Tari mengamati bangunan tinggi di hadapannya. Apartemen ini tampak begitu megah, jauh dari bayangannya tentang tempat tinggal sederhana yang selama ini ia tempati. Pintu mobil terbuka, dan Ndaru keluar lebih dulu, berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Tari. “Ini tempatnya?” tanya Tari, masih tak percaya. Ndaru mengangguk. “Iya. Yuk, masuk.” Tari melirik ke sekeliling. Suasana di sekitar apartemen terasa tenang, meskipun berada di tengah kota. Tidak seperti lingkungan rumah kontrakan yang dulu ia tinggali bersama Deni, yang penuh dengan tetangga yang terlalu mencampuri urusan orang lain ketika ingin tahu dan mendadak angkat tangan saat tahu situasinya sulit dan tak ingin membantu. Anak-anak di sana pun sering berkelahi di gang sempit yang sepi. Tari turun dari

