Pagi hari, seperti hari-hari sebelumnya. Reina tersadar dari tidur panjangnya setelah matahari bersinar terang, dengan cahaya menyilaukan mata yang merasuk melalui celah jendela yang tidak tertutup tirai.
Gadis itu menguap lebar, sementara matanya masih setengah terpejam. Ia seperti belum sepenuhnya sadar. Tangannya memeluk selimutnya erat, menutupi tubuhnya yang hanya memakai gaun tidur minim.
Reina Santika Kesuma, gadis kaya raya yang hidup mewah setiap hari. Menikmati kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya sejak usianya masih muda, tanpa perlu repot bekerja. Hidup enak yang amat sangat didambakan oleh banyak wanita di luar sana.
Bangun dipagi hari saat matahari bersinar terang. Sarapan yang telah tersedia untuknya, disaat ia terbangun. Jika tak menyukainya, gadia itu tinggal mengangkat gagang telpon, berbicara dengan seseorang, dan akan ada orang lain yang mengantar makanan yang baru dan masih hangat untuknya.
Memiliki banyak waktu luang untuk berbaring, bersenang-senang dan memanjakan diri. Namun, semua itu ia lakukan di bawah pengawasan Keira. Seorang kakak yang usianya hanya berbeda satu tahun darinya. Berperan sebagai kakak, teman, penolong, tempat bersandar, dan sumber kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan dari kedua orangtua mereka.
Itulah sosok Reina. Ia tidak mampu hidup berjauhan dan terpisah dari Keira.
Reina bangkit berdiri setelah mendapat kesadaran penuh. Langkahnya terayun masuk ke kamar mandi. Berendam di air hangat penuh buih sabun beraroma fruity yang segar, benar-benar membuat nyaman. Hampir satu jam Reina merendam tubuhnya. Ia melangkah keluar dangan lilitan handuk di tubuh dan juga rambutnya.
Hari ini suasanya hatinya jauh lebih baik. Reina keluar dari kamar setelah berpakaian dan berdandan rapi. Tidak seperti biasanya, Reina memilih mengenakan atasan blouse dan celana panjang berbahan denim. Reina mengikat rambutnya tinggi, serta memakai riasan tipis. Membuatnya terlihat manis untuk gadis seusianya.
Reina menyambar sandal wedges dari rak sepatu serta slingbag keluaran rumah mode terkenal, pemberian Keira. Meskipun terlihat sederhana, harga outfit yang ia kenakan cukup menguras kantong. Meskipun belum termasuk satu set perhiasan yang ia kenakan.
Reina meninggalkan kamarnya setelah yakin bahwa kamarnya tertutup dengan benar. Entah mengapa hari ini ia merasa begitu senang. Ia mengulum senyumnya malu-malu sejak meninggalkan kamar hotel yang telah ia tinggali selama empat hari.
Namun langkahnya harus terhenti saat tanpa sengaja ia menabrak seorang pria ketika akan keluar dari lift.
"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja." Reina mengatupkan kedua tangannya tanda permohonan maaf. Wajahnya meringis menahan sakit saat mereka bertubrukan tadi.
"Hmm... tidak masalah. Saya juga tidak terluka."
Reina memberanikan dirinya mendongak ke atas, memandang wajah tampan pria dewasa di hadapannya. Tubuh tinggi dan atletis, serta wajah maskulin yang ditumbuhi rambut tipis di wajah hingga dagunya dan juga kedua tangannya, membuat pria itu terlihat seksi.
"Kamu tidak apa-apa?" Pria itu kembali bersuara. Tetapi tak ada sambutan dari Reina. Ia tenggelam dalam imajinasinya sendiri.
"Nona? Anda baik-baik saja, kan?" tanya pria itu. Tangannya terangkat, menepuk bahu Reina, menyadarkannya seketika dari khayalan liar.
"I-iya." Reina merasai wajahnya menghangat, mungkin saat ini wajah itu mulai merona merah seperti kepiting rebus. Pasti pria itu tahu jika dirinya sedang berkhayal.
"Kenalkan, nama saya Alexander Baldwin."
Alih-alih menghindar karena malu, Reina justru menyambut uluran tangan pria itu. "Reina Kesuma."
Ia tersipu malu dengan senyum yang dikulum. Lekas Reina menarik tangannya kembali sebelum dirinya mulai berimajinasi lagi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Maaf atas insiden tadi," ujar Reina sambil berlalu pergi secepat yang ia mampu.
Pria bernama Alexander itu menatap kepergian Reina dengan seulas senyuman tipis yang tak kentara, dari dalam lift hingga pintu besi itu kembali tertutup.
"Reina Kesuma. Kita pasti akan bertemu lagi." Pria itu berkata pada dirinya sendiri.
Ia berlalu pergi, naik ke lantai tiga gedung hotel berbintang lima itu. Melangkah santai menyusuri lorong panjang yang akan membawa dirinya untuk menemui seseorang di ruang direksi.
Suara ketukan tangannya di pintu sebagai tanda bahwa ia telah sampai sesuai janji temu mereka pagi ini. Ya, Alexander Baldwin bukanlah salah satu tamu hotel. Melainkan rekan bisnis Sanjaya Kesuma.
Keira bangkit berdiri menyambut pria itu saat tubuhnya muncul dari balik pintu. Ia tersenyum lebar. Seakan mereka adalah teman lama. Itu semua semata-mata menjaga nama baik hotel mereka.
"Selamat pagi, Pak Alex." Keira menjabat tangan pria itu kuat saat Alexander telah berdiri dihadapannya.
"Selamat pagi juga, Nona..." kalimatnya terputus.
"Keira Kesuma." Keira menjawab cepat.
"Ya, Nona Keira. Senang berkenalan dengan anda." Alex berkata tegas. Netra coklatnya yang kentara menyusuri lekuk wajah Keira.
"Boleh saya bertanya?" Alex mengajukan diri untuk bertanya. Rasa penasarannya harid segera mendapat kepastian.
"Apakah anda memiliki adik perempuan yang ikut dengan anda di hotel ini."
Keira mendelik, kedua netranya menatap tajam. "Bagaimana anda bisa tahu?"
"Saya tidak sengaja bertemu dengan adik anda saat naik ke sini tadi." Alex mengabaikan wajah penasaran gadis di depannya. Ia dengan santai duduk di balik meja sambil tersenyum tipis.
Sementara itu, di lantai bawah. Reina segera melangkah menuju area food and beverage di hotel itu. Ia ingin mengisi perutnya dengan hidangan hangat yang baru dibuat oleh chef. Sebab sarapan pagi yang ada di kamarnya sudah mulai dingin akibat penyejuk ruangan.
Seorang pelayan menghampiri mejanya dan bertanya perihal pesanan yang ingin Reina santap.
"Buatkan saya nasi goreng seafood. Tapi tolong, biasakan menyajikan udang dalam keadaan bersih tanpa cangkang. Saya tidak menyukainya," katanya mengingatkan. Udang yang tidak dikupas bersih, terkesan jorok buat Reina.
"Baik, Nona." Gadis pelayan itu mengangguk mengerti.
"Dan, lemontea hangat dengan madu. Bukan gula." Jari telunjuknya mengacung, memberi peringatan agar gadis itu jangan salah menyampaikan pesanannya.
"Baik. Ada lagi yang ingin anda pesan, Nona?" tanya gadis pelayan itu ramah. Reina menggeleng, matanya berkedip memberi sinyal. Dan gadis itupun segera berlalu dari mejanya.
Tak sampai tiga puluh menit, pesanan Reina telah diantar ke mejanya. Gadis itu meletakkan hidangan itu dengan hati-hati. Ia tak ingin dipecat hanya karena tidak bisa melayani anak pemilik hotel dengan baik. Kemudian berdiri sedikit menjauh, menunggu komentar pedas yang akan Reina lontarkan seperti biasanya, setelah mencicipi hidangan itu dalam satu suapan.
"Bagaimana, Nona?" tanya gadis itu khawatir saat Reina tak juga memberi komentar.
"Enak. Terima kasih, kamu boleh pergi sekarang."
Buru-buru pelayan itu menyingkir dari sana sebelum perkataan Reina berubah. Membiarkan gadis itu menikmati sarapannya sesuap demi sesuap hingga piring itu kosong. Menyesap lemontea hangat hingga ke dasar gelas.
"Hari ini luar biasa, tak seorang pun membuatku jengkel pagi ini," gumam Reina. Ia menghela nafas puas.
Sejenak netranya menangkap sosok pria yang mereka temui saat pertama kali tiba di hotel ini. Gegas Reina menghampiri pria itu yang masih berdiri dengan tatapan penuh wibawa.
"Selamat pagi, Pak Robert." Reina tersenyum manis. "Apa kedatangan saya mengganggu tugas Bapak?"
"Selamat pagi, Nona Reina." Robert balas tersenyum. "Saya sama sekali tidak terganggu. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Reina semakin melebarkan senyumnya. "Apa Keira sedang sibuk di atas?" tanyanya tanpa berbelit.
"Sepertinya begitu. Ibu Keira sepertinya sedang bertemu klien di ruang direksi." Robert menjelaskan.
"Benarkah? Sejak kapan Kakek mengijinkannya bertemu klien secepat ini?" gumam Reina pelan, seolah berbisik pada diri sendiri. Robert hanya memperhatikan gerak-gerik gadis itu.
"Ada apa?" tanya Robert saat melihat raut bingung di wajah Reina.
"Tidak ada." Reina tersenyum kikuk. "Apa anda bisa membantu saya?"
Robert mengkerutkan keningnya dan hening untuk sesaat. "Bantuan seperti apa?" tanya pria itu bingung.
Reina tersenyum penuh arti lalu mulai melangkah meninggalkan restoran. "Siapkan mobil untuk saya pakai. Hari ini saya ingin berbelanja." Ia menoleh pada Robert yang berjalan di sisinya.
"Apa harus saya temani juga?" tawarnya ragu-ragu.
"Tidak perlu. Pak Abdi yang akan menemani saya," tolak Reina halus.
Reina tak ingin menjadi bahan gunjingan di hotel yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang cewek penggoda. Cewek nakal yang berusaha menggoda manager hotel demi cuan.
Robert melangkah mendekati meja resepsionis untuk memesan mobil yang akan dipakai oleh Reina. Sementara gadis itu duduk menunggu di loby hotel sambil memainkan ponselnya. Berselancar di dunia maya, menambahkan jejak digital akan keberadaannya di kota itu. Meskipun ia tak memiliki teman nyata, setidaknya ia memiliki ratusan ribu pengikut di dunia maya, yang selalu bersedia menjadi temannya meskipun tak saling kenal.
Hampir sepuluh menit berlalu, Robert akhirnya mendekatinya dengan kabar baik. Mobil yang diminta oleh Reina telah tersedia dan sedang menunggu dirinya di depan hotel. Sementara Pak Abdi baru terlihat keluar dari lift dengan langkah tergesa-gesa, menghampiri Reina yang mulai berjalan meninggalkan loby hotel, di antar oleh Robert hingga ke pintu keluar. Menyisahkan tatapan curiga dari beberapa orang yang tidak mengenal sosok Reina Kesuma.
Mobil mulai bergerak meninggalkan pelataran hotel dan turun ke jalan, berbaur dangan ratusan hingga ribuan kendaraan lainnya. Bersaing di jalan untuk menjadi penguasa jalanan.
Reina membuang pandangannya keluar dari jendela samping. Memperhatikan kota itu dari jarak dekat saat matahari sedang bersinar terang. Tak jauh berbeda dengan kota asalnya, Medan juga sama macetnya walau tak sampai separah Jakarta.
"Antar saya ke mall ya, Pak."
"Siap, Bu."
Sang supir mempercepat laju mobil yang dikendarainya, sudah mengerti kemana ia akan membawa penumpangnya. Tak sampai limabelas menit, mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki area parkir sebuah mall yang terlihat begitu ramai oleh pengunjung.
"Tolong jangan kemana-mana, ya Pak. Karena setelah ini saya ingin diantar ke tempat lain." Reina mengingatkan sebelum dirinya keluar dari mobil.
"Baik, Bu. Saya akan menunggu disini saja," katanya pada Reina.
Reina melangkah masuk, diikuti Pak Abdi yang selalu setia mengawalnya berkeliling tempat itu. Keduanya menyusuri jejeran toko mulai dari lantai bawah hingga ke lantai atas. Namun tak ada toko yang mampu membuat Reina merasa tertarik untuk masuk dan berbelanja. Kecuali restoran dan cafe yang menyajikan aneka hidangan lezat penggugah selera. Sayangnya, perut Reina masih dalam mode penuh.
"Kenapa toko-toko itu menjual barang jelek. Apa mereka tidak tahu kalau semua barang itu palsu?" sungut Reina sebal. Niatnya untuk berbelanja harus gagal karena kualitas barang yang jelek.
Reina menyentak nafasnya kuat. Ia merasa kesal sendiri karena tak dapat membeli apapun di tempat itu. Akhirnya, ia memilih untuk berputar-putar.
"Bagaimana, Nona? Apa tidak jadi berbelanja? Mungkin ingin melihat toko yang lain?" tanya Pak Abdi.
"Gak ada!" dengus Reina. "Semua barangnya jelek dan bukan barang asli."
"Lalu bagimana? Apa ingin mencari ke tempat lain?" tawar Pak Abdi.
"Gak usah, Pak. Temani aku aja berkeliling tempat ini. Males kalau cuma tiduran di hotel terus, bisa-bisa aku mati karena bosan." Reina melanjutkan langkahnya.
"Kalau ada yang ingin Pak Abdi beli, bilang aku aja. Entar aku temani deh," Reina memainkan alisnya, senyumnya telah kembali.
"Makasih, Nona."