Bab. 17

1574 Kata
"Apa maksud kamu ngomong seperti itu sama Pak Abdi tadi?" bahas Keira saat mereka tengah duduk santai sambil menonton televisi. "Gak ada. Aku cuma iseng aja ngomong kayak gitu," katanya mencari-cari alasan. Tangannya memeluk bantal, sementara matanya fokus menatap layar televisi. Merasa tak bisa dipercaya, Keira menatap sinis adiknya itu. Kedua matanya memicing. "Jangan bohong padaku!" tukasnya. Reina menghela nafasnya. "Aku serius. Aku cuma bercanda aja. Sumpah!" Ia mengangkat dua jarinya ke udara. "Jangan bersumpah palsu di depanku. Aku tahu kapan kamu jujur atau berbohong, Rein. Kita besar bersama, jadi jangan coba-coba untuk membodohiku!" Keira mendengus kesal. Reina terkekeh. "Iya, kakak ku sayang." Dicubitnya gemas kedua pipi Keira, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih mulus itu. "Aauww..." jerit Keira. "Sakit banget, Reina!" protesnya marah. Bukannya menyesal, Reina malah tertawa semakin keras. "Kei," panggilnya saat keadaan mulai normal kembali. "Hmm..." sahutnya malas. "Kapan kita pulang?" "Kenapa? Apa kamu bosan disini? Kalau bosan, aku akan minta Pak Abdi untuk menemanimu pulang." "Bukan begitu!" "Lalu apa?" "Aku hanya merindukan rumah. Tapi aku ingin pulang bersamamu." Reina berbaring di sofa, tepat di samping Keira. Membuat gadis itu menarik nafas panjang. "Aku belum bisa pulang. Mungkin aku harus tinggal lama disini, karena Kakek memintaku mempelajari dan memahami tugas setiap posisi jabatan di hotel ini." "Tapi sampai kapan?" Keira mengedikkan bahunya. "Gak tahu. Tanya aja langsung pada Kakek, mungkin Kakek mau berbaik hati dan menarikku kembali ke Jakarta." "Kau tahu, Kei. Aku rindu rumah kita. Aku rindu kamarku. Dan aku rindu kita yang dahulu." "Kau mungkin bisa melayangkan protes pada Kakek tentang itu. Tapi, aku rasa Kakek tidak akan mendengarkanmu." Reina bangkit dan duduk tegak menghadap Keira. "Kenapa? Kenapa Kakek seperti memaksamu melakukan semua ini?" "Kamu masih tidak mengerti juga? Kakek lakukan ini semua untuk kebaikan kita. Kamu tahu kenapa Papa memaksa kita untuk kuliah dan mengambil kelas Manajemen Bisnis dan Perhotelan? Semua itu mereka lakukan agar kita bisa meneruskan usaha perhotelan yang mereka bangun dengan susah payah demi masa depan kita, Rein." "Tapi apa gunanya? Punya semua ini dan kita masih harus disusahkan dengan semua t***k bengeknya. Jadi, kapan kita bisa menikmatinya? Kapan kita bisa bersenang-senang?" keluh Reina. "Suatu saat kamu pasti akan mengerti, Rein." "Aku gak akan bisa ngerti, Kei. Kalau demi semua ini kita harus rela jauh dari Papa dan Mama sejak kita masih kecil. Membuat kita kehilangan kasih sayang mereka. Mereka bahkan tidak pernah bertanya, apa kita bahagia atau tidak? Mereka gak pernah tanya, gimana sekolah kita? Gimana teman-teman kita? Mereka bahkan gak pernah tau kalau kita gak pernah punya teman sampai saat ini. Ini menyedihkan, Kei! Dan disaat kita dewasa, tiba-tiba mereka menyerobot masuk dan mengambil hak kita lalu sesuka hati memerintah kita untuk bekerja." Pekik Keira lirih. Menumpahkan semua unek-unek di hatinya. Rasanya ingin sekali ia menjerit kuat sambil mengumpat hingga puas. Melepaskan beban itu dari hati dan pikirannya. Air matanya tak terbendung lagi. Tumpah ruah membasahi pipinya. Sudah lama ia memakai topeng, berpura-pura bahagia dan tersenyum lebar. Keira menariknya, memeluk Reina seperti yang biasa ia lakukan untuk menenangkan gadis itu. Sebuah pelukan hangat dari keluarga, itu yang Reina butuhkan saat ini. Keira tak mengatakan apapun. Apa yang Reina katakan, ia pun merasakan hal yang sama. Mereka sama-sama merasa kesepian. "Bisakah besok kau cuti? Kakek tidak akan tahu kalau kau mengambil libur sehari aja," pintanya. Keira melerai pelukannya. "Untuk apa mengambil cuti?" "Kita liburan. Aku ingin liburan ke pantai denganmu. Boleh, kan?" "What? Tolong jangan bercanda denganku," timpal Keira. Keningnya terlihat mengkerut. "Kita bahkan gak tahu dimana letak pantai, di kota ini." Keira menyambung kalimatnya "Iya, benar. Tapi 'kan ada supir yang bisa mengantar kita kesana, Kei." Keira terlihat sedang memikirkan sesuatu, matanya berputar-putar. "Aku gak yakin, Rein. Aku khawatir kalau Kakek sampai diberitahu kalau aku bolos bekerja. Kita berdua pasti bakalan dimarahi." "Udah, tenang aja. Kalau perlu, aku akan minta ijin sama Kakek. Gimana? Mau, kan? Aku mohon..." "Hmm... ya sudah." Keira mengusap kepala adiknya gemas saat gadis itu tersenyum penuh kemenangan. "Jangan luoa memberi tahu Pak Abdi, supaya besok pagi dia bisa langsung bersiap-siap." Reina coba mengingatkan sang kakak. "Benar juga." Keira berlari masuk ke dalam kamar tidur untuk mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di atas nakas. Jari jemari Keira ligat menari-nari di atas layar pipih ponsel pintarnya. Merangkai kalimat yang akan ia kirimkan pada Pak Abdi. Keira sangat yakin bila lelaki tua itu baru saja balik ke kamarnya setelah makan malam. "Oke, beres!" Ponsel itu kembali disimpan ke tempat semula. *** Pagi-pagi sekali Keira terbangun dari tidurnya. Ia mulai bersiap-siap untuk perjalanan mereka hari ini. Pantai. Itulah tempat tujuan mereka. Dan ia mulai berkemas, membawa beberapa benda yang cukup berguna. Beda halnya dengan Reina. Gadis itu masih molor di bawah selimutnya yang hangat dan nyaman. Dan mungkin saja ia sedang bermimpi indah. Masih terlalu pagi untuk bangun, tapi mereka bisa telat karena ulahnya. Keira terpaksa membangunkannya lebih awal. "Rein, ayo bangun. Sudah pagi, kita bisa-bisa terlambat untuk pergi." Reina menggeliat di bawah selimutnya. Terpaksa membuka matanya lebih awal dibanding hari-hari sebelumnya, jika tak ingin sang kakak membatalkan rencana liburan mereka. "Kita berangkat jam berapa?" Suara serak Reina menghentikan aktivitas Keira sejenak. "Jam delapan," sahutnya. "Bangunlah. Kau harus bersiap-siap sekarang. Atau kita akan terlambat." "Jam berapa sekarang?" "Jam enam lewat dua puluh menit. Ayolah! Kita gak tau dimana pantainya dan butuh berapa jam untuk sampai disana." "Aku akan memesan sarapan untuk kita sebentar lagi," sambung Keira lagi. "Iya, iya. Aku sudah bangun." Dengan malas Reina bangkit dan mulai berjalan mondar-mandir seperti yang Keira lakukan. Mulutnya menguap beberapa kali. Tepat di jam tujuh lebih tiga puluh menit, seorang karyawan mengetuk pintu kamar mereka. Keira segera berlari menyambutnya di depan pintu. Beberapa saat kemudian, gadis itu muncul sambil membawa dua buah piring berisi sarapan pagi mereka. "Rein, buruan! Sebentar lagi kita harus turun." Keira berteriak dari depan pintu kamar mandi. Tak perduli meski Reina mengumpat kesal karenanya. "Iya, sebentar!" Reina ikut berteriak dari dalam kamar mandi. "Aku benci harus berangkat dengan terburu-buru seperti ini," katanya ketus. Tak perduli jika Keira ikut mendengar ocehannya. Dengan terburu-buru Reina menyelesaikan mandinya dan segera keluar untuk memakai pakaiannya. Lalu menghabiskan sarapannya dengan cepat, meski harus tersedak beberapa kali karena mencoba menelan makanan tanpa mengunyahnya lebih dulu. Keira hanya menggelengkan kepalanya, memandang Reina dengan heran. Ia melangsir sebotol air mineral dingin pada Reina. "Mengerjakan yang lain boleh buru-buru. Tapi kalau makan harus pelan-pelan, Rein." "Iya, aku tahu." Jam delapan pagi, kedua kakak beradik itu telah turun dari kamar mereka dan duduk di lobi hotel sambil menunggu mobil yang menjemput mereka datang. Keduanya sukses mencuri perhatian orang banyak yang ada di tempat itu. Termasuk para staf hotel dan juga tamu hotel. Kecantikan wajah dan juga kulit putih bersih serta tubuh tinggi nan ramping. Semua hal itu membuat mereka jadi bahan perhatian. Seakan melihat model ibukota yang sedang melintas di depan mereka. Meski hanya memakai croped top dan celana pendek serta sandal, tak mengurangi nilai plus kecantikan keduanya. Sama-sama tidak mengenakan riasan serta menggerai bebas rambut panjang mereka dan hanya memakai topi. So simple! "Selamat pagi, Bu Keira, Bu Reina." Beberapa staf menyapa mereka saat bertemu. Dengan senyum mengembang, keduanya balik menyapa dengan ramah. "Selamat pagi," jawab kedua gadis itu bersamaan. Pun begitu, ketika mereka bertemu dengan Robert saat pria itu baru menginjakkan kakinya di pintu masuk. Ia memandang takjub keduanya nyaris tanpa kedip, membuat para staf lain saling berbisik membicarakannya. "Hari ini saya ijin ya, Pak. Jika ada sesuatu, langsung saja hubungi saya," kata Keira saat mereka berdiri saling berhadapan. "I-iya, Bu Keira." Pria itu menjawab gugup, membuat Reina tersenyum geli. "Reina!" desis Keira, ia terpaksa mencubit lengan Reina agar gadis itu diam. "Kalau begitu, kami permisi ya, Pak. Mobilnya sudah menunggu di depan." "Baik, Bu." Keira menarik lengan Reina menuju pintu depan. Seperti biasa, Pak Abdi telah menunggu mereka di samping mobil. Tak butuh waktu lama, mobil mereka telah kembali berbaur dengan kendaraan lainnya. "Sudah tau kita akan pergi kemana, Pak?" tanya Keira pada lelaki tua yang duduk di samping supir. "Sudah, Nona." Ia menjawab dengan tegas. "Sudah konfirmasi sama supirnya?" Keira bertanya lagi, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. "Sudah, Bu." Sang supir menyahut sebelum Pak Abdi kembali bicara. "Seperti biasa, pastikan cari jalan tercepat. Saya tidak ingin ada kendala selama diperjalanan. Pastikan kembali tempat tujuan kita ya, Pak. Saya mau pantai tujuan kita memiliki tempat dan pemandangan yang bagus, bukan pantai abal-abal." "Baik, Nona." "Baik, Bu." Kedua pria di bangku depan menjawab bersamaan. Mobil melaju cepat, melesat memasuki jalan tol. Sang supir menyetir mobil dengan lihai walau tak selihai Pak Abdi, supir terbaik yang dimiliki keluarga Kesuma. Reina bersyukur karena cuaca yang mendukung selama perjalanan liburan mereka. Walau hanya satu hari, cukup membuat Reina bahagia. Sudah lama iabtak merasakan hal seperti ini sejak Keira sibuk bekerja. Ia meminta supir untuk mematikan pendingin mobil. Kemudian menurunkan kaca jendela agar udara pagi yang terasa sejuk bebas masuk ke dalam mobil. Berbeda dengan udara yang biasa mereka hirup di Jakarta. Udara kotor yang telah bercampur dengan asap kendaraan bermotor. Sepanjang jalan, mereka hanya menemui hamparan perkebunan sawit di kedua sisi jalan, dengan jumlah kendaraan yang tidak terlalu ramai melintasi daerah itu. Hampir satu jam perjalanan, setelah mobil yang mereka kendarai keluar dari jalan tol. Mereka hampir sampai ke tempat tujuan mereka. Pak supir mengatakan, tempat tujuan mereka adalah pantai paling bagus dan paling terkenal di kota mereka. Meskipun sekarang banyak pantai-pantai baru yang sedang di kembangkan oleh pemerintah daerah. "Lain waktu kita bisa coba datang kesana," ujar Reina santai, membuat Keira melirik kesal pada adiknya yang terlalu banyak keinginan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN