Sampai dirumah, Firdaus sudah berada dimeja makan. Melihat anaknya baru pulang, ayahnya hanya memberi kode untuk bersih-bersih.
Selesai mandi, Brian makan malam. Ayahnya tetap menunggu Brian di meja makan.
"Bi, kamu inget om Slamet?" Tanya Firdaus
"Ingetlah, pa. Kan Aku sering ke kantor om Slamet disuruh mama dan papa." Jawab Brian
"Tadi, papa sudah souding rencana kamu. Kata om Slamet, kamu bawa proposal aja kerumahnya"
"Kok ga dikantor, pa?" Tanya Brian heran
"Biar lebih santai. Om Slamet sibuk, di kantor waktunya sempit. Bisa-bisa 3 bulan lagi kamu baru bisa ketemu" jelas ayahnya.
"Siap, pa. Proposal sudah selesai, tinggal tanda tangan.
"Ok, nanti papa kabari om Slamet lagi, kapan kita bisa kerumahnya." Kata Firdaus sambil berdiri.
"Kita?" Tanya Brian bingung. "Aku pikir, aku sama teman-teman, pa" kata Brian
"Gak. Kamu pergi sama papa dan mama. Biar ngobrolnya lebih santai." Jelas Firdaus.
"Oh" Brian mengangguk sambil meneruskan makan malamnya.
Meira - Ibunya Brian tertawa kecil, dan langsung dicubit oleh ayahnya. Brian menoleh dan tersenyum. Kedua orangtuanya masih mesra seperti baru menikah. Brian ingin jika menikah nanti, tetap mesra sampai tua.
Brian anak pertama. Adiknya Bianca masih SMP kelas 7. Manja dan ceria. 'Bayi' Brian menjuluki adiknya seperti bayi. Karena masih cengeng dan suka menang sendiri. Saat ini, adiknya sudah tidur. Brian sering kali kangen sama adiknya. Tiap tidur, selalu pipi tembam adiknya menjadi sasaran bibir Brian. Gemas dengan adiknya.
*****
Proposal Bakti Sosial sudah selesai dan siap diedarkan untuk mencari dana. Brian mengambil dua proposal. Yang satu untuk Firdaus sedangkan yang satu lagi untuk Slamet. Rencananya besok malam, Brian dan keluarganya akan berkunjung ke rumah Slamet.
Bel pulang sekolah berbunyi. Zee dan Cindy melewati kelas Brian yang riuh. Zee sedang asik ngobrol dan matanya tidak memperhatikan hingga sebuah tangan yang tiba-tiba menerpa wajahnya dengan keras.
"Aduh" teriak Zee spontan. Cecil si empunya tangan, kaget. Pasalnya dia sedang mengintip Brian, tidak sadar tangannya melayang dan mengenai wajah Zee.
Melihat korbannya adalah Zee, Cecil memasang wajah marah.
"Kalo jalan liat-liat dong, sakit nih tangan gue" teriak Cecil. Seketika murid kelas XI IPA 1 keluar untuk melihat kejadian. Dan menemukan Zee dan Cecil. Novri tersenyum, dan berbisik ke arah Brian"Jagoan gue, bakal menang lagi" Brian mengangkat bahu tidak peduli. Bahkan Brian pergi menuju gerbang sekolah melewati keduanya.
"Brian, tunggu" teriak Cecil. Brian tidak memperdulikan, tetap melangkah. Cecil berlari dan menarik tangan Brian hingga Brian berhenti.
"Marahin tuh, anak yang suka ngelawan kakak kelas" adu Cecil pada Brian. Brian mengangkat bahu. "Bukan urusan gue" jawab Brian
Zee mendatangi Cecil lalu menatap mata kakak kelasnya. "Kalau gue yang nabrak elu, harusnya korbannya bukan wajah jelek gue ini. Daaaaan.. sejak kapan gue ngelawan kakak kelas? Oh... sejak gue tau, punya kakak kelas bodoh kuadrat" kata Zee sambil ngeloyor pergi. Cindy mengikuti langkah Zee dan tertawa kecil.
Novri tersenyum dan menepuk bahu Cecil "Lo emang b**o banget. Udah banyak kejadian, gak ambil hikmahnya. Kalau cara lo begini, gak bakal menang lawan Zee. Eh, dia jagoan gue loh, hati-hati sama dia" kata Novri tertawa lalu pergi meninggalkan Cecil yang cemberut.
Di tempat parkir, Brian mengeluarkan motornya diikuti oleh Novri. Di depan gerbang, mereka melihat Cindy dan Zee yang menunggu ojeg online. Novri tersenyum ramah kepada keduanya.
"Pulang naik apa?" tanya Novri ramah.
"Ojeg online" jawab Cindy tersenyum
"Udah pesen?" tanya Novri
"Udah" jawab Cindy lagi.
Novri tersenyum pada Cindy dan Zee, baru saja dia akan menjalankan motornya, suara Zee terdengar.
"Kalau belum pesen, ngapain juga kita nunggu disini. Heran, kakak kelas nanya kok basi banget"
Mendengar ocehan Zee, Cindy mencubitnya. Takut kalau Novri dan Brian dengar lalu mereka marah.
Novri melihat ke arah Zee, lalu mematikan motornya dan berjalan kearah Zee. Melihat hal itu, Cindy mengelus tangan Zee agar tidak emosi. Brian mengamati tingkah Novri, tumben Novri mau meladeni Zee.
"Apakabar Zee?" sapa Novri ramah. Zee mendengus Cindy malah heran melihat tingkah sahabatnya.
"Gue cuma mau ngetest aja, lo masih judes gak." kata Novri sambil tertawa mengacak rambut Zee. Tidak seperti pada Delon, Zee nampak tidak keberatan Novri memegang kepalanya. Menyentuhnya.
"Masih. Puas lo?" kata Zee judes.
"Zee" Cindy menggamitnya, takut kalau Novri marah
"Ya udah, kalau masih judes. Tapi gue kasih tau sama lo, Nona jelek. Makin lo judes, nanti makin banyak yang naksir elo" kata Novri tertawa sambil pergi kearah motornya. Brian tertegun heran melihat Novri dan
Zee. Seperti ada keakraban yang tersembunyi, apa jangan-jangan..
"Zee dan orang seIndonesia mengucapkan, BODO AMAT" teriak Zee disambut ketawa ngakak dari Novri.
Brian menjalankan motornya mengikuti Novri. Zee menatap kesal pada Novri dan Brian. Sedang Cindy masih bingung, mengelus tangan Zee