Tok tok tok...
Terdengar suara ketukan di balik pintu kamar Reina. Reina muncul dari balik pintu saat pintu itu terbuka.
"Ada apa?" tanya Reina malas.
"Nona Reina di tunggu di bawah untuk makan malam," ujar maid berkulit cokelat itu padanya sambil menunduk.
"Baiklah. Sebentar lagi saya akan turun," jawab Reina.
"Tuan Besar berpesan agar Nona Reina berpakaian yang rapi, karena malam ini akan ada jamuan makan malam di taman belakang."
"Apa?" Spontan Reina membulatkan matanya besar. "Jamuan makan malam?"
"Iya, Nona. Kalau begitu, saya permisi dulu." Gadis itu mundur beberapa langkah sebelum memutar tubuhnya dan pergi dari depan kamar Reina.
"Jamuan makan malam?" guman Reina lagi. "Dengan siapa? Apa Kakek juga mengundang orang lain?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Reina menatap tubuhnya di depan cermin. Tubuh tinggi dan ramping itu kini dibalut halter dress panjang menjuntai warna hitam yang dipadu dengan stiletto berwarna senada.
Wajahnya dirias senatural mungkin, sangat berbeda dengan biasanya, karena Reina tidak ingin mempermalukan sang kakek di depan para tamunya. Sementara rambut hitam bergelombangnya dicepol tinggi, menyisahkan sedikit anak rambut yang menjuntai dekat pelipisnya.
Reina baru saja kaluar dari kamarnya. Ia berniat untuk memanggil kakaknya itu saat melihat Keira juga baru keluar dari kamarnya.
"Kei!" panggil Reina saat melihat Keira mulai berjalan meninggalkan kamarnya. Ia menoleh ke belakang.
"Kamu cantik sekali malam ini," puji Keira saat melihat Reina yang terlihat lebih dewasa.
"Sudahlah, jangan mengejekku," Reina mencebikkan bibirnya, pura-oura marajuk.
"Aku serius! Kamu cantik banget malam ini. Aku suka riasanmu yang gak norak seperti sebelumnya." Keira tersenyum di balik tangan yang menutup mulutnya.
"Aku gak norak! Itu memang gayaku." Reina membela dirinya.
"Anyway... kau juga cantik!" puji Reina.
Kakaknya itu mengenakan cocktail dress tanpa lengan warna navy yang kontras dengan kulitnya yang sedikit pucat dan juga sling back heels berwarna sama. Model gaun mereka hampir mirip, hanya saja Keira mengenakan gaun yang panjangnya sedikit di bawah lutut.
"Aku tahu. Aku memang selalu tampil cantik maksimal." Keira memuji dirinya sendiri dengan suara tawa yang berhasil keluar dari mulutnya.
"Jangan kepedean!" balas Reina kesal. Ia memilih mempercepat langkahnya, meninggalkan Keira yang masih tertawa di depan kamarnya.
"Kenapa kau tersinggung?" teriak Keira.
Suara tawanya masih terdengar. Ia mengejar Reina, berusaha menyamakan langkahnya dengan sang adik. Meski tak digubris, Keira tetap mengiringi langkah kaki Reina menuju taman belakang.
"Maaf Kakek, kami terlambat." Reina menyapa pria tua itu saat kaki mereka menginjak taman di belakang rumah, di samping kolam renang. Ia dan Keira datang bersama untuk makan malam.
"Tidak masalah. Mari duduk disini," panggil Kakek Kesuma.
"Kenapa kita makan malam disini? Kenapa tidak di ruang makan seperti biasanya?" tanya Reina bingung.
Ia melihat beberapa orang maid tengah sibuk menata meja makan dengan beragam hidangan. Tak jauh dari meja makan, dua orang maid tengah sibuk dengan pemanggang daging. Seakan sedang ada perayaan spesial malam ini.
"Hari ini ada jamuan makan malam istimewa, sekalian perayaan kecil karena mulai besok Keira akan bekerja. Kita tahu, ini adalah pekerjaan pertamanya setelah tamat kuliah. Kita doakan bersama agar pekerjaan pertamanyanya berhasil."
"Amin," jawab Keira cepat. "Terima kasih, Kakek." Keira mengulas senyumnya lebar, hingga memperlihatkan deretan gigi putihya yang tersusun rapi.
"Apa Kakek tak ingin mendoakan aku juga?" rengek Reina. Kakek Kesuma melempar senyumnya.
"Tentu saja. Kakek juga berdoa untukmu, supaya kamu semakin dewasa dan bisa segera menyusul Keira untuk bekerja di hotel." Atmajaya Kesuma berusaha membujuk cucunya.
"Tidak. Aku tidak ingin bekerja di hotel."
"Kenapa?"
"Untuk apa susah-susah, karena semuanya akan menjadi milikku meski tanpa bekerja."
"Kamu benar. Pada akhirnya, kalianlah yang akan mewarisi semua ini. Tetapi, tidak ada artinya jika kalian tidak bisa mengelolanya dengan baik. Seperti Papamu. Dia adalah putraku satu-satunya, yang mewarisi semua milikku. Tapi dia sepenuhnya bekerja keras. Dia bahkan kehilangan banyak waktunya yang harusnya ia habiskan bersama kalian. Dan kalian juga akan melakukan hal yang sama," jelasnya panjang lebar.
"Kakek 'kan bisa mempekerjakan orang-orang yang ahli untuk menangani semua pekerjaan itu? Kenapa harus susah-susah mengerjakannya sendiri?" kata Reina tak mau kalah.
"Tentu saja, Kakek melakukannya. Tapi tidak dengan Papamu, karena dia ingin melakukan semuanya sendiri."
"Kenapa? Apa Papa tidak bisa mempercayai orang-orang yang bekerja padanya?" cecar Reina.
"Dia juga melakukannya, Sayang. Tetapi ada hal yang memang harus kita lakukan sendiri. Suatu saat, kamu juga akan mengerti." Kakek Kesuma tersenyum penuh arti. Namun, hal berbeda justru diperlihatkan oleh Reina. Gadis itu justru mengerutkan keningnya dalam.
Sementara Keira hanya mendengarkan. Sama sekali tak berminat untuk mencampuri pembicaraan kedua orang itu. Karena bagaimana pun, ia tidak akan pernah mau mengerti semua alasan mengapa papanya sampai melupakan mereka, bahkan hingga mereka sebesar ini sekarang.
"Apa Kakek juga mengundang orang lain di jamuan makan malam ini? Aku lihat, disini disediakan beberapa piring lain selain milik kita tentunya." ungkap Keira.
"Kamu benar. Ada orang lain yang akan segera bergabung dwngan kita," ucapnya.
Tak lama, mereka mendengar suara langkah yang berjalan mendekat ke arah mereka. Keira dan Reina mendadak terkejut. Keduanya membelalakka mata hingga kedua mata mereka hampir jatuh dari tempatnya.
"Selamat malam, Pa." Sebuah pelukan mendarat di tubuh Kakek Kesuma, dengan tepukan dan usapan lembut di punggungnya.
"Silahkan duduk," ujar Atmajaya Kesuma pada putra tunggalnya.
"Dimana Ayu?" tanya pria tua itu saat mendapati menantunya tak datang bersama putranya.
Sanjaya mengedikkan bahunya ringan lalu berkata, "Aku tidak tahu, Pa. Mungkin dia sedang bersenang-senang sekarang."
"Apa?" tanya Atmajaya tak mengerti.
"Aku disini, Pa."
Semua orang menolehkan wajah mereka pada sosok wanita cantik berusia empat puluh dua tahun, yang berjalan anggun sambil menggandeng lengan seorang pria muda.
Keira dan Reina saling beradu pandang. Tak menyangka kalau sang mama akan datang sambil mempermalukan dirinya sendiri di hadapan mereka.
"Silahkan bergabung dengan kami." Kakek Kesuma menuding kursi kosong di samping Sanjaya.
Wajahnya tampak tidak keberatan sama sekali, pun begitu dengan papa mereka. Dua orang lelaki beda usia itu malah saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Kamu datang sendirian?" tanya Sanjaya. Membuat kedua putrinya melotot tajam. Mereka semua melihat saat pria itu datang bersama mama mereka. Kenapa harus menanyakan hal memalukan itu lagi?
"Iya, Om. Papa dan Mama titip salam karena tak bisa hadir." pria tampan itu tersenyum ramah.
"Apa kita masih menunggu orang lain?" Ayuningtias nyeletuk, membuat semua mata tertuju padanya.
"Tidak. Silahkan makan..." Tangan Kakek Kesuma melayang di udara, mempersilahkan semua orang untuk memulai makan malam mereka.
Seorang Chef utama datang mendekat, menenteng daging berukuran besar dalam baki dibantu oleh dua orang maid dan meletakkannya di tengah-tengah meja makan. Keira dan Reina tercengang melihatnya.
Ia mulai mengiris daging itu tipis - tipis, dan mulai membaginya pada semua orang.
Tak ada yang berani membuka mulutnya untuk berbicara karena Kakek Kesuma tidak ingin ada yang menyela disaat mereka makan. Ia akan merasa tersinggung jika ada yang berani melakukannya dengan sengaja. Hanya suara sendok dan garpu yang berdenting karena terantuk piring.
***
"Apakah Papa dan Mama akan menginap disini? Malam ini?" tanya Keira saat mereka kembali masuk untuk berkumpul di ruang keluarga.
Kakek Kesuma berjalan perlahan dengan bantuan tongkat ditangannya, dituntun oleh perawat setianya. Pria muda tampan yang makan malam bersama mereka juga mengiringi langkah keduannya dari belakang. Tak jauh di belakangnya,
Reina berjalan perlahan sambil menggandeng mesra lengan Sanjaya. Sementara Keira dan Ayuningtias berjalan di deret paling belakang.
"Jangan menangis, Kei. Kamu itu sudah dewasa. Apa yang kamu tangisi?" Ayu menghela nafasnya. Tangannya menyeka airmata Keira yang melesat jatuh ke pipinya.
"Aku rindu sama Mama. Apa Mama tau itu? Reina juga rindu pada kalian berdua," ungkap Keira.
Wanita itu menangkap tubuh putrinya dan mermeluknya erat. Sudah lama Keira tidak merasakan kehangatan seperti yang ia rasakan malam ini. Seakan Mamanya yang lama hilang telah kembali lagi.
"Mama juga merindukan kalian. Maafkan Mama, Kei. Suatu saat, kalian akan tau alasannya. Mama minta padamu, jaga Reina dengan baik. Jangan biarkan dia melukai dirinya sendiri atau melakukan banyak hal gila diluar sana."
"Apa Mama mengetahuinya?" Keira melerai pelukannya. Wajahnya mendongak, menatap serius wajah cantik tanpa keriput di depannya.
"Tentu saja Mama mengetahuinya. Walaupun Mama jauh dari kalian, Mama akan tetap mengetahui semuanya."
"Lalu mengapa Mama tidak mengatakannya langsung pada Reina? Reina melakukan semua itu karena dia protes pada kalian yang tidak pernah memperhatikannya. Reina itu butuh kasih sayang Mama dan Papa."
"Mama akan menemuinya dan mengatakan semuanya pada Reina. Bagaimana pun, Reina adalah putri Mama. Kamu jangan khawatir, Mama akan coba menasehati Reina."
Ayuningtias melangkah pergi, meninggalkan Keira yang masih tertegun dengan pikirannya sendiri. Wanita itu telah kembali masuk ke dalam rumah bersama yang lainnya.
"Reina adalah putri Mama? Apa maksud Mama bilang seperti itu?" gumam Keira. Kedua alisnya hampir terpaut.
Kata-kata yang Ayu ucapkan terdengar ambigu di telinganya.
"Bagaimana pun Reina adalah putri Mama? Lalu aku? Bagaimana denganku?" Keira bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kalimat itu mengundang pikiran aneh menyerbu otaknya.
Keira terpaku sejenak ketika langkahnya telah membawanya ke ruang keluarga. Tak ada orang lain disana, kecuali Reina dan cowok tampan itu yang terlihat tengah bercakap - cakap. Keduanya terlihat begitu akrab, seakan sudah saling mengenal sejak lama.
"Rein!" panggil Keira. Yang dipanggil langsung menoleh.
"Ya? Ada apa, Kei? Mari duduk disini dengnku," katanya menepuk ruang kosong di sampingnya.
"Dimana semua orang? Kenapa hanya tinggal kalian berdua disini?" cecar Keira ingin tahu.
"Mereka baru aja naik. Mungkin sedang bicara di ruang baca. Ada apa?" selidik Reina saat melihat gelagat aneh Keira.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya saja. Baiklah, aku naik ke kamar sebentar." Keira kembali menjauh dari keduanya.
"Jangan lama-lama!" ujar Reina sebelum kakaknya itu menghilang di balik dinding pemisah ruang keluarga dengan ruang lainnya.
Keira sengaja mengambil jalan memutar untuk sampai di ruang baca. Ia sengaja tidak naik melalui tangga dekat ruang keluarga, karena beresiko Reina akan mencurigai dirinya. Karena itu, Keira berinisiatif naik melalui tangga lain yang biasa mereka pakai saat naik ke kamar mereka.
Keira berjalan cepat dengan sedikit berlarian di lorong panjang rumah itu. Ia melewati kamarnya dan juga kamar Reina hingga sampai di ujung, lalu berbelok menuju lorong lain yang menyatukan semua ruangan di lantai dua.
Keira dengan cepat memilih lorong yang akan membawanya menuju ruang baca. Ia mulai berjalan berjingkat agar suara ketukan sepatunya tidak menggema.
Dengan nafas yang hampir putus, Keira sampai di depan ruangan itu. Ia mengatur nafasnya kembali dengan susah payah. Jantungnya berdebar kencang akibat menaiki tangga dan berlarian dengan highheels. Keringat mulai membanjiri kening dan juga punggungnya.
Keira dengan cepat memasang telinga di daun pintu saat sayup-sayup terdengar suara ketiga orang itu bicara.