Bab. 14

1548 Kata
"Kau menipuku, Kei!" Kedua tangannya bersedekap di depan d**a. Reina menolak untuk keluar dari mobil. "Ayolah! Kita akan bersenang-senang malam ini. Setidaknya, kali ini giliranmu untuk ikut kemana pun yang aku inginkan." "Aku gak mau!" Reina menekuk wajahnya kesal. "Ayolah, Rein. Setidaknya kota ini tidak terlalu buruk saat malam hari. Nikmati saja!" Perdebatan sengit antara dua kakak dan adik itu membuat bingung dua orang lainnya. Namun keduanya tak berani membuka mulut untuk menyela. Kedua gadis itu sama-sama keras kepala. "Apa kau tidak bisa memilih tempat lain untuk berhenti? Aku benci bau durian. Rasanya aku ingin muntah, kau tahu ''kan?" Keira berdecak kesal. "Terserah! Aku tetap ingin makan durian sepuas yang aku mau." "Silahkan! Tapi kau harus tidur di sofa malam ini. Kau dengar itu?" ancam Reina frustasi. Ia mendorong tubuh Keira menjauh dari pintu mobil, dan membantingnya dengan kuat. Dari begitu banyak jenis buah, entah kenapa dia begitu membencinya. Mungkin karena aromanya uang tajam, yang membuat Reina merasa mual. Entahlah! Keira mengetuk jendela di pintu depan. Pak Abdi menurunkan separuh kaca mobilnya. "Pak Abdi gak ikut turun?" tanya Keira. "Maaf, Nona. Tapi saya juga kurang begitu suka dengan durian." Lelaki tua itu berkata dengan jujur. Keira menarik nafasnya dalam-dalam. Sepertinya tak ada seorang pun yang menyukai pilihannya. Merasa kecewa? Tentu saja. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan rasa kecewa yang ia bawa saat datang ke kota ini. "Ya sudah, kalian tunggu di mobil aja." Keira melangkah menjauhi mobil. Tak ingin menoleh ke belakang karena hanya akan sia-sia. Tak seorang pun yang bisa memahami dirinya. Dengan raut wajah penuh semangat, gadis itu ikut memilih beberapa buah durian bersama beberapa pengunjung yang ikut berdesakan dengannya. Keira terlihat begitu bahagia ketika ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Duduk bersama para penggemar durian lainnya, Keira mulai menikmati satu persatu buah yang telah ia pilih sebelumnya. Tak perduli meski pun ada ada seseorang yang memansang kesal ke arahnya. "Yang lain tolong dibungkus ya, Pak?" Keira menyerahkan dua buah durian yang tersisa untuk dibawa pulang. Tak ikut kulitnya, karena si penjual hanya membungkus isinya untuk dibawa pulang. "Terima kasih," ucapnya senang saat menerima bungkusan itu. Ia berjalan kembali memasuki mobil. "Kini giliranku untuk memilih tempat. Tidak boleh ada yang komplain, karena kita akan makan malam di tempat yang aku pilih." Reina menyeringai senang. "Baiklah. Terserah kamu." Mobil kembali menyala, kemudian perlahan pergi meninggalkan kedai durian yang cukup tersohor di kota Medan. Kali ini, Reina meminta supir untuk mengantarkan mereka ke cafe, tempat tongkrongan paling menyenangkan bagi anak muda. Hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit perjalanan, dari kios durian hingga sampai di pusat kuliner terkenal di kota itu, yang terletak di pusat kota. Dan benar saja, walaupun tak begitu luas, pengunjung tempat itu sangat ramai. Tentu saja didominasi oleh kaum muda. Membuat Reina semakin bersemangat melangkahkan kakinya. Lampu-lampu warna - warni tampak berkelap-kelip, menambah semarak tempat itu. Alunan musik dari grup musik lokal pun turut meramaikan malam. "Ayo, Kei!" Gantian Reina menarik lengan kakaknya keluar dari mobil. "Iya, sabar dong!" Keira meneriakinya. Bukan karena marah, tetapi karena tempat itu sedikit berisik. Mereka berempat berjalan beriringan. Memilih cafe berdasarkan daftar menu yang di pajang di tiang bagian depan cafe. Hingga akhirnya Reina memilih salah satu tempat yang masih memiliki bangku kosong yang cukup bagi mereka. *** Sementara itu, di kediaman Atmajaya Kesuma. Sanjaya tengah berbincang serius dengan sang ayah. Wajah kedua pria itu sama-sama berkerut dalam, seperti tengah membahas sesuatu. "Sudahlah, Pa! Bagaimana pun, aku tak akan membiarkan perempuan itu mengusik keluargaku. Berani sekali dia menelponku dan bertanya tentang putrinya." Sanjaya mengeraskan otot wajahnya. Kedua matanya memerah karena marah. "Yang kamu katakan itu memang benar. Tapi asal kamu tahu, suatu saat Keira pasti akan mengetahui rahasia itu, Nak. Apa yang akan kamu katakan padanya?" Atmajaya memperingatkan putranya. "Keira takkan pernah tahu jika seseorang tidak memberi tahukan hal itu padanya. Aku akan tetap katakan padanya bahwa Keira adalah putriku. Sampai saat ini, semua orang mengetahui kalau aku dan Ayu memiliki dua orang putri." Sanjaya tetap bersikeras. Atmajaya menarik nafasnya dalam-dalam, menyerap oksigen agar memenuhi paru-paru tua miliknya. Ingin sekali ia memberi tahu Sanjaya, bahwa Keira sudah mengetahui rahasia itu. Namun ia memilih tak ikut campur lebih jauh dalam masalah rumah tangga putranya dan Ayu. Bagaimana pun, Keira tahu mana yang terbaik buat dirinya sendiri. Atmajaya sendiri sangat menyayangi Keira. Dan dia akan melakukan apapun agar gadis itu tetap menjadi bagian dari keluarga besar Kesuma. Termasuk mengirimnya jauh, agar wanita itu tidak bisa mendapatkannya. "Lalu, apakah Ayu sudah mengetahuinya?" Atmajaya kembali membuka suara setelah berdiam untuk beberapa saat. "Belum. Aku sama sekali belum memberitahunya. Dia mungkin akan sama terkejutnya denganku." Sanjaya bersedekap di depan d**a. "Papa sarankan untuk memberitahu Ayu tentang masalah ini." "Untuk apa?" "Agar dia pulang dan menjaga putrinya dengan baik." "Entahlah, Pa. Aku pikir itu bukan saran yang baik." "Lalu, apa saranmu? Apa kau menunggu Keira pergi darimu? Yang kalian berdua tahu hanya berada di luar rumah dan lupa untuk pulang." Atmajaya menggeram kesal. "Aku melakukan semua itu juga demi mereka, Pa. Seharusnya itu adalah tanggung jawab Ayu sebagai Mamanya. Asal Papa tahu, wanita yang Papa jodohkan denganku itu telah berkhianat padaku. Dia tidak sepolos kelihatannya, Pa. Ayu bukan Mama yang baik. Tapi aku berusaha bersabar demi kedua putriku." Sanjaya mengusap wajahnya kasar, menahan semua gejolak di dalam hatinya. Atmajaya menghela nafasnya pelan. Dimasa tuanya, ia hanya ingin putra tunggalnya bahagia bersama keluarganya. Ia akan melakukan apapaun demi mereka. Termasuk tentang kehidupan kedua cucu kesayangannya itu. "Sudahlah. Lebih baik tenangkan dirimu dulu. Lakukan apapun yang kamu anggap benar. Dan Papa juga akan lakukan apapun yang Papa anggap benar." Atmajaya bangkit berdiri. Perawat pribadinya menuntunnya dengan hati-hati saat membawanya kembali ke kamarnya. Sanjaya mematung. Menatap kepergian sang ayah dari belakang. Tubuh ringkih Atmajaya perlahan menghilang dari pandangan putranya. Sanjaya menyentak nafasnya kuat. Ia lupa untuk menanyakan keberadaan Keira saat ini. Ia mengambil ponselnya dari kantong jasnya. Menekan tombol memanggil pada nama yang tertera di ponsel itu. Untuk beberapa saat, panggilan itu hanya memperdengarkan suara tone panggilan. Hingga akhirnya, panggilan itu dijawab. "Halo." Sanjaya bersuara. "Halo, Pa." "Kei, dimana kamu?" "Di luar. Maksudnya, lagi makan di luar. Ada apa, Pa?" Keira meralat perkataannya dengan cepat. "Makan di luar? Dengan siapa?" "Reina dan Pak Abdi. Kenapa? Apa Papa ingin bicara dengan mereka? Kei akan menyambungkannya," tawar Keira. "Tidak perlu. Papa hanya ingin bicara denganmu." "Ya? Ada apa?" "Di cabang hotel mana kalian saat ini?" "Medan. Kami ada di kota Medan sejak dua hari lalu." "Sejak dua hari lalu?" Sanjaya menggumam pelan. "Papa bicara apa barusan? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas." "Bukan apa-apa. Berapa lama kalian berada disana? Maksud Papa, kapan kalian pulang?" "Kenapa? Apa Papa marah karena aku membawa mereka berdua?" "Tidak sama sekali. Saat ini Papa sedang berada di rumah. Papa hanya merasa kesepian," kata Sanjaya beralasan. "Kenapa Papa bilang seperti itu? Bukankah ada Mama?" "Tidak. Mama kalian sedang sibuk bersama teman-temannya. Kamu tahu, kan?" "Hemm..." "Jaga dirimu dan juga Reina. Papa rindu kalian berdua." "Iya." Kalimat itu menjadi kalimat terakhir Keira sebelum akhirnya Sanjaya memutuskan sambungan telponnya. 'Papa rindu kalian!' Deg... deg... Kalimat itu membekas dalam di hati Keira. Sungguh aneh bila hari ini Papanya bicara begitu manis padanya. Biasanya, Sanjaya akan bicara dengan terburu-buru dan tak ingin dibantah. Ini adalah pembicaraan terlama yang mereka lakukan. Dan pembicaraan termanis via telpon yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Karena Keira tahu, Papanya adalah orang yang super sibuk dan tak punya banyak waktu untuk bicara manis dan berbasa-basi dengannya. Tapi, malam ini? Ada apa dengannya? Apa dia salah memakan sesuatu? Atau, dia sedang sakit dan butuh perhatian lebih? Atau, apa? Keira tak ingin menebak-nebak. "Ada apa, Kei? Kenapa wajahmu seperti itu? Siapa yang menelpon?" cecar Reina. Ia merasa khawatir karena perubahan di wajah gadis itu, setelah menerima panggilan telpon yang entah dari siapa. "Hah?" Keira menoleh. Ia baru sadar jika Reina masih memperhatikannya. "Papa. Papa baru menelpon untuk menanyakan dimana kita?" "Lalu, apa yang kau katakan?" "Aku bilang kalau kita ada di kota Medan," sahut Keira. "Apa Papa marah karena aku ikut denganmu?" Reina menajamkan matanya, menatap Keira dengan serius. "Enggak." Gadis itu menggeleng lemah. "Lalu? Kenapa wajahmu seperti itu. Papa bilang apa?" "Hah? Itu... tadi, Papa cuma bilang kalau beliau merindukan kita. Papa kesepian karena tidak ada orang lain di rumah." "What? Jadi maksudmu, Papa sedang berada di rumah sekarang?" "Hemm..." Keira kembali mengangguk. "Telpon Papa, Rein." Kedua netra Reina membelalak. "Untuk apa? Biarkan saja." "Apa kamu tidak merindukannya?" Keira tidak mengerti mengapa mulutnya bisa melempar pertanyaan bodoh itu pada Reina. Tapi itu sudah terlanjur ia lakukan. "Sama sekaki tidak!" Jawaban itulah yang didapat Keira dari pertanyaan bodohnya tadi. Ia mendesah pelan. "Apa kamu sudah selesai? Bisa kita pulang sekarang? Besok pagi aku harus kembali bekerja, Rein." Keira mengalihkan pembicaraan mereka. "Ya ampun, kita baru aja keluar Kei. Tidak bisakah kita kembali sebentar lagi?" Hanya satu jam aja," ucap Reina memohon. "Itu terlalu lama. Aku mulai mengantuk sekarang," timpal Keira beralasan. "Kau ini seperti nenek-nenek, Kei. Baiklah, tiga puluh menita lagi, aku mohon..." Keira membuang nafasnya keras, berpura-pura kesal. "Baiklah, hanya tiga puluh menit!" ujar Keira akhirnya. Di dalam hatinya ia bersyukur, karena Reina langsung melupakan pembicaraan mereka tadi. "Setelah ini, kita akan kemana lagi?" "Pulang dan tidur." "Tidak bisakah kita singgah ke tempat lain?" "Apa maksudmu, Rein? Jangan coba-coba denganku!" "Iya, iya... aku hanya bercanda. Dasar nenek sihir." "Apa kamu bilang?" "Aku cuma bercanda, Kei."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN