Bab. 18

1242 Kata
Reina merentangkan kedua tangannya lebar. Menatap matahari yang bersinar angkuh dengan mata terpejam kuat. Indra penciumannya menghirup udara sekuat paru-parunya menyerap oksigen yang dibutuhkan otaknya untuk tetap mampu berpikir. Angin laut berhembus kencang, menerpa kulit wajahnya yang halus bening. Menggoyang beberapa helai anak rambut yang jatuh di atas pipinya, memancarkan kesan seksi seorang Reina Santika Kesuma. Tak banyak orang yang mengenali dirinya dan Keira. Membuat mereka merasa nyaman karena tidak perlu menutup-nutupi jati diri mereka. Tidak perlu pengawalan. Tidak perlu merasa khawatir dibuntuti oleh orang asing dan juga orang iseng. Tidak perlu memakai topeng, hanya untuk menjaga imej dan nama baik keluarga. Disini, di kota ini, di pantai ini, siang ini, mereka adalah orang asing. Hanya dua oranh pendatang baru yang datang untuk sekedar membuang beban dan melepaskan penat. Tak ada yang harus dicemaskan. Baik Reina maupun Keira, mereka berdua bebas menjadi diri mereka sendiri. Sementara Keira, gadis itu berjalan menyusuri pasir putih di pesisir pantai dengan kaki telanjang. Merasakan sensasi geli di bawah telapak kakinya saat kulitnya bergesekan dengan pasir pantai. Ia sama bahagianya dengan Reina. Sama bebasnya dan sama puasnya dengan gadis itu. Langkah Keira memelan, menikmati pemandangan ombak laut yang bergelung datang memecah karang. Berakhir di atas pasir putih dan sesaat kemudian kembali terhisap ke laut. Ia memalingkan wajahnya, memandang Reina yang kini berjalan turun memijak air laut. Adik kecilnya itu sengaja membiarkan betisnya yang putih mulus dibasahi air asin yang terasa dingin saat menyentuh kulit. Gadis itu kemudian berlarian kecil sambil tersenyum ke arahnya, menciptakan cipratan air yang ikut membasahi kaki bagian atasnya. Keira ikut tersenyum. Dengan cepat mengambil ponselnya. Menangkap semua momen indah dalam bentuk gambar digital, sebagai kenang-kenangan. Seperti fotografer handal, Keira bergerak lihai, menangkap setiap pergerakan Reina. Saat gadis itu tertawa riang, kala ia berlarian di atas air asin, ketika ia berjongkok bermain pasir, atau menyepak air laut yang membuat pakaiannya ikut menjadi basah. Tak ada yang terlewat. Reina bahagia. "Kei..." panggil Reina. Tangannya melambai, seakan meminta sang kakak untuk mendekat padanya. Keira mengerti dan langsung datang mendekat. Sambil menenteng sendal di tangan kirinya, ia menyusuri garis pantai hingga berhadapan langsung dengan gadis itu. "Kenapa?" "Panggil mereka berdua ke sini. Mereka pasti bosan di mobil terus." "Kenapa? Mereka 'kan bebas mau kemana aja. Yang penting itu kamu. Kamu 'kan yang ingin liburan?" cibir Keira dengan senyum mengejek. "Iih, apaan sih, Kei? Kita semua datang kesini 'kan untuk liburan, untuk senang-senang." Reina melayangkan protes. Bibirnya monyong lima senti. "Udah, jangan sewot gitu. Mereka ada disana, kok." Keira menunjuk ke arah dua pria yang tengah asyik ngobrol di dalam pondok yang berjejer cantik di pinggir pantai. Seperti dua orang yang telah lama saling mengenal, mereka saling bertukar cerita, dan menunjukkan raut wajah berbeda tiap kali berganti topik. "Kesana, yuk!" ajak Reina. "Mataharinya udah mulai terik." "Kamu duluan aja. Aku mau pesan makanan dulu buat kita," sahut Keira, sambil memandang kepergian Reina. Gadis itu berjalan menjauh dan kembali berkumpul dengan dua pria yang duduk santai menikmati angin laut. Tak lama, Keira kembali bersama dua orang yang berjalan membuntutinya sambil membawa masing-masing sebuah nampan besar di tangan mereka. Sudah jelas jika itu adalah pesanan Keira untuk santap siang mereka. Reina mulai menelan ludah, saat makanan itu mulai disajikan di depan mereka. Aneka hidangan seafood kesukaannya. Keira sangat yakin, jika gadis itu akan melupakan sopan santun dalan menyantap makanan bila dihadapkan dengan makanan super menggiurkan di depannya. Hingga orang ketiga datang membawa sebuah nampan besar lagi, yang berisikan minuman dan juga nasi. "Terima kasih, ya, Mbak, Mas." Keira melayangkan senyum ramah pada ketiga pelayan pengantar makanan itu. Mereka berempat mulai menikmati hidangan itu. Tak ada yang bicara membuka suara. Hanya terdengar suara debur ombak dan teriakan keramaian dari pengunjung lain. Sesekali terdengar suara decapan saat makanan itu masuk ke mulut mereka. Dengan lahap Reina mengeksekusi aneka hidangan makanan laut di depan mereka tanpa rasa malu. Jika dirasa kurang, Keira dengan senang hati akan memesannya kembali. Tapi, tidak! Reina harus bisa menjaga pola makan demi bentuk tubuh idamannya itu. Keira hanya memperhatikan Reina. Adiknya itu sangat beruntung karena lahir sebagai anggota keluarga Kesuma. Apapun yang ia inginkan akan selalu terpenuhi. Meskipun beban yang ia sandang sebagai ahli waris Kesuma sangat berat. Tetapi Reina tak pernah sedikit pun memikirkan semua itu. Berbeda dengan sang adik, Keira malah menjadi sedikit sensitif saat mengetahui kebenaran tentang dirinya. Apapun yang ia lakukan saat ini, hanyalah sebagai bentuk balas budi atas kebaikan keluarga itu padanya selama ini. Meskipun tak seorang pun yang meminta hal itu darinya. "Setelah ini aku ingin main wahana air. Apa kau ikut?" ajak Reina. Sementara ia bicara, mulutnya masih penuh dengan makanan. "Tidak, terima kasih. Aku akan duduk disini aja dengan Pak Abdi. "Ayolah, temani aku. Kita tidak bisa setiap hari datang ke tempat ini," mohon Reina, sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Bisa bayangkan bagaimana jika orang lain yang berada di posisinya? Mungkin akan dengan tegas menolaknya. Tetapi Keira selalu saja sulit untuk menolak. Mungkin karena ia merasa bahwa dirinya hanya memiliki Reina sebagai keluarga. Mungkin itulah alasan kenapa mereka selalu menganggapnya tidak pernah ada dan selalu cuek padanya. "Kei!" panggil Reina lagi. Seketika bayangan masa lalunya melayang hilang, membuat Keira tersadar. "Iya, iya... aku mendengarnya. Tapi tunggu setelah perutku selesai mencerna semua makanan itu di dalam sana." "Terserah kamu aja!" dengus Reina sebal. Keira tersenyum tipis. "Apa kau sudah memberi tahu Kakek kalau hari ini kita liburan?" ujar Reina mengingatkan. Keira mengedikkan bahu tanpa beban dan tanpa rasa bersalah. "Biarkan aja Pak Robert yang mengatakannya. Itu sudah jadi tugasnya untuk memberi laporan pada Kakek." "Kau tega banget mengkambing-hitamkan Pak Robert, Kei. Jangan seperti itu, dia itu cowok baik, loh. Dia juga tampan. Kalau dia belum menikah, apa kau mau dengannya?" Reina tak dapat menyembunyikan raut wajahnya, ia tersenyum geli. "Apa maksudmu, hah? Apa kamu sengaja ingin membuatku marah?" Keira mencubit pipi Reina gemas. "No! Aku hanya bercanda. Dan stop mencubit pipiku! Nanti pipiku melar, gimana? Mau tanggung jawab?" Reina mencebik kesal. Kedua tangannya mengusap pipi yang kini berwarna kemerahan. "Makanya, jangan suka bicara ngasal seperti itu! Apa kamu pikir aku gak bisa cari pacar sendiri? Apa kamu ingin bertaruh denganku?" Keira memekik marah, merasa direndahkan oleh adik sendiri. "Iya, maaf deh kakakku sayang..." Tangannya membekap mulutnya agar tawanya jangan meledak. *** Hari menjelang sore ketika mobil yang mereka tumpangi keluar dari area perkiran pantai. Langit telah berubah kemerahan yang sebentar lagi akan berganti oleh gelapnya malam. Sementara angin laut berhembus semakin kencang, membawa deburan ombak naik lebih tinggi ke permukaan pantai. Reina menyetel sandaran kursinya rendah agar bisa sedikit berbaring. Pun dengan Keira, melakukan hal yang sama seperti Reina lakukan. Merebahkan tubuhnya, memejamkan mata kemudian tertidur pulas, dengan headset menempel di telinga keduanya. Berlari berkejaran di air, bermain wahana air, lalu berenang. Keduanya kini tertidur karena kelelahan. Berbeda halnya dengan kedua pria yang duduk di bangku depan, yang menghabiskan siangnya dengan mengobrol lalu tiduran melepas kantuk. Mobil berjalan dengan kecepatan normal. Melintasi perkebunan sawit yang membentang panjang, memberikan kesan seram karena mereka melintas saat hari hampir gelap. Ditambah jalanan gelap dan sepi tanpa lampu penerang. Satu jam lebih, akhirnya mereka tiba di kota Medan. Sang supir langsung membawa mereka menuju hotel. Keira dan Reina membuka mata saat mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pelataran hotel. Ketiganya segera turun sambil menenteng barang masing-masing. Tanpa basa-basi, mereka langsung naik ke lantai atas. Keira merasa tubuhnya hampir rontok karena kelelahan. Dan tak berniat untuk bertemu dengan siapapun atau melakukan tugas apapun. Fix! Keira memutuskan untuk beristirahat, bahkan hingga mereka melewatkan jam makan malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN