Allegra keluar dari ruang BK dengan langkah yang berat. Seolah beban 7 miliar orang di seluruh dunia sedang diletakkan di bahunya yang mungil itu. "Hei!" Samudera muncul tepat di depan Allegra. Seperti kelinci dalam Alice in Wonderland yang melompat entah dari mana. "Hai ...," sapa Allegra lemah. "Kenapa? Is something bothering you?" tanya Samudera. Allegra mengangguk, "Lagi-lagi soal masa depan." "Sama. Gue juga." Allegra dan Samudera kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di koridor kelas 12. Mereka tak banyak bicara, hanya menatap langit biru yang dihiasi bola-bola awan di beberapa titik. Meski tak berkomunikasi secara langsung, mereka tampaknya mengerti satu sama lain. Paham tentang kesulitan dan beban yang terlalu berat untuk diceritakan. Walau tampak baik-baik saja deng

