Selamat pagi Semarang, kota lahirku, kembali lagi kita bersua. Hari pertama tanpa istriku, dia mungkin masih mencari cara untuk bisa berpindah ke sini, atau mungkin dia juga terlalu nyaman di sana, jadi suka cari-cari alasan untuk berpindah. Astaghfirullah, baru saja aku su'udzon pada istri sendiri. Pagiku sungguh sangat hampa tanpa Kanya, tidak ada yang menyemirkan sepatuku, tidak ada yang merapikan kerahku, yang terpenting, tidak ada yang menjabat tanganku dan menciumnya. Hanya pesan singkat dengan emoticon peluk di pagi hari untuk saling menyapa. Melihat foto Ara juga yang tengah belajar sholat dengan gerakan seadanya. "Pagi, Ndan," sapa Sertu Idam dengan hormat sekilas dan berjalan menuju kantor. "Pagi," jawabku tidak bersemangat. Orang-orang harusnya paham, bahkan untuk sarapan saj

