak begitu jauh, masih satu kecamatan. Bianca dan kedua orang tuanya turun duluan, sedangkan Brian memarkir mobil. Rumah yang cukup luas. Ada taman yang manis dengan kolam ikan. Brian mengamati rumah tersebut. Sangat manis. Brian menyukai rumah tersebut. Setelah puas mengamati, Brian masuk kedalam rumah, sambil membawa proposal. Slamet dan istrinya, Widya terkejut melihat Brian yang sudah besar. "Ya ampun, Bi. Om sampai pangling, lihat kamu" Slamet terkejut melihat Brian yang tinggi "Iya, ganteng sekarang. Ceweknya banyak ya" goda Widya "Gak ada, tante. Kak Bi judes sama cewek" malah si ceriwis Bianca yang menjawab Brian hanya senyam-senyum menanggapi obrolan tersebut. Brian memberikan proposal kepada Slamet. Slamet membuka dan mempelajari sambil senyum. "Om, tante, boleh numpang ke kamar kecil?" tanya Brian. Widya berdiri dan mengantarkan Brian ke toilet. Dari dapur, seorang gadis mengeluarkan kue dari dalam oven lalu menata dalam piring. Gadis itu membawa kue kepada tamu-tamunya. "Wah, Zakia sudah besar ya, pinter bikin kue lagi" puji Meira. Yang dipuji tersenyum manis. "Tante cicip ya." tangan Meira mengambil potongan kue dan merasakannya. "Enak banget, ini sih cocok jadi mantu. Ya, gak pa." puji Meira, disambut koor setuju para orang tua. "Papa sih setuju aja, itukan tujuan kita kemari" lanjut Firdaus tertawa sambil mencicipi kue buatan anak gadis yang punya rumah. Brian keluar kamar mandi dan berjalan kearah ruang tamu, bersamaan dengan gadis tadi mau balik ke dapur mengembalikan nampan. Tidak dapat dihindari, terjadi tabrakan terhadap keduanya.  "Wadaaawwww" teriak gadis itu "Aduh" teriak Brian. Ketika keduanya tersadar, keduanya spontan berseru "Lo lagi!" "Kenapa lo bisa ada disini?" tanya Brian heran "Ini rumah gue" jawab Zee ketus Brian bingung, melihat kearah Slamet dan WIdya. "Brian memang belum pernah ketemu Zee ya. Karena Brian kan seringnya ke kantor om. Tapi kalian satu sekolah kan sekarang?" jelas Widya. "Kak Bi, gak kenal kak Zee? kok bisa? Bianca aja kenal kok" tanya Bianca heran. "Kamu kan sering ikut kalau mama dan papa main kesini" jelas Meira. "Kakakmu dari SMP kan sibuk dengan teman-temannya, kalau gak OSIS, basket atau kegiatan lainnya" jelas Meira lagi "Kalau gak lantaran mau kasih proposal, kakakmu juga belum tentu kesini" goda Firdaus, membuat wajah Brian memerah. "Jadi kalian sudah kenal ya?" tanya Meira melihat kearah Brian dan Zee. Zee dan Brian mengangguk "Sebenernya bukan kenal sih, tapi cuma tahu aja" jelas Brian. "Tepatnya sih musuh" jelas Zee masih kesal. Melihat keduanya, para orang tua malah tertawa. "Hayuklah, kita realisasikan ikrar kita" kata Slamet "Ha?" tanya Brian dan Zee berbarengan.  Para orang tua tertawa melihat Brian dan Zee kebingungan. "Seperti kalian ketahui, kami berempat sahabatan dari SMA" dan ketika menikah lalu punya anak ka...." Ayahnya Brian berusaha menjelaskan "Kami sepakat menikahkan anak kami" lanjut Zee cepat menirukan suara ayahnya Brian. Brian mendelik, melihat Zee gak sopan terhadap orang tuanya. Para orang tua malah tertawa melihat Zee. "Pinter calon mantu. Gak perlu penjelasan panjang lebar" kata Meira merangkul Zee. "Gimana, Bi?" tanya Firdaus kepada Brian. Yang ditanya malah menatap Zee dengan bingung. Sedangkan Zee cuek, malah memperhatikan wajah Widya dan Slamet. 'Tante, om" Zee malah membuka suara setelah mengamati wajah ibu dan ayahnya. Kedua orang tua Brian melihat kearah Zee. "Zee gak kenal kak Brian. Kita baru beberapa kali ketemu. Tapi Zee kenal oom dan tante. Dan Zee juga yakin, kak Brian gak kenal Zee, tapi kak Brian kenal mama dan papa Zee. Oom dan tante orang baik, begitu juga mama dan papa Zee, mereka orang baik" Zee menatap kedua orang tuanya yang tersenyum padanya.  "Love you mam, pa" Zee mencium kedua orang tuanya. Begitupun orang tuanya mencium Zee. "Zee yakin mama dan papa pasti ingin yang terbaik buat Zee, begitupun om dan tante, ingin memberikan yang terbaik buat anak tante dan om" Zee memandang Brian yang masih menatapnya bingung. "Sejujurnya, Zee kaget mendengar hal ini, begitupun kak Brian, Zee yakin kak Brian kaget. Gak nyangka bakal dijodohin sama adik kelas yang selama ini jadi temen berantemnya" kata Zee sambil tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN