Seminggu sudah aku beristirahat di rumah, menyembuhkan diri dari luka-luka baik tulang maupun hati. Kini, kembali lagi kami dalam kata perpisahan, kata yang tidak pernah enyah dari hidupku. Dia akan terus terulang dan terobati, terulang dan terobati. Seperti luka sayatan yang kali menganga dan kembali dijahit lagi. Satu Minggu, waktu itu bahkan tidak cukup untuk menghentikan rindu, hanya membiusnya sesaat dan akan terasa lagi nantinya. Waktu bersama Ara juga tidak cukup bagiku, seperti sekelebat kenangan yang terputar hanya sekian detiknya. Apapun, sifat alamiah manusia adalah merasa tidak cukup, tetapi ini tentang bagaimana aku bisa mensyukuri nikmat yang diberi. Cukup tak cukup harus bersyukur. "Baik-baik di sana ya, Yah," ucap Kanya sambil terus merapikan seragam dinas harianku. Enta

