Malam hari di kediaman Sanjaya. Semua tampak lengang seperti biasanya meski nona muda berada di rumah, suasana rumah tetap saja sama.
Sudah pukul delapan malam, sudah masuk waktu untuk makan malam telah. Seluruh persiapan telah selesai. Namun nona muda masih belum turun dari kamar.
Marta memerintahkan Ani, maid yang bertugas untuk melayani Reina untuk naik ke kamar. Gadis itu langsung bergegas pergi ke kamar nona muda dengan menaiki tangga.
Tok, tok, tok...
Ani mengetuk pintu. Tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Tok, tok, tok...
"Nona, sudah waktunya untuk makan malam." Ani mencoba mengetuk sekali lagi dan memanggil Reina. Masih tak ada jawaban hingga Ani mencoba mengetuk pintu sekali lagi.
Tok, tok, tok...
"Nona Reina..." panggil Ani.
Kali ini Ani memberanikan diri membuka pintu. Gadis itu melangkah perlahan mendekati ranjang Reina, namun tak melihat gadis itu disana.
"Nona Reina..." panggil Ani lagi. Ia berjalan mendekati kamar mandi setelah merapikan ranjang Reina.
Ani mengetuk pintu kamar mandi. Masih tetap sama, hening tak ada sahutan. Bahkan tak ada suara kran air di dalam sana.
Ani mencoba masuk. Kepalanya masuk lebih dulu, mengintip ke dalam kamar mandi. Kosong, tak ada siapapun di dalam sana.
Ani buru-buru keluar dari kamar nona mudanya dan berlari menuruni tangga langsung ke arah ruang belakang. Ia ingin segera melaporkan hal itu pada maid kepala.
Nafasnya terengah-engah dengan ritme jantung yang belum stabil. Ani berdiri di depan Marta dengan wajah pucat.
"Maaf, Bu..." kata-kata Ani terpotong, ia masih belum dapat menguasai dirinya dari keterkejutan.
"Ada apa? Kenapa kamu seperti orang ketakutan begitu?" tanya Marta cemas.
Ani berusaha menetralkan dirinya dengan cepat. Ia kembali berbicara saat nafasnya mulai kembali normal.
"Maaf, Bu Marta. Nona Reina tidak ada di kamarnya," lapor Ani setelah kembali tenang.
Marta membelalak lebar. "Apa? Dimana Nona Reina? Apa kamu sudah mencari ke seluruh kamarnya?" tanyanya cemas.
"Sudah, Bu. Nona Reina bahkan tidak ada di kamar mandinya. Kamarnya kosong saat saya masuk," jelas Ani.
"Coba cari di depan dan tanyakan pada Pak Abdi, apakah mereka melihatnya keluar rumah sejak tadi sore," titah Marta. Ani gegas pergi mencari ke bagian depan rumah.
Dan Marta segera memerintahkan maid lain yang sedang tidak bertugas untuk segera mencari nona mudanya ke seluruh ruangan di seluruh lantai. Wajahnya ikut memucat karena khawatir.
Sementara itu, Marta mencoba menelpon ponsel anak asuhnya itu untuk mencari tahu keberadaan gadis itu. Ponselnya berdering, tapi tidak ada jawaban. Hingga Marta mencoba mengulang panggilan hingga beberapa kali. Masih tak mendapat jawaban.
Cemas, Marta menjatuhkan pantatnya di kursi dapur. Tangannya saling meremas. Netranya mulai tampak berkaca-kaca.
"Dimana gadis itu?" gumamnya pelan. Mulutnya komat-kamit, memanjatkan doa untuk keselamatan nona mudanya.
Terdengar suara langkah mendekat ke arah dapur. Marta mengangkat wajahnya melihat beberapa maid telah kembali ke dapur.
"Bagaimana?" tanya Marta. Mereka menggelengkan kepala bersamaan.
"Nona tidak ada di lantai dua," sahut Hera seraya menunduk.
"Di lantai tiga juga tidak ada, Bu." Emi menjawab juga sambil menunduk.
"Di lantai atas juga tidak ada siapapun," jawab Nina pelan.
Ketiganya mundur, merapat ke dinding seperti biasanya.
"Bagaimana, ini?" Marta bertanya pada dirinya sendiri. Harapannya tinggal pada Ani dan juga Hana. Marta menunggu dalam cemas.
Tak lama, Hana muncul di dapur bersamaan dengan Ani tak jauh di belakangnya.
"Apa sudah menemukannya?" tanya Marta. Ia sampai bangkit dari duduknya.
"Nona tidak ada di ruang baca atau di kolam renang. Juga tidak ada di halaman belakang. Semua pintu juga terkunci dengan baik, jadi tidak mungkin Nona pergi lewat belakang," lapor Hana.
"Bagaimana, Ani? Apa kata Pak Abdi?" tanya Marta saat Ani telah tiba di dekatnya. Ani menggeleng pelan.
"Mereka tidak melihat Nona keluar dari rumah. Bahkan penjaga rumah juga tidak melihatnya. Mobil Nona Reina juga masih ada di garasi, Bu."
Marta menyentak nafasnya frustasi.
"Ya ampun, bagaimana ini? Tak ada seorang pun dari kalian yang melihat gadis itu?" Marta memastikan kembali. Semua maid saling melempar pandang.
Marta terduduk lemah di kursinya. Sikunya bersandar di meja dapur sementara tangannya memijit pelipisnya yang berdenyut. Semua orang tampak khawatir.
"Coba hubungi ponselnya," celetuk asisten koki dari arah belakang.
"Sudah. Dia tidak menjawabnya." Marta menghela nafasnya, dadanya terasa sesak.
Asisten koki datang mendekat dan berdiri di samping Marta. Mengusap punggung wanita tua itu lembut untuk menenangkannya.
"Tenang saja! Nona pasti masih ada di rumah ini. Jika dipikir-pikir, rumah ini terlalu luas dan Nona hanya tinggal sendirian. Mungkin dia ada di salah satu ruangan di rumah ini," ucapnya penuh pertimbangan.
Marta mengangkat wajahnya, menatap penuh pada asisten koki.
"Maksudnya? Semua orang sudah mencarinya..." jawabnya frustasi.
"Jika Ibu adalah Reina, kemana Ibu akan pergi? Karena saat dia menghilang, bukankah Nona juga sedang mabuk? Adakah tempat yang bisa Ibu pikirkan?" Asisten koki berkata dengan hati-hati.
Semua maid saling pandang, di dalam hati mereka mencoba menebak-nebak kemana perginya nona muda mereka.
Pun dengan Marta, maid kepala itu menebak dengan bimbang. Kedua netra hitamnya tampak berputar seperti tengah memikirkan sesuatu.
Lalu sesaat kemudian ia bangkit dan berkata, "Tolong ambilkan kunci cadangan di laci meja saya," tunjuknya pada Emi.
Emi segera berlari ke kamar belakang. Bangunan yang terpisah dari rumah utama, dimana para maid tinggal dan beristirahat.
Gadis itu masuk ke kamar pertama dengan ukuran ruangan yang lebih besar dari kamar lainnya. Ia merogoh laci meja bagian atas, dimana semua kunci disimpan.
Emi segera berlari keluar sesudahnya. Di tangannya ia membawa seikat kunci cadangan seluruh ruangan di rumah utama. Ia melangsir kunci itu ke tangan Marta saat dirinya telah kembali ke dapur dimana semua orang menunggu dengan cemas.
"Saya akan mencarinya di kamar atas."
Setelah bicara, Marta keluar dari dapur dan mulai menaiki tangga ke lantai dua, diiringi oleh Ani di belakangnya.
"Kita akan mencarinya dimana, Bu?" suara Ani mengimbangi suara derap langkah mereka.
"Kamar Nona Keira," ujarnya tanpa menoleh.
Langkahnya dipercepat hingga keduanya tiba di depan kamar Keira. Jika asumsinya tak salah, Reina kemungkinan merindukan sosok kakaknya itu. Sejak dulu, keduanya tidak pernah terpisah terlalu lama seperti saat ini.
Marta mulai memutar anak kunci dan mendorong pintu itu pelan hingga terbuka lebar. Keduanya kemudian merangsek masuk bersamaan.
Dan saat itu juga rasa khawatir Marta lenyap ketika keduanya mendapati Reina tengah berbaring di ranjang Keira. Ani mengusap dadanya kuat, menenangkan dirinya sendiri atas apa yang baru ia lihat. Raut wajahnya berubah haru.
Ketakutan yang dirasakannya beberapa saat lalu pun ikut lenyap bersamaan ditemukannya nona muda mereka.
"Apa kita akan membangunkannya untuk makan malam, Bu?"
Pertanyaan Ani menyadarkan Marta. Wanita itu menoleh menatap Ani di sampingnya.
"Tidak usah. Biarkan dia beristirahat disini. Mungkin saat ini dia sedang merindukan Nona Keira." Marta menyeka sudut matanya dengan ujung jarinya.
"Baik, Bu." Ani mundur beberapa langkah lalu berbalik keluar dari kamar itu, meninggalkan maid kepala bersama nona muda mereka.