Minggu pagi yang seharusnya tenang terasa berbeda bagi Tari. Matahari belum terlalu terik, angin bertiup lembut membawa aroma tanah yang masih basah oleh embun, menciptakan suasana damai yang biasanya menenangkan. Tapi tidak bagi Tari. Ia berdiri di dekat gerbang taman, menatap sekeliling. Tidak banyak orang di sini, hanya beberapa pasangan yang duduk di bangku taman, orang tua yang berolahraga ringan, dan anak-anak yang berlarian riang. Namun, di ujung taman, seorang pria berdiri membelakanginya. Punggung tegap milik pria yang sebentar lagi berusia seperempat abad itu tampak angkuh seperti biasanya di mata Tari. Tari menatapnya tanpa ekspresi, mengabaikan desiran samar di dadanya. Ia tidak akan membohongi dirinya sendiri. Dulu, pria itu adalah bagian dari hidupnya. Ada ma

