"Bagimana bisa Papa meminta Keira bekerja di hotel?" Itu adalah suara Sanjaya, papanya.
Jantung Keira semakin bertambah cepat kala mendengar kalimat protes yang dilayangkan oleh pria itu.
"Kenapa? Kenapa Papa seperti tidak suka kalau aku bekerja?" bisik Keira dalam hatinya.
Perlahan Keira membuka handel pintu saat bertepatan pintu itu terbuka dari dalam. Dengan cepat Keira menghindar dari depan pintu dan bersembunyi di balik dinding sambil berjongkok. Ia memejamkan matanya kuat, takut ketahuan bila ia sedang mengintip.
Hingga suara langkah itu menjauh, Keira kembali membuka matanya. Merasa lega karena itu hanya perawat Kakek Kesuma. Entah kapan dia akan kembali lagi. Keira harus cepat atau dia akan ketinggalan informasi. Tangannya kembali membuka handel pintu perlahan, dan mendorongnya pelan. Menciptakan celah untuknya menguping dari luar.
"Lalu bagaimana dengan Reina?" Suara Ayuningtias terdengar serak.
Keira sama sekali tidak memiliki minat mendengarkan ocehan mereka tentang Reina. Ia mengenal Reina lebih dari siapa pun juga.
"Tunggu dulu! Apa aku telah melewatkan sesuatu?" gumam Reina. "Sialan!" umpatnya kesal.
"Pasti aku telah melewatkan pembicaraan mereka tadi. Semua ini karena perawat itu. Andai saja dia tidak keluar dari dalam sana, aku pasti tau apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya." Ia mendengus kesal. Usahanya untuk menguping telah sia-sia.
Keira memilih mundur dan meninggalkan tempat itu dengan tanda tanya besar. Dan baru saja Keira akan kembali menempuh lorong yang sama saat dia datang tadi, seseorang memegang bahunya pelan, membuat Keira memucat. Jantungnya berpacu cepat, dan tubuhnya membeku, kaku di tempatnya berdiri.
"Apa yang kau lakukan disini, Kei?"
Suara dari belakangnya sukses membuat Keira melotot. Keira berpaling cepat. Sosok Reina sedang berdiri di belakangnya, memandangnya dengan tatapan bingung.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah tadi kau bilang akan kembali ke kamar?" Reina kembali mengulang pertanyaannya.
"Ah, iya... kau benar. Tapi aku baru akan kembali ke bawah saat teringat bahwa aku meninggalkan sesuatu di kamar tadi. Karena itu aku berniat kembali lagi ke kamar." Keira mencari-cari alasan sebelum Reina mencurigai dirinya.
"Lalu, apa yang kamu lakukan disini?" Keira bertanya balik.
"Perawat Kakek meminta kita untuk menemui Kakek di ruang bacanya. Aku baru saja berniat memanggilmu dulu, untuk masuk bersama." Reina menyahut tanpa halangan.
"Ooh..." Keira manggut-manggut.
"Ayolah kita masuk!" Reina menarik lengan kakaknya tanpa perlawanan.
Semua orang, Sanjaya dan istrinya, Ayuningtias, serta Atmajaya Kesuma menoleh pada mereka saat keduanya masuk berbarengan.
Entah sejak kapan, tapi pandangan mereka berubah saat melihat keberadaan Keira. Seperti ada yang sedang mereka sembunyikan darinya. Namun Keira berpura-pura tidak mengetahui apapun. Meskipun sebenarnya dia hampir saja mendengar semuanya.
Reina sedikit kecewa pada orangtuanya yang seakan mengekang kakaknya agar menghentikan niatnya untuk bekerja. Padahal, Keira bekerja bukanlah atas kemauannya sendiri. Akan tetapi, Kakek Kesuma yang memintanya untuk mulai turun tangan menangani bisnis keluarga mereka.
Rasa kecewa Reina bertambah karena kedua orangtuanya menggunakan dirinya sebagai alasan untuk menghentikan niat Keira untuk bekerja. Meskipum begitu, Reina mash blm menyadari rahasia yang disembunyikan Papa dan Mamanya.
***
Malamnya, Keira dan Reina memilih untuk menginap di rumah Kakek Kesuma. Pun dengan Sanjaya dan juga Ayuningtias. Sedikit memiliki harapan bahwa kedua gadis itu masih bisa bertemu dengan kedua orangtuanya esok hari. Dan hal itu merupakan hal yang sangat langka bisa terjadi.
Setelah mereka selesai bicara di ruang baca Kakek Kesuma, kelimanya berpisah. Reina dan Keira bahkan masih sering memutar tubuh mereka untuk memastikan kedua orangtuanya tidak akan kemana-mana.
Siapa saja yang melihat reaksi kedua gadis itu pasti akan langsung menilai bahwa mereka terlalu berlebihan. Tapi tidak bagi mereka yang hampir tidak pernah melihat keberadaan kedua orangtuanya selama hampir seluruh hidupnya.
"Perhatikan langkahmu atau kamu akan menabrak dinding," Suara Keira memecah konsentrasi Reina. Namun belum lama gadis itu bicara, Reina sudah menabrak dinding tembok kamarnya sendiri.
BRUUGGH !
"Ya Tuhan," ucapnya spontan. Keira yang melihat hal itu tertawa geli.
"Sudah aku katakan, perhatikan jalanmu! Sudahlah, Rein! Papa dan Mama tidak akan kemana-mana. Besok pagi kita pasti akan melihat mereka lagi di meja makan." Keira menutup mulutnya, menahan agar tawanya tidak pecah.
"Berhentilah tertawa, Kei! Apa kau tidak kasihan padaku? Siapa suruh mereka begitu sering meninggalkan kita sendirian di rumah? Wajar kalau aku takut tidak bisa melihat mereka besok." Reina mengatakan isi hatinya.
"Maaf. Ya sudah, pergilah tidur." Keira meminggalkan Reina yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kei!" panggil Reina pelan.
"Apa?" Keira malah balik melemparkan tanya.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan di tempat itu tadi? Aku melihat kau berdiri di depan pintu. Apa yang mereka bicarakan?" cecar Reina. Langkah Keira terhenti.
"Aku tidak tahu. Menurutmu, apa yang sedang mereka bicarakan di dalam sana?" Keira balik bertanya tanpa berbalik badan dan menoleh pada Reina.
"Aku juga tidak tahu! Aku hanya penasaran, kenapa Papa tidak suka kau bekerja di hotel itu?"
Lagi-lagi, pertanyaan Reina sama seperti yang terlintas dalam benaknya beberapa saat yang lalu. Namun berusaha ia simpan sendiri. Tak ingin Reina berpikiran hal yang aneh.
"Mungkin Papa hanya tidak mau kalau kita terlalu lelah memikirkan bisnis keluarga. Itu bukan hal mudah yang bisa dikerjakan oleh anak-anak seperti kita." Keira menyahut tanpa menoleh. Ia malah menyandarkan tubuhnya ke tembok.
"Mungkin dia hanya tidak ingin kita mencampuri pekerjaannya dan merusak hasil kerja kerasnya selama ini." Jawaban itu terdengar masuk akal, bahkan untuk dirinya sendiri. Seakan untuk menguatkannya agar tidak kecewa.
"Tapi aku merasa, seperti ada yang mereka tutupi. Apakah kau tidak merasakannya?" Reina melangkah, melewati kamarnya untuk mendekati Keira.
"Yang jelas, apapun itu... aku tidak ingin berpisah darimu. Hanya kau yang aku punya, Kei." Reina ikut menyandar ke tembok di samping Keira.
"Jangan bicara yang aneh-aneh," tegur Keira. Matanya membulat penuh pada Reina.
"Sudah, tidur sana! Kembali ke kamarmu." Keira mendorong tubuh kurus adiknya itu agar menjauh darinya. "Aku mau tidur! Besok pagi aku harus bersiap-siap untuk bekerja."
"Bukankah Papa sudah melarangmu tadi?" pekik Reina tajam.
"Iya. Kita lihat saja besok apa yang akan terjadi."
"Ya sudah, terserah padamu!" balas Reina gusar. Ia menyentak nafasnya kuat.
"Rein!" Keira balik memanggilnya.
"Hemm..."
"Siapa cowok yang bicara denganmu tadi? Apakah dia temanmu?" tanya Keira gelisah. Reina menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi kalian sangat akrab. Siapa namanya?" Lagi-lagi, Keira melontarkan tanya. Sambil berjalan kembali ke kamar, Reina mengedikkan bahunya.
"Kau tidak tahu namanya?" tanya Keira dengan raut wajah terkejut. Reina kembali menggeleng, kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.
"Bisa-bisanya dia bicara santai dengan pria asing yang tidak dia kenal. Kenapa dia malah lupa tanya siapa namanya?" katanya pada diri sendiri sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.
Sementara Reina, gadis itu masih duduk di depan meja riasnya. Pertanyaan Keira terakhir kali telah berhasil mengaburkan rasa penasarannya pada ucapan Sanjaya. Namun pikirannya kini teralihkan pada cowok tampan yang bicara dengannya tadi.
Karena terlalu asyik bicara dengannya, Reina sampai lupa menanyakan siapa namanya. Yang dia tahu bahwa pria itu bukan hanya mengenal kedua orangtuanya, tetapi juga Kakek Kesuma. Masalahnya adalah, kenapa dirinya dan Keira tidak mengenal siapa pria itu?
Padahal sejak kecil hingga remaja, mereka kerap menghabiskan banyak waktu di rumah Kakek Kesuma. Kebiasaan itu mulai berubah saat mereka mulai beranjak dewasa. Tetapi tak pernah sekalipun ada orang lain yang datang ke rumah itu. Bahkan untuk anak-anak seumuran mereka.
"Jadi, sejak kapan mereka saling mengenal? Kenapa aku bodoh sekali, sampai lupa tanya siapa namanya?" gerutu Reina pada dirinya sendiri. Telapak tangannya diketukkan di keningnya beberapa kali.
"Sayang sekali..." ucapnya menyesali diri sendiri.