Bab. 28

1046 Kata
Sudah tiga hari lamanya Banyu berada di Medan bersama Keira dan Reina. Dan selama itu pula Alex berusaha menjaga jarak dari gadis incarannya itu. Alex berusaha melupakan gadis itu. Melupakan perasaannya yang mulai tumbuh subur pada gadis muda yang bernama Reina. Pria itu juga perlahan menghilang dari Hotel Santika Kesuma. Menyembunyinkan dirinya agar tidak semakin terluka dengan penolakan Reina. Pun dengan Reina yang juga merasa sedikit lebih tenang. Tidak harus selalu berhadapan dengan pria tua genit yang suka merayunya itu. Dan hari ini adalah hari terakhir Banyu berada di kota Medan. Keira sengaja meluangkan waktunya demi pemuda itu. Ia tak menampik jika dirinya mulai menyukai sosok Banyu sejak kedekatan mereka, di hari pertama Banyu tiba di hotel itu. "Kemana kalian akan membawaku?" tanya Banyu. Mereka bertiga duduk di bangku belakang dengan posisi Banyu duduk diantara kedua gadis itu. "Kita akan pelesir ke pantai. Aku sudah mengambil cuti untuk hari ini khusus untukmu," ujarnya menyahuti. "Hmm..." Banyu tersenyum. Matanya melirik ke arah Keira yang tampak salah tingkah di sisinya. "Aku ingin mencoba pantai yang kita bicarakan waktu itu," usul Reina. "Boleh. Kamu mau 'kan?" Keira balik melempar pertanyaan itu pada cowok di sampingnya. "Aku nurut aja, selama kalian tidak meninggalkanku disana nanti." Banyu menghela nafasnya panjang, senyumnya dikulum. Candaan yang membuat Reina menjepitkan dua jarinya di pinggang Banyu karena gemas, hingga membuat Banyu menjerit kecil. Pak Abdi menghembuskan nafasnya gamang melihat kedekatan tiga makhluk yang duduk di belakangnya. Sepasang telinganya ikut memanas ketika tiga anak muda berbeda jenis itu sedang bercanda di bangku belakang. "Kita sampai!" teriak Reina girang ketika mobil yang membawa mereka telah memasuki lapangan parkir. Ia keluar dari mobil lalu bergoyang bebas untuk merenggangkan seluruh otot di tubuhnya. Pun dengan Keira dan Banyu yang ikut turun belakangan. "Pantainya bagus, Kei. Berasa seperti lagi di Bali, tau gak?" seru Reina saat menapaki kakinya di pintu masuk yang berbentuk pura dan dihiasi kain motif kotak warna khas Bali. "Iya. Jadi pengen ke Bali beneran," ujar Keira kemudian. "Entar deh, kalau nikah sama aku nanti aku bawa bulan madu ke Bali. Mau gak?" Banyu menyahuti perkataan Keira. "Idih... ogah ah, aku belum punya pikiran buat nikah." Reina mencebikkan mulutnya. "Bukannya kamu suka sama aku, ya?" ledek Banyu, seraya tersenyum miring. "Aku emang suka, tapi bukan buat diajak nikah. Ya kali, umur aku masih muda." Reina menyahut enteng. "Trus, kalau ternyata jodohnya kamu itu adalah aku, gimana?" uber Banyu. Dia begitu penasaran dengan perasaan gadis itu. "Ogah! Mending kamu nikah sama Keira aja, deh. Kalian itu sama, sama-sama gila kerja." Reina mendengus kesal. Banyu tersenyum tipis. Kedua netranya melirik penuh pada gadis yang tengah berjalan menyusuri pasir pantai di sampingnya. Ia bisa melihat dengan jelas, gadis itu mengulum senyumnya dengan semburat merah merona di wajahnya. "Rein!" teriak Banyu. Tangannya melambai pada gadis yang menapaki pasir yang tertutup air laut. Kakinya melangkah menjauhi Keira. Gadis itu sedang duduk di pondok tepi pantai yang memang disediakan oleh pihak pengelola bagi pengunjung pantai, bersama dengan Pak Abdi. Keduanya tersenyum melihat tingkah sepasang muda-muda yang sedang bermain air dengan gembira. Adik perempuannya itu terlihat begitu bahagia saat bersama Banyu. Tapi entah mengapa, Reina tetap saja menolak saat Banyu meminta Reina untuk menjadi pasangannya. Keira masih tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya itu. Jika Reina menolak Banyu karena selisih usia mereka, mungkin Keira masih dapat memakluminya. Entahlah, terlalu banyak teka-teki yang dirahasiakan oleh Reina dari mereka semua. Dan Banyu? Masih menjadi teka-teki kenapa pria itu tiba-tiba datang menemui mereka dan berbicara terlalu banyak tentang pernikahan dan menjadi pasangan. Sementara itu, sosok pengganggu paling menyebalkan bernama Alex, masih menjadi misteri bagi Keira. Entah apa yang terjadi antara dirinya dan juga Reina. "Bay..." Keira melambaikan tangannya dari kejauhan. Bayu membalas lambaian tangannyya. "Ada apa?" "Ponselmu berdering sejak tadi. Aku tidak berani menerimanya," sahut Keira seraya melangsir benda pipih itu ke dalam Banyu. Banyu menerima benda itu bersamaan dengan helaan nafasnya. Om Jaya. Itulah nama tertera disana. Lelaki tua itu pasti ingin bertanya hal penting padanya. Cepat Banyu menyingkir dari sana. Mencari tempat aman untuk bicara dengan sosok bernama Om Jaya tersebut. Sementara Keira bergantian bermain air bersama Reina. Keduanya naik ke darat setelah puas bermain air seperti pengunjung lainnya. Keduanya kembali ke pondok untuk berkumpul bersama Banyu dan Pak Abdi. "Ayo makan," teriak Banyu dari depan pondok. "Aku sudah memesan makan siang untuk kita," katanya kemudian. "Ayo jalan-jalan bersamaku sebentar saja. Alu ingin mengambil foto bersamamu," ajak Keira. "Apa kamu juga ikut, Rein?" tawar Keira. Gadis itu menolak dengan cepat. Kepalanya langsung menggeleng. "Enggak. Aku tunggu disini aja. Aku udah kedinginan," sahutnya. "Aku akan ambilkan handuk untukmu." Gegas Keira kembali ke mobil untuk mengambil tas yang yang tertinggal di mobil. Kamudian kembali dengan tergesa-gesa. "Pakai ini!" Tangannya memakaikan sebuah baju handuk ke tubuh Reina agar tubuhnya berhenti bergetar. "Sebaiknya kamu berganti pakaian dulu. Kamu bisa masuk angin jika terus bertahan untuk pakai baju basah itu. Ayo aku antar. Sebentar lagi mereka akan mengantar makan siang kita." Keira berusaha membujuk Reina karena merasa kasihan padanya. "Tapi aku masih ingin main banana boat, Kei. Sayang kalau bajunya harus basah lagi," tolak Reina cepat, tak memperdulikan kulitnya yang mulai tampak memucat. "Kamu bisa masuk angin, Rein. Gimana kalau Kakek sampai tahu kamu sakit? Dia pasti bakal nyuruh Pak Abdi untuk langsung membawamu pulang ke Jakarta." Keira bicara pelan setengah berbisik. "Bukan cuma kamu, Kakek Kesuma pasti akan memarahiku juga karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Keira pura-pura cemberut agar sang adik mau menurutinya. "Tidak masalah jika aku pulang bersamamu," sahut Reina cepat tanpa berpikir. "Oh ya? Bagimana kalau Kakek mengirimku me tempat yang lebih jauh dari ini?" Kedua gadis itu berdebat untuk hal yang belum pasti. Banyu menyunggingkan senyumnya saat melihat keduanya berselisih tentang pengandaian itu. Ia heran dengan kekerasan hati Reina dan ketegasan juga kelembutan yang Keira gunakan untuk menundukkan adiknya yang keras kepala itu. Tanpa sadar, Banyu mulai tertawa ketika mendengar keduanya beradu argumen. "Apa Bapak sering melihat mereka seperti ini?" Aku jarang melihat sisi ini dari mereka berdua," celotehnya. "Anda akan melihat banyak hal lainnya dari mereka, Tuan Muda," bisik Pak Abdi pelan. "Aku tak menyangka akan menikahi salah satu dari mereka sebentar lagi," ungkap Banyu, membuat Pak Abdi menoleh sepenuhnya ke arahnya. "Apa anda menyukai salah satu dari mereka?" tanya Pak Abdi datar. Banyu mengulas senyumnya lebar, kedua matanya berbinar. "Ya, mungkin saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN