Deni berdiri di sudut jalan, tangannya mengepal erat di saku jaketnya. Matanya tajam mengamati setiap gerak-gerik Mila yang berjalan keluar dari area pabrik di hari terakhirnya ini. Ia sudah menduga bahwa Mila tahu di mana Tari berada, dan sekarang ia hanya perlu sedikit kesabaran untuk membuntutinya. Mila melangkah santai ke arah parkiran, memasuki mobil kecil milik sepupunya, lalu melaju perlahan meninggalkan area pabrik. Deni dengan cepat memanggil ojek daring dan mengikutinya dari belakang. Di sepanjang perjalanan, pikirannya penuh dengan emosi yang bercampur aduk. Rasa penasaran, rasa marah dan yang paling kuat adalah perasaan tak terima karena Tari seolah mudah saja membuangnya. Wanita itu bahkan menggunakan pengacara untuk perceraiannya. Sombong sekali pikir Deni. Itu k

