Bab. 27

1426 Kata
Banyu sedikit terkejut ketika mendapati sosok setia di keluarga Kesuma tengah berdiri di depan pintu saat ia membuka pintu kamarnya. "Selamat pagi, Tuan Muda. Anda akan turun untuk sarapan?" Sapa Pak Abdi sopan. "Iya, Pak. Apa mereka sudah turun?" "Nona Keira sudah menunggu di bawah." "Gimana dengan Reina? Apa dia tidak ikut turun?" "Belum. Sepertinya dia masih tidur," sahut Pak Abdi sambil tersenyum tipis. "Aish... gadis itu, apa dia selalu seperti itu?" "Harap maklum, Tuan Muda. Nona Reina terbiasa seperti itu. Lagi pula, dia tidak memiliki pekerjaan yang mengharuskannya untuk bangun lebih awal." Alih-alih tersinggung, Banyu malah tertawa ketika Pak Abdi menjelaskan hal itu padanya. "Apa Bapak terbiasa bicara jujur seperti ini? Bapak bahkan tidak berusaha menutupi kekurangan Reina," ujarnya. "Ya sudah, kalau begitu saya akan turun duluan. Tolong bangunkan Reina setelah saya turun, ya." Banyu berkata lagi, kemudian melangkah pergi membawa senyumnya. Rasanya sangat tidak sabar saat melihat kedua gadis itu mengeluarkan ekspresi kaget ketika bertemu dengannya nanti. Banyu mengulum senyumnya rapat, berusaha menahan suara tawanya agar Keira tidak curiga. Gadis itu sedang duduk sendirian. Tatapannya fokus pada layar monitor kecil di hadapannya. Seperti tengah mengerjakan sesuatu disana. Hingga akhirnya, Banyu berdiri tepat di belakangnya dan menutup kedua matanya dengan tangan. Pergerakan yang tiba-tiba dari Banyu membuat Keira panik dan memberontak. Membuat orang-orang di dekat mereka seketika memalingkan wajah ke arah keduanya. "Banyu!" pekik Keira dengan mata melotot. Sementara pemuda itu terkekeh menahan rasa sakit di perut akibat ulahnya. "Kamu ngapain sendirian disini?" tanya Banyu pura-pura tidak tahu. "Ihh... kamu! Jadi kamu ya, tamu penting yang katanya mau berkunjung kesini?" sungut Keira. Raut wajahnya terlihat terkejut sekaligus kesal. Berulangkali tangannya melayang memukul lengan kekar Banyu. Sementara pemuda itu masih terus tertawa. "Iya. Emangnya kamu diberitahu seperti itu, ya?" "Iya. Pasti itu kerjaan kamu, kan? Awas ya, aku beritahu Papa, loh." "Silahkan! Aku gak takut sama Papa kamu." Dengan santai Banyu menarik kursi di depan Keira dan duduk berhadapan dengan gadis itu. Gadis yang dikenal pendiam dan juga kaku. "Dimana Reina?" Banyu pura-pura bertanya. "Masih di kamar. Mungkin sedang bersiap-siap. Sebentar lagi dia pasti turun," sahut Keira ketus. Gadis itu masih terlihat kesal. "Ooh. Aku akan tinggal disini selama beberapa hari. Jadi, kalian tolong temani aku ya. Kita bisa jalan-jalan bareng," ajak Banyu. Keira tak lantas menjawab. Ia khawatir bila hal itu malah mengganggu tugas yang diberikan Kakek Kesuma padanya. "Secara kita kan bakalan dekat terus, jadi... belajar ke tahap yang lebih serius. Mau kan?" Banyu tersenyum penuh arti, alisnya terangkat naik. "What? Maksudnya apa?" "Aku ingin menjalani hubungan yang serius denganmu." Tatapan Banyu berubah serius. Menatap lurus ke dalam mata Keira nyaris tanpa kedip. "Please, jangan bercanda! Kamu mau aku pukul, ya?" seru Keira. Situasi itu membuatnya kikuk. Baru kali ini ada pria yang berani mengatakan hal itu padanya. "Aku gak bercanda, Kei. Apa kamu mau menjalani hubungan denganku?" tanya Banyu. Tangannya terulur meraih kedua tangan Keira yang lantas digenggam dengan erat, meski Keira berusaha menarik tangannya kembali. "Wait... bukannya kamu lebih dekat sama Reina? Kenapa malah ngomongin itu ke aku?" Keira memicingkan matanya, menatap penuh curiga. "Emangnya salah ya kalau aku lebih memilih kamu?" Jawaban itu seketika membuat jantung Keira seakan merosot jatuh hingga ke rongga perut. Ada perasaan yang menggebu yang ikut membuat tubuhnya bergetar. Dengan cepat ia menarik tangannya kembali. "Wait... aku ingat sesuatu. Kamu 'kan yang waktu itu nelpon ke ponselku dan pura-pura mencari Reina?" tuduh Keira. Matanya melotot. "Sampai ngaku-ngaku temannya Reina, benar 'kan?" Suara gelak tawa Banyu menjadi jawaban yang sangat jelas atas tuduhan yang dilayangkan Keira padanya. Membuat gadis itu memberengut kesal. "Sialan," umpatnya kesal. "Banyu!" Sebuah teriakan tiba-tiba yang keluar dari mulut Reina membuat dua sejoli itu terperangah. Panggilan itu sukses membuat keduanya menoleh ke arah Reina yang kini berdiri tak jauh dari meja mereka. Wajahnya merona merah dengan binar yang terlihat jelas di kedua matanya, membuat Banyu terpaksa menarik tangannya kembali. Reina membawa langkahnya mendekati Banyu dan memeluk pemuda tampan itu erat. Raut wajahnya terlihat bahagia melihat sosok itu kini ada di hadapannya. Keira mendesah pelan, membuang udara keluar dari paru-parunya. Merasa jengah melihat kedekatan keduanya. Baru saja pemuda itu menyatakan perasaannya, tapi sekarang malah berpelukan dengan adiknya. Keira memaksa senyumnya saat melihat keduanya tampak begitu akrab. Reina bahkan tak melepas pelukannya dilengan Banyu. Sementara pria itu tidak dapat melakukan apapun untuk menolaknya. Cemburu? Keira cepat menampik perasaannya itu. Ia bahkan tidak memiliki ikatan apapun dengannya. Mana mungkin bisa dikatakan cemburu. Keira hanya merasa jengah dan ya, sedikit kesal. Keira sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini. Seperti ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya, seperti rasa sakit yang sulit dijelaskan. Seperti ada sesuatu yang ingin meledak keluar dari rongga dadanya, yang membuat perutnya terasa gamang. Entahlah, ia bahkan tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah ini cinta? Keira tidak yakin. Dia bahkan tidak pernah sekalipun dekat dengan Banyu. Mereka hanya sekedar bicara saat ada pertemuan keluarga. Karena Reina akan langsung memonopoli pria itu setiap kali mereka bertemu. "Kei," panggil Reina. Namun tak ada sahutan. Kakaknya seperti sedang melamun. "Keira!" Panggilnya lagi, kali ini dengan tepukan pelan di pundaknya. Sukses membuat gadis itu tersadar. "Ada apa?" tanya Keira polos tanpa rasa bersalah. "Kau kenapa?" cicit Reina. Keira melirik ke arah Banyu yang terus saja menatapnya intens, membuat Keira salah tingkah. "Aku hanya terbawa perasaan, karena Banyu sampai datang kesini mengunjungi kita," sahutnya tanpa melepaskan tatapannya pada pemuda itu. "Iya, aku juga merasa begitu." Reina tersenyum lebar, sama sekali tak menaruh curiga pada sang kakak. "Apa kalian sudah memesan makanan?" tanya Reina kemudian, saat menyadari meja mereka masih tampak kosong. Keduanya menggeleng bersamaan lalu tertawa. "Kami menunggu datang," ujar Banyu menimpali. "Baiklah, bisa kita pesan sekarang? Karena perutku sudah mulai lapar." *** Kehadiran Banyu di hotel itu membuat Reina melupakan kesedihannya, juga rasa bosan yang melanda tiap kali Keira meninggalkannya sendirian di kamar hotel. Reina dengan senang hati menjadi tour guide bagi pria itu. Selepas sarapan pagi tadi, mereka berpisah. Keira meninggalkan keduanya untuk kembali menjalankan tugasnya di hotel itu. Dengan wajah dihiasi senyuman, Keira melangkah pergi. Ia yakin bahwa Reina dengan senang hati akan menemani pria itu selama berada di Medan. Namun Reina tak sadar, bahwa ada orang lain yang juga duduk makan di restoran itu, sedang memandangi gelagat keduanya. Melihat kedekatan Reina dengan sosok pria muda dari kejauhan. Alexander Baldwin juga berada direstoran itu. Hanya berjarak beberapa meja dari tempat sepasang muda-mudi itu duduk. Menahan geram di wajahnya tanpa bersuara. Pria itu ada disana karena memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang. Entah itu hanya alasan yang dibuat-buat. Yang pasti, ia terbakar cemburu. Pria itu menjadi lebih sering terlihat berkeliaran di hotel megah itu sejak bertemu dengan Reina. Pertemuannya yang tanpa disengaja, membuat Alexander jatuh hati. Penolakan-penolakan yang dilancarkan oleh Reina semakin membuatnya penasaran akan gadis itu. Seakan mengunci hatinya rapat untuk orang lain. Selama ini, Alexander dekat dengan banyak wanita yang hanya menginginkan uangnya saja. Membuatnya sulit menjatuhkan pilihan untuk segera menikah. Tak ada wanita yang benar-benar tulus mencintainya, membuat Alex berkelana dari satu wanita ke wanita lainnya. Alex memandangi pasangan muda itu saat meninggalkan restoran. Ia bisa melihat dengan jelas kedekatan Reina dengan pria itu. Tak sekalipun Reina melepaskan pelukannya dari lengan kekar Banyu. Tangannya mengepal kuat di atas meja. Makanan yang sejak tadi tersaji di depannya bahkan hanya diaduk-aduk di atas piring. Alex bisa mendengar keduanya tertawa bahagia meski samar, saat mereka telah berada di depan restoran. Padahal ia berharap bahwa Reina belum memiliki pasangan. Sepertinya ia harus menahan kepahitan, karena rencananya untuk mengajak gadis itu kencan telah gagal. Reina tidak akan pernah menerima permintaan maaf darinya. Alex lah yang telah mengirim paket itu untuk Reina dengan bantuan staf hotel yang ia bayar. Ia berharap gadis itu menerima dan memakainya malam ini, karena Alex berencana untuk mengajaknya makan malam romantis. Sementara ia telah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Alex bahkan telah mereservasi tempat untuk makan malam romantis mereka. Kini dengan kehadiran pria yang tak dikenal, semua rencana Alex harus gagal total. *** Banyu membawa Reina bertemu dengan Pak Abdi yang sedang duduk menunggu di loby. Mereka telah memutuskan untuk pergi tanpa Keira. Sebuah mobil telah disiapkan di depan hotel untuk mengantar perjalanan mereka hari ini. Reina begitu senang, karena itu ia tak membiarkan Banyu merasa tenang tanpa gangguan darinya. Namun tak sedikit pun Banyu merasa risih. Karena perjalanan ke kota itu memang untuk lebih dekat dengan kedua gadis itu. Sanjaya memang sengaja meminta Banyu untuk datang menemui kedua putrinya. Banyu tahu bahwa salah satu diantara mereka akan dinikahkan dengannya, meski hatinya lebih memilih Keira untuk menjadi pendampingnya kelak. "Kemana kita hari ini?" tanya Banyu saat mereka bertiga sudah duduk di dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN