Bab. 29

1421 Kata
Suasana hotel kembali seperti semula. Banyu telah kembali ke Jakarta setelah masa cutinya berakhir. Menyisahkan kenangan berbeda di hati kedua gadis itu. Sang kakak, Keira Kesuma kembali fokus pada tugas yang diberikan oleh Atmajaya Kesuma. Menghabiskan satu bulan pertama mereka di hotel Kesuma Grup. Dan masih akan ada bulan-bulan berikutnya yang harus mereka hadapi. Sementara Reina kembali pada suasana hatinya seperti sebelumnya. Sebelum kedatangan Banyu di hotel itu. Reina kembali merasa kesepian di kamar hotelnya yang terbilang luas layaknya di kamarnya sendiri. Hari ini adalah hari pertama setelah kepulangan Banyu kemarin. Pak Abdi ikut mengantar lelaki itu sampai di bandara. Bahkan hingga pesawat yang ia tumpangi telah lepas landas dengan sukses. Reina sedang duduk bersandar di balkon jendela kamarnya. Melempar tatapannya sejauh mata memandang kota itu dari ketinggian lima ratus meter. Tangannya memegang gelas berisi segelas s**u hangat yang baru akan dinikmatinya. Sepotong kue strawberry dengan fla vanilla, menemani waktu santainya. Reina memilih untuk sarapan di kamarnya. Menikmati kesendiriannya setelah Keira turun untuk bekerja. Ingatannya berputar kembali pada saat-saat kebersamaan mereka dengan Banyu beberapa hari yang lalu. Lelaki itu datang tanpa kabar. Lalu pulang setelah membuat dirinya dan Keira merasa bahagia selama beberapa hari. Reina mengingat dengan jelas ketika Banyu mengatakan ingin menikah dengannya. Ia menganggap bahwa pertanyaan itu sebagai lelucon. Bagaimana tidak? Reina hanya menganggap Banyu sebagai saudara laki-lakinya. Apalagi, ia baru berusia dua oukuh dua tahun. Sementara Banyu telah berusia dua puluh delapan tahun. Rentang usia yang terlalu jauh darinya. Lagipula, Reina belum ingin menikah. Alasannya? Karena sebuah pernikahan tidak selamanya menjanjikan sebuah kebahagiaan dan sebuah keluarga yang utuh. Contohnya? Lihat saja keluarga mereka saat ini. Pernikahan itu hanya menjadikan anak-anak seperti mereka menjadi korban. Reina menarik nafasnya panjang lalu membuangnya pelan. Lalu kembali memandang keramaian di bawah sana. Sesaat Reina teringat obrolannya dengan Keira beberapa hari yang lalu. Apakah mungkin ia dapat memiliki anak tanpa adanya pernikahan? Maksudnya, Reina ingin memiliki anak agar dia tidak kesepian lagi. Tetapi tanpa menikah dengan seorang pria yang belum tentu bisa menjamin bahwa hidupnya akan bahagia. Pernikahan orangtuanya memberikan beban mental untuknya. Terlebih jika ada orang ketiga dalam pernikahan itu. Reina benar-benar kecewa. Senyum Reina mengembang meski tipis. Membayangkan memiliki dua atau tiga orang bayi sekaligus, atau bahkan empat, pikir Reina. Itu lebih dari cukup untuk membuatnya tidak merasa kesepian lagi. "Tiga bayi? Atau empat bayi? Itu pasti menyenangkan," gumamnya. "Tapi bagaimana caranya?" Suara desahan nafasnya terdengar berat. Ia menyesap s**u coklat yang kini mulai dingin. *** "Kei, malam ini temani aku ke klub. Kau mau kan?" Reina berjalan mendekati Keira. Gadis itu baru saja kembali dari pekerjaannya. "Apa tidak bisa lain waktu?" "Aku mau malam ini. Besok kau libur, kan? Kau bisa beristirahat seharian besok. Aku tidak akan mengganggumu. Ayolah, aku sudah jadi anak baik selama tinggal disini." "Kalau kamu sedang ingin minum, aku bisa memesannya untyk diantar ke kamar. Apa yang ingin kamu minum?" tanya Keira tanpa menoleh. Fokusnya hanya pada layar ipad yang ada di tangannya. "Aku butuh sosialisasi, Kei. Bukan sekedar ingin minum. Jika kau tidak ingin turun, aku akan pergi sendiri." Reina menghentak kakinya ke lantai saat pergi meninggalkan Keira. Bibirnya mencebik kesal melihat Keira yang mengacuhkannya lagi demi pekerjaannya. Keira bangkit berdiri, mengejar Reina yang telah berdiri membuka pintu bersiap untuk pergi. "Baiklah! Tapi biarkan aku menyelesaikan ini dulu," keluhnya kesal. "Hanya satu jam aja, aku janji." Reina membanting pintu. Dengan tatapan kesal ia kembali ke kamar, menunggu Keira sambil rebahan di ranjang. Ia menutup matanya namun tak benar-benar tertidur. Berulang kali ia membuka matanya demi melihat jam. Lalu kembali menutup matanya lagi, hingga satu jam yang dijanjikan Keira berlalu sangat lambat bagi Reina. "Sudah satu jam, Kei. Aku akan pergi sekarang." Keira terperanjat kaget saat melihat Reina telah berdiri di hadapannya dengan wajah segar. Beberapa saat lalu ia melihat gadis itu sudah tertidur di ranjangnya. "Tunggi sebentar, aku akan bersiap." Keira mengganti pakaiannya. Menyumbat telinganya dengan headset, serta membawa serta tasnya. "Tunggu dulu! Untuk apa kau membawa benda itu?" Reina merasa risih saat melihat Keira membawa serta tas kerjanya ke klub malam. "Ini untuk membuatku tetap sadar agar bisa mengawasimu dari jauh. Kamu mengerti, kan? Ayo, jalan." Keira mendahului adiknya membuka pintu. Pak Abdi telah berdiri disana menunggu kedua nonanya keluar dari kamar. "Kenapa kau membawa Pak Abdi?" keluh Reina kesal. "Untuk menjagamu. Kamu mau atau tidak? Aku tidak akan memaksamu." Keira tersenyum miring merasakan kemenangannya. Ia berada satu langkah di depan Reina. "Terserah. Tapi jangan dekat-dekat denganku." Reina mengacungkan telunjuknya ke udara sebagai peringatan. Ia melangkah mendahului mereka dengan wajah kesal karena Keira telah merusak moodnya. Keira tersenyum miring. Ketiganya lantas turun ke klub malam di lantai dua hotel Kesuma. Reina sudah pernah memasuki tempat itu sebelumnya. Suara dentam musik mulai terdengar saat mereka membuka pintu masuk. Penerangan di ruangan itu terlihat remang-remang, diselingin lampu sorot warna-warni membuat ruangan itu semakin semarak. Tak banyak tamu yang terlihat berada di klub itu karena malam belum terlalu larut. Keira berjalan mendahului, mencari meja dengan sudut pandang terbaik untuk memantau keberadaan Reina. Sementara Pak Abdi berada beberapa langkah di belakang mereka. Sengaja ia lakukan untuk menjaga privasi kedua anak majikannya. "Kita duduk disini saja," jerit Keira dengan suara kuat. Suara musik telah meredam suaranya. "Oke." Reina mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju. "Duduk, Pak." Keira memberi perintah. Pak Abdi langsung duduk dengan menjaga jarak. Suara musik terdengar memekakkan telinga, menghujam pendengaran orang yang tidak terbiasa dengan kebisingan. Itulah sebabnya Keira mempersenjatai telinganya dengan headset untuk meredam kebisingan. Seorang pria pemandu musik telah berdiri di depan seperangkat alat di atas podium. Sebelah tangannya teracung ke udara menari-nari sambil sebelah tangannya yang lain mengatur musik. "Aku mau pesan minuman. Apa kalian mau juga?" tawar Reina. "Aku ingin Port wine. Pesankan soda untuk Pak Abdi." Reina meninggalkan kakaknya dan juga pengawal dadakan mereka. Ia tampak mendekati seorang barista dan berbicara dengannya. Tak lama, keduanya menoleh ke meja dimana Keira duduk, ketika Reina menudingkan tangannya lurus ke belakang. Pria muda berwajah oriental itu melempar senyumnya lalu menganggukkan kepala. Tak lama kemudian, Reina kembali ke meja mereka untuk bergabung bersama Keira. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama dj. Ia melempar kepala sesuai hentakan musik. Beberapa menit kemudian, seorang pria dengan tubuh dibalut kaos transparan datang mendekat dengan senyum merekah di wajahnya. Ia menurunkan sebotol wine, gelas, dan semangkuk bongkahan es berukuran kecil. Serta sebotol soda dingin dari atas baki di tangannya. Ia menjulurkan tangannya di depan Keira membuat gadis itu mendongak ke atas. "Boleh kenalan denganmu? Saya Mike," katanya sambil tersenyum. Kedua pipinya memiliki ceruk seksi yang terlihat jelas saat pria itu tersenyum. Keira menarik penutup telinganya. "Maaf, saya tidak mendengar suaramu. Apa yang kamu katakan tadi?" Keira bertanya bingung. "Aku ingin berkenalan denganmu. Namaku Mike." Pria itu mengulang kalimatnya. "Oh... aku Keira." Gadis itu menyambut uluran tangan Mike sebentar lalu melepasnya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku sepertinya mengenal wajahmu," sambung Mike. Dengan cepat Keira membantah. "Tidak mungkin. Aku baru pertama kali datang kesini." "Kalau begitu, selamat bersenang-senang. Aku ada disana kalau kamu ingin bicara denganku." Meki menunjuk meja bartender tempatnya bekerja. "Ooh... baiklah. Terima kasih." Keira mengangguk dan tersenyum ramah. Ia melihat laki-laki itu kembali ke tempatnya dan melambaikan tangan ke arah mereka. Reina membalas lambaian itu lalu tertawa terbahak-bahak. "Sepertinya ada yang dapat gebetan baru, nih." "Sudahlah, jangan banyak bicara. Semua itu pasti ulahmu, kan?" Keira mencebikkan bibirnya. "Kau harus bergaul, Kei. Siapa tahu kalian bertemu diluar sana dan menjadi teman. Setidaknya kau tidak akan kesepian kalau harus terus tinggal disini." "Terserah!" Dalam hati, Keira terus mengumpat kesal, menyebutkan semua nama yang terlintas diotaknya saat ini. "Aku mau turun. Kau mau ikut?" "Kamu saja. Aku akan duduk disini dengan Pak Abdi." Reina meninggalkan mereka dan mulai berbaur dengan pengunjung lainnya. Pak Abdi langsung memasang mata tajam miliknya untuk memantau gadis itu dari jauh. Sementara Keira kembali disibukkan dengan ipad yang ia bawa tadi. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena desakan Reina. Gadis itu memfokuskan matanya lurus, menatap layar pipih berukuran sedikit lebih besar dari ponselnya. Kedua netranya yang legam tampak memeriksa angka-angka yang tertera disana. Mencoba menemukan kesalahan fatal disana, yang telah merugikan Hotel Santika Kesuma. Sayangnya, dia bukan seorang akuntan. Dan itu memperlambat pekerjaanya. Hingga satu jam berlalu, Keira akhirnya menyerah dan menyimpan kembali ipadnya ke dalam tas. Matanya kini kembali fokus mencari keberadaan Reina. Dengan segelas wine di tangannya, Keira mulai mengelilingi ruangan yang luas itu dengan lirikan matanya yang tajam. Pandangannya tertumbuk pada satu fokus. Adiknya itu sedang berbicara dengan seorang pria di lantai dansa. Jantungnya kembali berpacu saat melihat kedekatan Reina dengan pria itu. Takut jika pria itu memiliki niat buruk pada adiknya, seperti yang Reina alami sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN