Alex membawa kakinya melangkah kembali ke hotel Santika Kesuma, tetapi tak hanya sendirian. Ada seseorang yang tengah duduk di sampingnya dengan raut wajah ditekuk marah.
Beberapa saat yang lalu ia dan teman-temannya berpisah setelah jam istirahat makan siang mereka berakhir. Teman-teman Alex kembali ke kantornya meninggalkan Alex yang masih duduk disana sendirian.
Selama hampir satu jam ia duduk menatap jendela kaca tembus pandang. Netra hitam kelam miliknya memandang ke segala arah, seakan sedang mencari sesuatu di luar sana. Dan benar saja, senyumnya melebar ketika menangkap sosok tubuh tinggi langsing tengah berjalan gemulai diantara desakan pengunjung mall, kemudian masuk ke salah satu toko pakaian.
Alex bangkit. Mengambil kesempatan itu itu untuk mendekati Reina kembali. Lelaki itu segera keluar dari restoran. Mempercepat langkahnya sebelum Reina menyadari keberadaan Alex tak jauh dari tempatnya berada.
"Gaun itu cocok banget buat kamu." Alex tiba-tiba muncul di belakang Reina, membuat gadis itu menatapnya kesal.
"Gak ada yang tanya komentar kamu!" balas Reina datar tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk memilih pakaian dari rak pajangan.
"Mau aku bantu pilihkan?"
Reina menyentak nafasnya kesal. Berusaha untuk tidak menghiraukan keberadaan Alex di sampingnya.
"Anggap saja dia itu cuma patung pajangan," gumamnya pelan, berusaha mengingatkan dirinya sendiri.
"Ambil ini! Kamu kelihatan cantik dengan semua baju ini." Alex menyerahkan beberapa potong pakaian yang telah dipilih olehnya ke tangan Reina. Mendorong paksa tubuh gadis itu masuk ke kamar ganti.
"Kamu apaan, sih? Aku gak mau! Kamu ngerti gak?"
Reina memekik kuat. Kemudian melempar semua pakaian itu ke wajah Alex, lalu meninggalkannya. Dua orang gadis pramuniaga toko sampai harus menahan senyumnya saat melihat adegan itu terjadi di depan mereka. Seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena beda pendapat.
"Reina!" panggilnya.
Reina tak menghiraukannya. Ia berjalan cepat keluar dari toko dengan wajah ditekuk. Minatnya untuk berbelanja sudah hilang sejak melihat wajah Alex di toko itu.
"Ada apa sih dengannya? Dari tadi buat kesal melulu. Niat buat nyantai malah dapat gangguan terus," gerutu Reina. Mulutnya terus berkomat-kamit sejak keluar dari toko pakaian tadi.
"Kenapa sih, seharian ini ketemu dia terus? Apa dia sengaja membuntuti aku, ya? Masa iya, sih? Tapi 'kan tadi ada teman-temannya juga?" Berondongan pertanyaan itu memenuhi otaknya, membuat kepalanya terasa berdenyut hebat.
Reina memandangi wajahnya di depan cermin di washtafel. Ia terpaksa menyembunyikan dirinya di dalam kamar mandi hanya agar Alex tak dapat menemukannya. Dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Reina menghela nafasnya pelan. Gegas keluar dari kamar mandi setelah yakin Alex tak lagi mengikutinya. Sengaja mengambil jalan memutar, memilih untuk keluar dari pintu lain agar tak berpapasan dengan pria paling menyebalkan itu lagi.
Tangan Reina terulur ke depan, menghentikan sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya. Baru saja pintu taksi dibuka saat seseorang menarik Reina dan membawanya pergi.
Lagi-lagi, Alex kembali membuat ulah dengannya. Pria itu tak membiarkan Reina pergi menaiki taksi. Sebaliknya, ia malah mendorong tubuh Reina masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk. Gadis itu ingin berontak, tapi tenaganya kalah kuat dibandingkan tenaga Alex yang memiliki tubuh kekar.
"Kamu apa-apaan, sih?" Pekik Reina marah. Bukannya menyahut, Alex hanya diam. Mobilnya perlahan melaju keluar dari area parkir mall menuju jalan raya.
"Alex! Turunin aku sekarang!" teriak Reina. Ia mulai kehilangan kesabaran dan mulai memukuli lengan kekar Alex.
Dengan cepat Alex menangkap tangan gadis itu, lalu menariknya mendekat. "Kamu bisa tenang, gak?"
"Aku gak akan bisa tenang!" balas Reina. Matanya melotot tajam.
Berada sedekat itu dengan Alex, merasakan hangat nafas pria itu di wajahnya, serta menghirup aroma maskukin yang menguar dari tubuh pria itu membuat jantung Reina berdebar kencang. Namun ia tetap berusaha menguasai kesadarannya.
"Kamu masih baru di kota ini. Jadi jangan coba-coba pergi sendiri atau kamu bakalan nyasar dan gak bisa balik. Paham?" dengusnya. Kemudian melepas tangan Reina perlahan.
Alex bisa melihat gurat kemerahan yang ia tinggalkan di kulit putih mulus gadis itu. Ada sedikit penyesalan karena telah membuat gadis itu kesakitan karena ulahnya tadi.
Hening. Reina diam membisu. Ia membuang tatapannya keluar jendela.
"Maaf," ucap Alex kemudian. Namun tak ada tanggapan. Reina masih tetap diam.
Mobil sedan hitam mengkilat itu melaju cepat membelah jalan. Perlahan menepi dan berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah berlantai sepuluh, Hotel Santika Kesuma.
"Silahkan kamu keluar sekarang. Aku tidak akan menahanmu," ujar Alex tenang, seolah tak terpengaruh atas sikap diam Reina.
Reina mendorong pintu mobil hingga terbuka. Kakinya telah berhasil menginjak aspal saat Alex kembali memanggilnya.
"Rein!" panggil Alex. Gadis itu menoleh ke arahnya.
"Ambil ini!"
Alex melangsir dua buah goody bag yang dia ambil dari bangku belakang ke tangan Reina.
"Jangan lupa tutup pintunya kembali," katanya tanpa menoleh.
Reina terlihat bingung sekaligus kesal dengan perubahan sikap Alex yang tiba-tiba. Kadang pria itu bersikap menyebalkan, lalu tiba-tiba bersikap manis padanya, setelah itu kembali berubah jadi sosok sedingin es.
Tak ingin ambil pusing, Reina membawa goody bag itu bersamanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan sebuah ucapan terima kasih. Ia pergi menjauh meninggalkan mobil sedan hitam milik Alex tanpa menoleh ke belakang.
***
Keira duduk tegak sambil bersandar di sofa kamar hotelnya. Tangannya bersedekap di depan dadanya. Tatapannya kosong memandang lurus ke depan. Raut wajahnya seperti tengah memahan amarah. Deru nafasnya menguasai ruangan itu. Sejak tadi ia duduk disana selama hampir setengah jam.
Pintu kamar didorong dari luar. Reina muncul di ambang pintu membawa wajah letihnya pulang. Suara helaan nafasnya terdengar lemah. Gadis itu bahkan masih belum menyadari keberadaan Keira di kamar itu karena lampu kamar yang sengaja dibiarkan padam.
"Kamu dari mana, Rein?" Pertanyaan itu berhasil mengejutkan Reina, nyaris membuat jantungnya lepas dari tempatnya.
"Ya ampun, sedang apa kau disitu, Kei?" Mata Reina membulat besar.
"Kau membuatku terkejut," sambungnya dengan nada marah. Kemudian berlalu masuk ke kamar tidur. Keira masih tetap bergeming.
Tak lama kemudian, Reina kembali keluar dengan rambut basah dan tubuh yang segar sehabis mandi dan berganti baju. Dan duduk tepat di samping Keira.
"Ada apa? Apa kau sedang marah pada ku?"
"Dari mana aja, kamu?"
"Aku cuma jalan-jalan keluar sebentar. Apa kau marah karena masalah ini? Ya ampun, Kei... aku hanya keluar sebentar aja."
"Sebentar? Lihat jam berapa sekarang! Kamu itu udah buat bingung semua orang, Rein! Gara-gara kamu, aku sampai marah besar sama Pak Abdi dan nyuruh dia buat nyari kamu!" bentak Keira frustasi.
Karena ulah sang adik, pekerjaannya jadi terganggu. Ia meminta beberapa karyawan hotel mencari Reina di seluruh area hotel, akan tetapi tak menemukan gadis itu dimana pun. Karena ulah sang adik juga, hotel menjadi gempar. Semua orang takut dipecat dari pekerjaannya hanya karena tak seorang pun melihat Reina keluar dari hotel. Karena ulah Reina juga, Pak Abdi masih belum kembali ke hotel hanya untuk mencari Reina.
"Seluruh karyawan heboh gara-gara ulah kamu, Rein. Semua orang mencari kamu kemana-mana, tapi gak ketemu juga. Kamu mau tahu, gimana paniknya aku saat tak seorang pun tahu dimana kamu? Aku hampir menelpon Kakek untuk memberitahunya kalau kamu menghilang dari hotel!" ujarnya murka. Wajah Keira berubah merah karena kemarahannya yang sudah memuncak terkumpul di ubun-ubun.
"Apa? Ya, Tuhan... aku minta maaf Kei."
Keira menarik nafasnya dalam-dalam. Emosinya tersulut, jantungnya kuat menghentak. Entah sampai kapan gadis itu akan membuatnya seperti ini
"Please, Rein. Bisa kan, berhenti buat aku cemas seperti ini? Kalau pun kamu ingin pergi sendirian, silahkan! Tapi beritahu aku, Rein. Biar aku jangan panik nyariin kamu kayak gini."
Reina menunduk gelisah. Tak menyangka ulahnya pergi diam-diam malah membuat semua orang kena getahnya.
"Aku minta maaf, Kei. Sungguh, aku minta maaf. Aku kesepian disini, jadi... aku jalan-jalan sebentar. Lagian, aku hanya pergi ke mall buat ngabisin waktu aja dari pada bengong di hotel." Reina berkata litih penuh penyesalan.
"Pergi ke mall?"
"Iya. Tempatnya gak jauh kok dari sini. Kamu bisa tanya Pak Abdi, karena sebelumnya kami sudah pernah pergi kesana."
"Kemana pun itu, kamu harus tetap memberitahu aku, Rein. Biar aku jangan panik seperti tadi."
"Iya, aku janji. Tolong jangan marah lagi," bujuk Reina setengah memohon.
"Iya. Tapi kamu mesti telpon Pak Abdi sekarang dan suruh dia balik. Aku gak tahu dia nyari kamu sampai dimana."
"Hmm... by the way, ini untuk kamu." Reina bangkit lalu masuk ke kamar. Meninggalkan dua buah goody bag pemberian Alex di atas meja.
Reina meraih ponselnya dari dalam tas. Sesaat kemudian, terdengar suara orang tengah berbincang dari arah kamar.
"Aku sudah menelpon dan meminta maaf padanya. Pak Abdi sedang dalam perjalanan pulang sekarang," teriak Reina dari dalam kamar. Keira menarik nafasnya lega.
Keira bangkit berdiri, menyusul Reina masuk ke dalam kamar sambil membawa goody bag itu bersamanya. Ia sama sekali belum membuka dan memeriksa isinya.
"Apa ini?" tanya Keira ingin tahu.
Reina mengedikkan bahunya ringan. "Aku juga gak tahu," sahutnya enteng. Kening Keira mengernyit.
"Loh, ini kan dari kamu. Masa sih gak tahu isinya?" tanya Keira bingung. Jawaban Reina memang tidak masuk akal. Tapi sungguh, karena bukan Reina yang membelinya.
"Bukan aku yang yang membelinya."
"Lantas? Siapa?"
"Alex."
"Alex?" Kening Keira mengkerut dalam. Netranya menyipit tajam, memandang Reina dengan ujung matanya.
"Iya. Itu pemberian Alex," jawab Reina jujur.
"Pemberian Alex? Kok bisa? Apa kamu tadi pergi bersama Akex?" cecar Keira antusias. Reina menggeleng.
"Aku ketemu dia pas pulang dari mall. Aku ketinggalan taksi karena ulahnya. Jadi, terpaksa dia mengantarku balik ke hotel. Dan itu pemberiannya. Buka aja!" terang Reina, membuat Keira sedikit merasa lega.
Tangan lentiknya mulai membuka perlahan dua buah goodybag itu dan menarik isinya keluar.
"Cantik banget, Rein." Pujian Keira membuat Reina tertarik lalu menoleh ke arahnya.
"Ini kan gaun yang aku coba tadi," ceplos Reina tanpa sadar ketika tangannya meraih gaun lain dari dalam goodybag.
"Apa? Maksudnya gimana?" tanya Keira bingung. Ia menarik sebuah gaun lain dari dalam goodybag di tangannya.
Sekejab, mata Reina membulat lebar saat sadar Keira tengah menatapnya serius. Buru-buru gadis itu memikirkan jawaban paling masuk akal agar tidak ketahuan telah berbohong.
"Oh, itu. Tadi aku sempat mencoba beberapa gaun di toko baju tadi. Tapi aku batal membeli karena sempat adu mulut dengan mbak-mbak pramuniaga di toko itu," sahut Reina dengan raut wajah meyakinkan, sementara jantungnya sudah berdebar gak karuan.
"Emangnya kenapa?" tanya Keira penasaran.
"Aku coba beberapa gaun, lalu minta mbaknya untuk ambilkan ukuran yang lebih kecil. Tapi mbaknya malah marah, dia pikir aku hanya ingin coba-coba doang. Dia gak sadar lagi ngomong sama siapa. Kalau perlu, itu toko juga bisa aku beli." Reina mengeluh kesal.
"Kok gitu sih, mbaknya. Dimana-mana juga pembeli boleh minta ukuran yang pas buat dicoba." Keira ikut mengomel. Reina tersenyum tipis.
"Makanya aku batal beli. Tapi, aku heran kenapa Alex malah beli gaun ini dengan ukuran yang aku minta sama mbak tadi, ya?" celetuk Reina.
"Benarkah?" Keira ikut memeriksa ukuran gaun yang sedang ia pegang dengan seksama.
"Masa sih, Alex bisa tahu persis ukuran kita, Rein?" Kening Keira mengkerut.
Reina menggeleng pelan. "Aku juga sama bingungnya denganmu, Kei."
"Yakin ini semua dari Alex?" ujarnya memastikan. Reina mengangguk cepat.
"Tentu saja. Alex baru memberinya saat aku turun dari mobilnya tadi. Kamu bisa tanya langsung padanya besok," pungkas Reina. Gadis itu pun saat ini sama bingungnya dengan sang kakak.
Ia memang telah berbohong tentang pertemuannya dengan Alex saat di mall tadi, serta ulah pria itu sejak Reina bertemu tanpa sengaja dengannya. Ketika Alex memperkenalkannya sebagai pacar di depan teman-temannya. Hingga saat pria itu menghentikan langkahnya saat akan menaiki taksi untuk kembali ke hotel. Akan tetapi, ia juga sama bingungnya dengan sang kakak, saat mendapati isi dari goodybag pemberian pria itu.
Tak hanya cantik, ukuran semua gaun itu pas di tubuh mereka. Dan tentu saja, harga yang tertulis di label baju itu cukup mahal. Dan Alex memberikan semua baju itu untuk mereka dengan cuma-cuma? Tentu saja, tidak mungkin pria itu mau melakukannya tanpa motivasi lain di belakangnya.