Bab. 21

1460 Kata
Pagi hari di kediaman Sanjaya Kesuma. Marta tengah sibuk mengatur bawahannya, meski tak seorang pun tinggal di rumah megah itu. Pemilik rumah, baik Sanjaya Kesuma maupun sang istri, Ayuningtias, sama sekali belum menampakkan batang hidung mereka. Sanjaya bahkan terakhir kali terlihat pulang ke rumah selama beberapa hari, setelah kedua putrinya pergi ke luar kota bersama supir terbaiknya. Sementara sang istri sama sekali belum menampakkan dirinya. Semua maid yang bekerja lama pada Sanjaya telah mengetahui kebiasaan buruk nyonya besar mereka. Ayuningtias jarang berada di rumah sejak wanita itu mengetahui bahwa suaminya telah berselingkuh di belakangnya dengan sekretaris pribadinya. Bukan tanpa alasan, Ayuningtias menikah dengan Sanjaya karena perjodohan yang dilakukan oleh dua keluarga yang telah lama bersahabat. Keluarga besar Kesuma dan juga keluarga besar Winata. Yang disatukan demi memperluas dan memperkuat status ekonomi mereka, bukan atas dasar cinta.  Pada awalnya, baik Sanjaya maupun Ayuningtias sama-sama menerima perjodohan itu. Hubungan mereka sangat harmonis, hingga mereka dikaruniakan seorang putri cantik yang diberi nama Reina Santika Kesuma. Bahkan semuanya masih baik-baik saja setelah kehadiran Keira ditengah keluarga mereka. Namun segalanya berubah saat Ayuningtias mendapati sang suami berselingkuh dengan wanita muda di salah satu kamar hotel Kesuma Grup. Suami istri itu kemudian bertengkar hebat untuk pertama kalinya. Bahkan Marta mengetahui segala hal yang terjadi di rumah megah itu. Demi bisa membalas rasa sakit hatinya, Ayuningtias melakukan hal yang sama dengan ikut berselingkuh bersama pria yang lebih muda dan gagah dari sang suami. Sejak saat itu, istana megah yang dibangun oleh Sanjaya Kesuma menjadi sepi tanpa penghuni. Tuan dan Nyonya rumah telah jarang kembali ke rumah dan berkumpul dengan kedua buah hati mereka yang saat itu masih berusia balita. Hanya Marta dan juga beberapa maid lain yang berusia lebih muda darinya, yang menjadi penghuni rumah megah itu. Marta yang merupakan kepala maid kepercayaan Sanjaya, diberi tugas tambahan untuk mengasuh dua buah hatinya, Reina dan Keira. Dibantu oleh dua maid lain, Ani dan Emi. Sejak saat itu, Keira dan Reina tumbuh bersama, saling melengkapi dan menguatkan. Tanpa kehadiran kedua orangtua mereka yang bahkan hampir tidak pernah mereka temui. Bisa dihitung dengan jari, berapa kali anggota keluarga itu bertemu muka di meja makan, dalam satu tahun. Dan jangan berpikir bila mereka akan saling memeluk dengan hangat atau bersenda gurau di ruang keluarga, karena itu tidak akan pernah terjadi. Hanya Marta, tempat berkeluh kesah kedua putri Sanjaya. Hanya Marta yang selalu dengan setia menemani mereka saat pergi ke sekolah atau bermain di taman. Dan dari Marta jugalah, Sanjaya dan Ayu mengetahui perkembangan kedua putri mereka, hingga keduanya beranjak remaja. *** Dua buah mobil sedan keluaran terbaru tampak melewati gerbang depan setinggi tiga meter, setelah seorang security membuka lebar gerbang setelah memeriksa dengan teliti siapa pemilik kedua mobil itu. Keduanya berjalan beriringan memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di pelataran depan. Marta mendengar dengan jelas suara kenalpot mobil sebelum mesin kedua mobil itu dimatikan. Gegas ia berlari dengan tergopoh-gopoh dari arah belakang saat Ani tiba-tiba muncul di ruangannya.  Gadis itu masuk dengan terburu-buru hingga lupa untuk mengetuk pintu, membuat Marta tersinggung dan memarahinya. "Apa kamu tidak bisa masuk dengan sopan? Seharusnya kamu mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk," bentak Marta saat menghampiri Ani yang berdiri dengan wajah pucat. "Ada apa?" tanya Marta, kedua alisnya hampir bertemu saat keningnya berkerut. "Ada tamu, Bu." Ani menjawab dengan nafas masih tersengal-sengal. "Siapa?" Ani menggeleng pelan. "Saya juga tidak tahu. Saya tidak pernah melihat mereka sebelumnya," sahut Ani mulai sedikit tenang. "Mereka? Maksud kamu?" Kening Marta semakin bertambah berkerut. "Ayo, Bu. Mereka sudah ada di depan." Ani menarik lengan Marta dan mulai berlari keluar ruangannya. "Kamu pergi ke dapur. Pesankan minuman untuk tamu," perintahnya saat mereka berpisah di depan dapur. Ani melangkahkan kakinya menuju dapur, sementara Marta berlari dengan tergopoh-gopoh ke pintu depan. Beberapa maid lain mengikutinya dari belakang. Mereka berbaris di pintu depan sambil menunduk, menyambut tamu penting keluarga Sanjaya. Dilihat dari dua buah mobil mahal yang terparkir di pelataran rumah, mereka bukanlah tamu sembarangan. Sepasang suami istri berusia paruh baya, turun dari salah satu mobil, setelah sang supir membukakan pintu untuk keduanya. Sementara dari mobil yang lain, seorang pemuda tampan turun dari balik kemudi. Marta sangat yakin bila pemuda itu adalah putra mereka. Ketiga orang itu berjalan beriringan menghampiri Marta di pintu masuk. "Selamat datang di kediaman Tuan Sanjaya Kesuma," Marta menyambut mereka di pintu masuk dengan senyum merekah di wajahnya. "Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya." Marta melayangkan tangannya ke depan, menuntun tamunya masuk menuju ruang tamu. "Dimana Sanjaya?" Pria tua paruh baya itu menoleh pada Marta. "Maaf Tuan, saya juga kurang tahu." Marta menyahut dengan kepala tetap menunduk. "Coba ditelpon, Pi. Katakan padanya kalau kita sudah sampai di rumah mereka." Wanita yang masih terlihat cantik meski dengan keriput disekitar matanya itu, meminta sang suami untuk menelpon si pemilik rumah. Sementara putra mereka berjalan mengitari seluruh ruangan di rumah megah Sanjaya. "Dimana Tante Ayu? Apa beliau juga sedang tidak berada di rumah?" tanya pemuda itu pada Marta dengan suara nyaring. Marta mengangguk cepat. "Benar, Tuan Muda." "Dimana Keira dan Reina? Kenapa mereka juga gak kelihatan disini? Apa mereka berdua juga sedang pergi?" Pemuda itu memberondong Marta dengan pertanyaan ketika ia berjalan kembali ke ruang tamu. "Maaf, Tuan Muda. Nona Keira dan Nona Reina saat ini juga sedang tidak berada disini," jawab Marta sopan masih dengan menunduk. "Loh... gimana ini, Pi? Mereka semua sedang tidak di rumah," ujar wanita paruh baya itu gusar. "Tenang aja, Mi. Sanjaya sendiri yang meminta kita untuk datang hari ini. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan pulang," kata pria itu tenang, mencoba menghapus rasa khawatir sang istri. Ia menggenggam tangan sang istri untuk menenangkannya. "Jadi, dimana kedua putri Sanjaya sekarang?" tanya pria itu. "Maaf, Tuan. Nona Keira sedang berada di Sumatera atas perintah Tuan Besar Kesuma. Dan Nona Reina ikut bersamanya." "Sumatera? Kapan? Bukankah kemarin Kakek Kesuma meminta Keira menangani hotel disini?" cecar pemuda itu. Raut wajahnya terlihat penasaran. "Benar, Tuan Muda. Sudah hampir dua minggu mereka berada disana," jelas Marta. "Kamu tahu dari mana, Banyu?" tanya sang ayah bingung. Pemuda tampan yang ternyata bernama Banyu itu menyunggingkan senyumnya tipis. "Kakek Kesuma mengumumkannya saat makan malam di rumah beliau waktu itu. Beliau memberikan jabatan untuk Keira di salah satu jaringan hotel Kesuma Grup. Tapi aku tidak tau kalau Keira bakal ditempatkan di Sumatera." Banyu berkata dengan sangat jelas. Suami istri itu saling melempar pandang. "Jadi bagaimana, Pi?" tanya wanita itu lagi. "Sabar dulu. Kita tunggu sebentar lagi," sahut suaminya. Keluarga itu duduk tenang, menunggu dengan sabar. Namun tidak untuk waktu yang lama, karena Sanjaya dan istrinya masih belum menampakkan diri mereka di rumah itu. Membuat keluarga itu menunggu dengan gelisah, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. "Tolong katakan pada Sanjaya, kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Karena saya juga memiliki tanggung jawab atas perusahaan saya," kata ayah Banyu sebelum beranjak pergi dari rumah megah itu. "Baik, Tuan."  Marta masih menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya, walau sekedar melirik wajah tamunya. Langkahnya mengiringi kepergian ketiga orang itu hingga ke pintu depan. *** Sekitar dua puluh menit setelah kepergian keluarga Banyu, sebuah mobil lain kembali masuk ke pelataran rumah. Marta yang baru saja kembali ke ruangannya, harus kembali bergegas lari menyongsong tamunya. Kedua netra tuanya membulat besar seketika kala menyadari bahwa Sanjaya lah yang berada di kursi penumpang belakang. Pria itu keluar setelah supir pengganti yang dikirim oleh Kakek Kesuma, keluar untuk membuka pintu bagi Sanjaya. Ia berdiri tegak seraya menghela nafas lega. Kemudian berjalan masuk tanpa menghiraukan Marta yang berdiri di ambang pintu menyambutnya. Pria itu berjalan tegak menuju ruang tamu. "Dimana keluarga Dimas Danuarta?" Suaranya terdengar menggelegar memenuhi ruang tamu. Marta segera berlari mendekat dan berdiri tepat beberapa langkah di belakang Sanjaya. "Maaf, Tuan. Mereka baru saja pulang," jawab Marta takut. Wanita itu meremas tangannya kuat. "Pulang? Kenapa? Saya sudah katakan pada mereka untuk menunggu. Kenapa mereka malah pergi?" Raut wajahnya terlihat sangat marah. "Maaf, Tuan. Tuan Danuarta mengatakan bila beliau sangat sibuk dan ada hal penting yang harus beliau kerjakan di perusahaannya." "Apa dia sendiri yang mengatakan hal itu?" Sanjaya melirik tajam pada maid kepercayaannya itu. "Benar, Tuan." Sanjaya menyentak nafasnya kuat, wajahnya terlihat gusar. Sesaat kemudian beranjak menuju lift. Meninggalkan Marta sendirian di ruang tamu. Tiga puluh menit kemudian, Sanjaya kembali turun. Ia terlihat segar dan berpakaian rapi. Marta dengan setia mengikuti langkah tuannya itu. "Saya keluar sebentar," katanya tanpa menoleh. Marta mengangguk. "Baik, Tuan." "Kalau Ayu sampai di rumah, katakan padanya agar jangan pergi kemana pun. Karena hari ini kita akan kedatangan tamu penting," ujarnya mengingatkan. "Baik, Tuan." "Hubungi Keira. Tanyakan kapan mereka akan kembali ke sini," sambung Sanjaya. "Akan saya kerjakan, Tuan." "Apa mereka pernah menelpon dan memberi kabar ke rumah?" Sanjaya berbalik, menatap Marta dengan seksama. "Tidak pernah, Tuan." Sanjaya menarik nafasnya dalam, matanya terpejam untuk sesaat. "Kalau begitu, saya pergi dulu," katanya setelah membuka matanya kembali. Sanjaya melangkah cepat masuk ke dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN