"Selamat pagi, Bu Keira. Bagaimana liburan anda?" Seorang pria datang mendekat padanya ketika Keira berada di restoran dan tengah bersiap untuk menyantap sarapan paginya.
Dengan sangat terpaksa Keira menurunkan sendoknya kembali hanya demi menyapa pria yang kini duduk di seberang mejanya tanpa permisi. Sebuah senyuman ia sunggingkan dengan amat terpaksa.
"Oh, hai... selamat pagi," sapa Keira kembali dengan kesan ramah yang dibuat-buat. "Ayo sarapan!" tawarnya kemudian.
Pria itu mengatupkan kedua tangannya dan dengan cepat menariknya kembali sebagai tanda penolakan. "Terima kasih, saya baru saja sarapan," sahutnya.
"Kalau gitu, tolong beri saya waktu untuk menyelesaikan sarapan saya." Keira berbicara tanpa basa-basi. Tak perduli jika pria itu tersinggung, karena dialah yang lebih dulu datang dan mengganggu acara sarapan paginya.
"Silahkan."
Keira mengalihkan tatapannya turun pada piring di depannya, dimana isinya bahkan belum berkurang walau sesendok. Ia menyuap sesendok demi sesendok, mengunyah dengan kuat lalu menelannya, sedikit pun tak memberi perhatiannya ke arah lain.
Keira seakan tak melihat pria itu ada disana, tepat di depannya. Sebuah sentuhan ringan di pundaknya mengejutkan Keira untuk beberapa saat. Membuatnya memutar tubuh, untuk melihat pelaku di belakangnya.
"Enak banget ya, sarapan ditemani sama cowok ganteng." Suara cekikikan Reina membuat otaknya mendidih.
"Apaan sih, Rein. Gak lucu!" Keira menekuk bibirnya. Satu helaan nafas berhembus pelan.
"Hai... kamu Alex, kan?"
Lontaran kalimat dari mulut Reina sukses membuat Keira melotot lebar ke arahnya. Terkejut? Tentu saja. Sejak kapan adiknya itu mengenal sosok pria paling menyebalkan yang bernama Alexander.
"Tentu saja. Ternyata kamu masih ingat padaku." Alex tersenyum lebar membuat Reina berbinar malu.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Reina bertanya dengan mengabaikan rasa malunya.
"Aku hanya duduk disini. Dan kamu? Sedang apa kamu disini? Apa kalian saling mengenal?" Alex menjatuhkan pandangannya pada kedua gadis itu bergantian. Sebuah kejutan karena keduanya ada di tempat itu bersamaan.
Keira masih bergeming. Memfokuskan pandangannya pada makanan yang tersisa separuhnya. Namun tetap memasang telinganya pada pembicaraan keduanya tanpa menyela. Ingin mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut adiknya.
"Keira adalah kakakku. Kakak paling cantik dan paling baik sedunia." Sebuah pujian terlontar membuat Keira tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak seorang pun menyadarinya.
Pengakuan itu tentu saja membuat Alex terkejut sekaligus terkesima. Dua gadis cantik di hadapannya, mempunya sifat yang saling bertolak belakang. Yang satu, sedikit tertutup namun tegas, membuat lelaki merasa penasaran dan tertantang untuk mendekatinya. Sementara yang lainnya, cantik, ramah, dan manja. Terlalu manis untuk dijadikan sebagai kekasih.
"Benar 'kan, Kei?" Reina menarik tubuhnya mendekat pada Keira.
"Hmm."
"Kamu percaya sekarang?" Tatapannya kini beralih pada Alex yang bertopang dagu di atas meja. Memperhatikan kedekatan dua kakak beradik itu.
"Percaya." Jawaban paling singkat dari seorang Alex, yang pernah Keira dengar.
"Oke, aku sudah selesai!" Keira mengusap bibirnya dengan tissu. Meninggalkan bercak lipstik kemerahan disana.
"Ayo, Rein!" Keira bangkit.
"Mau kemana? Aku baru akan sarapan."
"Ya sudah. Kalau gitu aku pergi duluan. Ada laporan yang harus aku selesaikan," katanya sebelum beranjak pergi. Kali ini tanpa menoleh pada Alex.
"Silahkan." Alex bangkit berdiri, mempersilahkan dengan sopan. Menatap kepergian gadis itu hingga menyisakan bayangannya yang perlahan hilang di ujung pintu.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Keira? Dia bahkan tidak pernah bercerita tentangmu," cecar Reina disaat Alex kembali menempati kursinya.
"Benarkah? Apa dia sama sekali tidak membicarakanku?" Bukannya menjawab, Alex malah kembali melontarkan pertanyaan pada Reina, yang dibalas dengan gelengan kepala.
Alex menunduk, merasa sedikit kecewa.
"Apakah tidak ada sesuatu di diriku yang membuatnya tertarik?" pikirnya. Sejenak kedua alisnya berkerut.
"Kenapa? Sejak kapan kamu mengenal Keira?" Reina kembali bertanya.
"Kami baru bertemu kemarin. Ada hal yang harus aku bahas dengan pemilik hotel ini, dan sayangnya... beliau tidak bisa datang."
"Jadi... klian yang dibicarakan Pak Robert itu kamu? Jadi, kemarin Keira meeting seharian bareng kamu, ya?" tanya Reina memastikan. Sayangnya, itu memang benar. Orang itu adalah Alexander, yang ditabrak olehnya di depan lift.
"Dari mana kamu tahu?" Alex balik bertanya.
"Karena saat itu aku mencarinya, ingin mengajaknya makan siang dan kebetulan bertemu dengan Pak Robert."
"Itu artinya, kamu dan Keira adalah putri dari pemilik hotel ini?"
"Bisa ya, bisa juga tidak!"
Kening Alex mengkerut bingung. "Jawabanmu terdengar ambigu, dan jelas aku tidak mengerti."
"Kau tidak perlu mengerti apapun," sahut Reina. Alex diam, tak ingin berdebat lagi.
***
Siang ini, Reina kembali merasa kesepian di kamarnya. Tak ada yang dapat ia lakukan. Berjalan-jalan di sekitaran hotel membuatnya merasa bosan. Ingin duduk di klub, Reina masih terlalu takut. Lagipula, klub masih belum beroperasi disiang hari.
Reina berulang kali menghela nafasnya. Benda pipih favoritnya kini telah berubah menjadi benda paling membosankan. Hanya berselancar di dunia maya, tak ada hal lainnya. Bahkan keluarganya pun tak pernah menelpon atau sekedar menanyakan kabarnya. Seakan tak ada yang merasa kehilangan serta merindukannya. Bahkan kedua orangtuanya.
Dengan malas, Reina duduk di meja rias. Memandangi wajahnya yang tanpa cela. Wajah cantiknya yang tak pernah mendapat pujian bahkan dari mamanya sendiri. Reina tersenyum getir. Merasakan sakit yang hanya dia sendiri yang tahu.
Tangannya mulai menyisir rambut bergelombang keemasan miliknya. Membiarkannya terurai bebas. Sebuah penjepit berhiaskan dua buah mutiara berwarna keperakan menghias rambutnya. Wajahnya dipoles dengan riasan natural, membuatnya terlihat semakin manis. Dengan bibir lembut berwarna kemerahan.
Reina keluar dari kamarnya. Mengenakan jeans dan blouse warna senada. Dengan slingbag dan flatshoes yang baru ia beli tempo hari.
Dengan dandanan seperti itu, tak seorang pun akan mengenali dirinya. Tak seorang pun akan mempercayai jika ia mengatakan bahwa dirinya adalah putri seorang pengusaha hotel terkenal. Seorang ahli waris dari pemilik jaringan hotel terbesar di Indonesia. Anggap saja itu sebagai samaran agar dirinya terhindar dari pencari berita yang gencar mengikuti kemana pun mereka pergi.
Kali ini, Reina sengaja tak membawa Pak Abdi bersamanya. Keberadaan Pak Abdi hanya akan membatasi geraknya karena wajahnya yang telah dikenali. Ia mengayunkan langkahnya keluar dari pintu hotel. Tangannya terangkat, memberhentikan sebuah taksi yang lewat di depan hotel.
Berbekal informasi yang didapatnya dari aplikasi yang terpasang di ponselnya, Reina akhirnya tiba di depan pelataran sebuah mall. Tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya.
Reina menghela nafasnya lega. Satu kakinya turun saat pintu mobil baru terbuka. Lalu menyusul kakinya yang lain, menginjak lantai dan berdiri kokoh di samping taksi yang mulai bergerak pergi dengan perlahan.
Dengan gaya yang anggun, Reina mulai melangkah masuk. Melewati kerumunan orang di dalam mall.
Kali ini bukan untuk berbelanja, atau menghabiskan semua uang saku yang baru diterimanya beberapa hari yang lalu. Reina hanya ingin menghabiskan waktunya diantara keramaian orang. Membuang rasa kesepian yang menguasai dirinya. Dia butuh seseorang. Dia butuh teman. Reina lelah sendirian. Menjadi kaya tak lantas membuatnya bahagia.
"Sedang apa disini?" Sebuah suara mengejutkan Reina. Jantungnya berdebar kencang, nyaris membuat nyawanya lepas dari tubuhnya.
"Alex?" Reina bergumam.
"Iya. Ini aku. Sedang apa kamu disini?" Lelaki itu mengulang pertanyaannya.
"Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu disini? Apa kamu membuntutuiku sejak tadi?" Reina melempar tuduhan itu padanya.
Jelas sekali, kan? Mereka selalu bertemu tanpa disengaja. Dan sekarang, di mall juga? Ini tempat yang luas dan ramai. Sangat sulit bertemu orang yang dikenal tanpa disengaja. Alex pasti telah membuntutinya sejak keluar dari hotel.
"Hei, hei, hei... jangan asal menuduh orang seperti itu!" Alex mundur selangkah, menciptakan jarak aman diantara mereka. Kedua tangannya terangkat naik di depan d**a, tanda menyerah.
"Lalu, sedang apa kamu disini?" Reina membuat Alex terpojok dengan tatapan matanya yang tajam menusuk.
"Oke, oke! Aku hanya makan siang bersama teman-temanku. Aku melihatmu jalan sendirian, karena itu aku kesini."
Reina menyipitkan matanya. Alasan Alex sangat sulit untuk dijadikan bukti bahwa pria itu tidak berbohong padanya. Alasan klise! Makan siang bersama teman. Jelas sekali bila gadis itu tidak bisa percaya begitu saja.
"Ayo!"
Alex menarik tangan Reina. Menggenggam tangan mungil itu dalam jemarinya. Membawa gadis itu setengah berlari kala mengikuti langkah kaki Alex, ketika pria itu membawanya masuk ke sebuah restoran.
Kedua mata Reina membelalak lebar. Alex benar-benar membawanya menemui teman-temannya. Tatapan mereka jelas membuat Reina risih.
"Kenalkan, mereka adalah sahabatku sekaligus rekan kerjaku." Alex memperkenalkan mereka tanpa sungkan.
Sumpah, Reina mengumpat kesal dalam hati. "Bodo amat! Aku gak perduli siapa mereka!" bisiknya pada diri sendiri.
"Dan ini... Reina. Pacar aku!"
"What? Gila kali ya, ini orang? Seenak jidatnya ngaku-ngaku sebagai pacar." Reina mengumpat kesal dalam hati. Berulang kali ia memaki tanpa bersuara.
"Apa-apaan si, Lex?" gerutu Reina. Tatapannya menajam saat Alex tak juga meralat perkataannya.
Dengan kuat Reina menghempas tangan Alex hingga genggaman itu terlepas.
"Gak lucu!" Reina memekik marah sebelum meninggalkan pria itu bersama teman-temannya itu.
Reina berlari menjauh secepat yang ia bisa. Sementara Alexander hanya menatap kepergian gadis itu dengan seringaian di bibirnya, hingga Reina menghilang di balik pintu dan berbaur di antara pengunjung mall.
"Sialan! Dasar cowok gila! Seenaknya aja ngomong seperti itu," gerutu Reina. "Untuk apa dia bicara seperti itu sama mereka." Reina menekuk wajahnya. Nafasnya masih memburu akibat berlarian tadi, demi menghindari cowok gak jelas seperti Alexander.
Sementara itu, Alexander harus menahan rasa malu di hadapan sahabatnya, karena perlakuan Reina padanya. Baru kali ini dirinya ditolak oleh seorang gadis.
Di kota ini, siapa yang tak mengenal Alexander Baldwin. Seorang eksekutif muda keturunan beda negara, ayahnya berasal dari Indonesia, sementara ibunya keturunan Timur Tengah. Perpaduan banyak negara yang akhirnya membuat Alexander memiliki paras tampan khas Timur Tengah, dengan mata tajam dan alis tebal, serta bulu-bulu halus di wajah dan juga bagian tubuhnya yang lain.
Baru kali ini ada seorang gadis yang dengan berani menolaknya. Biasanya, para gadis akan datang mendekat dan berusaha menggodanya. Banyak dari mereka bahkan ditolak secara langsung agar jera dan berhenti mengejarnya. Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi seorang Reina Santika Kesuma.
Sikap rmanis, ramah dan manja yang sempat Reina tunjukkan padanya, ternyata tak lantas membuat gadis itu mudah untuk didapatkan. Sepertinya Alex harus berusaha lebih keras jika ingin mendekati Reina dan mendapatkan kepercayaan Reina kembali.
"Lihat aja! Suatu saat, kamu pasti bisa aku dapatkan, Rein." Alex berjanji pada dirinya sendiri.