Sambil menenteng beberapa paperbag di tangannya, Reina kembali ke dalam hotel dengan wajah senang. Bersama Pak Abdi yang terus saja membuntutinya. Berbelanja membuatnya lupa waktu, padahal beberapa jam lalu ia sempat merasa kecewa karena tak mendapati barang sesuai keinginannya.
"Dari mana saja kalian?" Hardik Keira saat keduanya akan memasuki lift, setelah seluruh penumpangnya keluarnya.
"Apa kau tidak lihat? Kami baru saja pulang berbelanja. Aku meminta Pak Abdi menemaniku jalan-jalan ke mall. Aku bosan berada di kamar sepanjang hari," ujar Reina membela diri. Kemudian masuk ke dalam lift, diikuti oleh dua orang lainnya.
"Aku tahu itu, aku tidak buta. Maksudku, kenapa kamu tidak minta ijn dulu padaku, Rein?" Keira melirik tajam pada adiknya, lalu menoleh bergantian pada Pak Abdi yang berdiri dengan wajah datar.
"Aku minta maaf, tadi pagi Pak Robert bilang kalau kau sedang ada tamu penting. Jadi, aku tak ingin mengganggu pekerjaanmu itu." Reina memasang wajah memelas. Keira menghela nafasnya jengah. Selalu saja ada alasan saat dirinya mulai memarahi gadis itu.
"Ya sudah, malam ini kita akan makan di hotel aja. Aku pikir kalian juga sudah lelah berjalan-jalan tadi," ujar Keira setengah hati.
"Hmm, tidak apa-apa." Reina melangkah lebih dulu saat pintu lift sudah terbuka.
Keira yang menatapnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia mengekor dari belakang bersama Pak Abdi.
"Saya permisi, Nona."
"Iya, Pak."
Pak Abdi segera masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Keira yang masih harus berjalan sedikit lagi untuk sampai di kamar mereka.
Hari ini begitu melelahkan baginya. Tamu penting itu sebenarnya bukan ingin bertemu dengannya, melainkan dengan Sanjaya Kesuma, papanya. Dan bukan tugasnya juga menerima klien bernama Alexander, disaat dirinya hanya ditugaskan untuk mengawasi dan mengaudit pekerjaan para petinggi dan staf hotel.
Menemani pria itu berbincang seharian, membuat Keira jengah. Pekerjaannya harus tertunda karena pria itu. Keira merasa iri karena sang adik masih bisa bersenang-senang dan menikmati hidupnya, disaat dirinya harus berkutat dengan setumpuk tugas.
"Nikmati aja, Kei!" bisik Keira pada dirinya sendiri.
Tangannya membuka knop pintu dan segera masuk ke dalam kamar hotel. Rumah kedua yang ia tempati setelah di Jakarta. Keira meninggalkan sepatunya di dekat pintu dan melempar tasnya sembarang, lalu masuk ke kamar tidur dan menjatuhkan tubuhnya pelan. Kedua matanya langsung terpejam.
"Gimana menurutmu, Kei? Apa baju ini cocok untukku?" tanya Reina kala mencoba hasil buruannya.
Gadis itu berdiri di depan cermin besar untuk mematut dirinya. Ia tampak berputar-putar seperti gasing. Mencoba semua yang ia beli.
"Kei!" teriaknya lagi.
Hening. Tak ada sahutan dari mulut Keira, membuat Reina mendesah kesal. Ia melangkah mendekati Keira yang tengah tidur karena kelelahan. Reina menghela nafasnya sekali lagi.
Wajah letih Keira membuatnya iba. Dulu ia juga sering membuat Keira kelelahan dengan semua tingkah lakunya, membuat Reina sedikit merasa bersalah. Ya, dia memang sedikit kekanakan. Dan selalu bergantung pada sang kakak. Karena hanya Keira yang perduli padanya dan menyayanginya. Tanpa Keira, ia pasti sendirian dan tak punya siapa-siapa, meskipun memiliki orangtua yang lengkap.
Reina menjulurkan kedua tangannya, menarik selimut untuk menutupi tubuh lelah Keira. Kemudian berlalu dari tempat itu untuk merapikan barang-barang miliknya yang berserakan di ruang ganti. Lalu beralih ke kamar mandi.
***
Pukul tujuh malam, di kota Medan.
Keira masih terlelap dalam mimpinya. Tubuh dan pikirannya yang terlalu lelah selama beberapa hari ini, seakan menuntut pembalasan untuk diistirahatkan sementara waktu. Reina sedikit pun tak berniat mengganggu kakaknya.
Reina berdiri di depan jendela kamarnya, memandang kota itu yang tampak berkilauan oleh sinar lampu berwarna-warni yang menghias jalanan kota Medan. Keindahan yang belum pernah ia nikmati selama menginap di kamar itu. Ia menarik nafas panjang dan kembali menghembuskannya.
Awan gelap di langit tak terlalu kelihatan jelas. Namun perlahan rintik hujan mulai mengguyur kota itu rata, semakin lama semakin deras. Keramaian dan keceriaan kota itu seakan terenggut oleh rinai hujan yang mengusik ketenangan malam mereka. Jalanan perlahan sepi, karena orang-orang lebih memilih untuk bersembunyi dari deru hujan dan dinginnya angin malam yang mulai berhembus.
Rasa sepi kembali menelusup ke dalam hati Reina. Entah mengapa, ia merasa begitu kesepian malam ini. Netranya teralih pada Keira yang masih tertidur lelap. Heran. Bukankah selama ini Reina juga selalu sendirian? Lalu, apa bedanya dengan sekarang? Rasa sepi yang ia rasakan malam ini jelas berbeda.
Sekali lagi, Reina membuang nafasnya keras. Ia berbalik, meninggalkan jendela dan perlahan keluar dari kamar setelah menyambar slingbag dari atas nakas dan hanya memakai sendal yang baru ia beli tadi. Dinginnya udara yang menusuk kulitnya, semakin membuat perutnya keroncongan minta segera diisi.
Reina mempercepat langkahnya untuk segera turun ke lantai bawah. Ia tersenyum ramah saat beberapa kali bertemu dengan staf hotel yang sedang bertugas malam ini.
"Silahkan. Mau pesan apa, Mbak?" Seorang pelayan pria, yang usianya tak jauh berbeda dengan Reina, menyapanya.
Reina menunjuk beberapa jenis makanan dan minuman dari daftar menu. Bukan untuknya sendiri, tetapi Keira juga. Ia meminta lelaki muda itu untuk mengantarkan pesanannya langsung ke kamar mereka untuk sang kakak. Sementara Reina, ia lebih memilih untuk menyantap makanannya di tempat itu, karena perutnya sudah tidak mampu untuk diajak kompromi.
Gadis itu makan dengan lahap. Rasa laparnya mengalahkan egonya. Ia tak menyadari ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan dirinya dari meja lain.
Ya, Alexander Baldwin. Pria yang ditabrak oleh Reina tanpa sengaja. Pria yang sama yang bertemu dengan kakaknya tadi pagi. Pria tampan berusia tiga puluh empat tahun, mapan, dewasa, dan seorang pengusaha kaya. Meskipun tak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Reina.
Alexander telah berada di restoran itu satu jam lebih awal, sebelum Reina datang ke tempat itu. Kedatangan Reina jelas menyita perhatiannya. Entah mengapa, ia merasa begitu tertarik dengan gadis itu.
Alex menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba menyembuyikan tawanya saat melihat Reina makan dengan lahap, seakan ada orang lain yang akan berebut makanan dengannya.
Sementara itu di meja lainnya, ada sepasang mata lain yang juga menatap ke arahnya. Namun dengan niat dan maksud tersembunyi. Ia memandang Reina dengan tatapan buas seorang pria, seperti seorang pria yang menginginkan wanita untuk dirinya sendiri.
Sayangnya, Reina seakan tidak perduli dengan tatapan itu. Ia sudah sering melihat hal itu terjadi padanya bahkan saat ia sedang bersama Keira.
Reina mempercepat kunyahan mulutnya. Ia tak senang ada pria asing menatapnya dengan intens, meskipun ia tak terlalu mengacuhkannya. Ia hanya merasa tidak aman terlalu lama berada di ruang ùmum seorang diri.
Satu suapan terakhir telah masuk ke dalam mulutnya, Reina segera menyelesaikannya. Tanpa menoleh, Reina melangkah meninggalkan tempat itu secepat yang ia mampu.
"Ah, sial!" umpatnya dalam hati kala mendengar derap langkah di belakangnya.
Reina merasakan jantungnya berdetak kencang, menghentak rongga dadanya. Bulir keringat mulai tampak membasahi keningnya. Kali ini, Reina benar-benar merasa takut. Teringat kejadian beberapa hari lalu saat ia di klub. Kala itu, seseorang menyabotase minumannya dan membuatnya mabuk dan bergerak seperti wanita gila haus belaian. Reina bersyukur karena Keira cepat menemukannya.
"Ayolah, Rein. Kuatkan dirimu. Kau harus berani melawan! Teriak saja, mereka pasti segera datang menolongmu." Reina bergumam pada dirinya sendiri.
"Ya ampun, ini masih jam sembilan. Tapi kenapa ada orang gila yang mengejarku?" gumamnya lagi.
Ia bersumpah dalam hati akan membuat kehebohan apabila ada orang yang ingin berbuat jahat padanya. Ingatkan Reina untuk menyediakan semprotan merica juga untuk perlindungan diri.
Reina harus sedikit bersabar menunggu lift di depannya turun. Ia menggigiti bibir bawahnya, perasaannya campur aduk. Ingin rasanya melihat ke belakang, tapi hatinya menolak. Entah mengapa disaat seperti ini, otak dan hatinya tidak bisa sejalan.
"Ayolah, lebih cepat lagi. Please..." Reina berbisik pelan, mengamati lampu indikator lift yang terus bergerak turun. Ia hampir berteriak girang saat lift berada beberapa lantai di atas mereka.
Dan, ting...!
Pintu lift terbuka lebar, selebar senyum yang terlukis di bibirnya. Keira berdiri di dalam lift bersama Pak Abdi, menatapnya dengan cemas. Reina menghambur masuk dan memeluk gadis itu, membuat Keira mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa denganmu?" tanya Keira, alisnya saling bertaut. Pun dengan Pak Abdi, memperhatikan nonanya dengan seksama.
Reina hanya tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Aku senang melihatmu. Apa kalian turun untuk mencariku?"
Keira mendengus. "Aku pikir kamu ingin membuat ulah lagi," katanya sinis.
"Kali ini tidak. Aku hanya turun untuk makan malam. Apa kau sudah makan? Aku tadi memesankan makanan untukmu."
"Sudah, terima kasih." Keira membalas senyuman adiknya.
"Apa Pak Abdi turun untuk makan malam?" tanya Reina.
"Tadinya seperti itu."
"Lalu? Kenapa Pak Abdi tidak turun dari lift?" tanya Reina bingung.
Pak Abdi menahan senyumnya. "Maaf, Nona. Saya tadinya ingin turun tapi Nona langsung menekan tombol liftnya."
"Ya ampun, maaf ya Pak Abdi. Saya gak sengaja," ucap Reina. Padahal ia melakukan itu agar orang di belakangnya tidak ikut naik dengan mereka.
"Kalau begitu, pesan makanan aja. Suruh mereka antar ke kamar Pak Abdi." Reina coba memberi solusi karena merasa sedikit bersalah.
"Tidak perlu, Nona. Saya akan kembali turun ke bawah."
"Kalau begitu, hati-hati saat turun ke bawah, ya."
Keira mengerutkan keningnya. "Emangnya ada apa di bawah?"
Bukannya menjawab, Reina malah mengulum senyumnya. Membuat kedua orang itu saling melempar tatapan bingung, mencoba mencerna kalimat yang diucapkan oleh Reina barusan.