Bab. 39

1114 Kata
Masih punya banyak waktu sebelum kembali ke rumah, Reina akhirnya putuskan untuk singgah di klub langganannya. Reina merasa ini akan lebih seru karena kali ini tidak sedang diawasi dengan ketat oleh Keira. Reina memutar stirnya, membawa kuda besi itu menuju klub langganannya. Lokasi parkir tampak sepi, meskipun ada beberapa buah mobil yang parkir dan juga motor, yang Reina yakini itu adalah milik para pekerja klub. Setengah kecewa, Reina tahu ia tidak akan mendapatkan apapun di dalam sana. Hari masih terang dan tentu saja belum banyak pengunjung yang memadati tempat itu. Namun tak mematahkan niat Reina untuk tetap masuk. Gadis manja itu akhirnya turun dari tunggangannya dan masuk ke dalam klub. Berjalan santai dengan heelsnya mengetuk lantai, Reina mendekati meja bar dan duduk disana. Suara musik mengalun kuat meski tak banyak tamu bergoyang di lantai dansa. Hanya ada beberapa tamu yang terlihat dikerubungi w************n yang mencari mangsa. Reina mencebikkan bibirnya, menatap miris para wanita yang menjajakan tubuhnya demi uang. Alasan mereka klise! Demi menyambung hidup keluarga mereka. Padahal, sebagian dari mereka menghabiskan uang hanya untuk berfoya-foya. Berbeda dengan Reina. Kedatangannya ke tempat itu hanya demi memenuhi obsesinya. Di klub itu, ia bisa menemukan berbagai jenis pria. Tua dan muda, yang berwajah tampan atau wajah standar, yang kaya raya bahkan yang hanya kalangan karyawan biasa. Reina punya banyak pilihan jika hanya sekedar mencari benih s****a pria dan bukan untuk berkencan apalagi tidur dengan mereka. Tidak! Reina tidak segila itu melepas keperawanannya demi pria yang ia temui di klub. "Beri aku redwine." Jari Reina teracung kala ia berbicara pada seorang bartender pria di depannya. Pria itu mengulas senyumnya lalu melangsir sebuah gelas bening burgundy, seperti biasanya. "Hari ini hanya sendirian?" tanya pria itu basa-basi. Reina mengangguk pelan. Sebenarnya, ia sedang tidak ingin mengingat apalagi membahas Keira. Akan tetapi, pria di depannya itu membuat Reina tertarik untuk menggodanya. Reina menyesap minumannya perlahan setelah menghirup aromanya lebih dulu. Membiarkan minuman itu menguasai dirinya. Pikiran nakal Reina seketika mulai menyerang otaknya. Dengan berani ia menarik pria itu mendekat padanya, membuatnya menatap Reina dengan gugup. "Mas, mau gak sama aku? Aku cantik dan punya banyak uang," pancing Reina seraya tersenyum genit. "Aku lagi cari cowok yang mau berbagi benih denganku. Aku akan bayar berapa pun yang Mas minta asalkan Mas bisa bikin aku hamil," bisik Reina nakal. Senyumnya kian merekah lebar. Wajah pria itu seketika memerah menahan malu saat berhadapan dengan wanita setengah mabuk. "Maaf, Mbak... saya sedang kerja," ujarnya berusaha menarik tangannya lepas dari genggaman Reina. Reina tertawa pelan. Ia mengacuhkan pandangan orang lain meski sadar kalau ulahnya mengundang perhatian tamu lain. "Gimana kalau kita ketemuan saat kamu libur?" ujar Reina, mencoba keberuntungannya sekali lagi. Namun lagi-lagi pria itu menolak Reina. "Yaudah deh... kalau nanti kamu berubah pikiran, beritahu aku ya." Reina melepasnya tangannya, dan membiarkan pria itu pergi. Sekali lagi, Reina kembali gagal diusahanya yang keduanya meski tanpa gangguan Keira. Tetapi bukan berarti Reina akan berhenti dan menyerah gitu aja. Ia malah semakin berani dan berniat untuk mencobanya lagi pada orang lain setelah ini. Reina meneguk sisa minumannya dalam satu kali tegukan lalu pergi dari tempat itu setelah membayar. Kepalanya mulai terasa sedikit pusing, namun Reina berusaha menahannya. Reina memilih untuk langsung pulang ke istana megah milik orangtuanya. Ia tak ingin disalahkan karena membuat kuda besi ayahnya baret sana-sini karena ulahnya. Tentu saja karena menyetir dalam keadaan mabuk berat! *** Di rumah kediiaman Sanjaya, Marta kelihatan cemas menunggu nona mudanya pulang. Wanita tua itu ditemani oleh maid bernama Ani, menunggu kepulangan Reina di pintu depan dengan perasaan was-was. Beberapa menit yang lalu, Marta memberanikan diri menelpon rumah kediaman Atmajaya Kesuma dan menanyakan keberadaan Reina. Hal itu ia lakukan karena takut tuannya pulang dengan tiba-tiba dan mencari Reina. Ketakutannya menjadi kenyataan saat tahu Reina tak lagi berada di rumah tuan besar Kesuma sejak tiga jam yang lalu. Dan sampai sekarang belum juga kembali ke rumah padahal hari sudah sore. Maid kepala itu akhirnya memutuskan pergi ke kamar khusus supir dan meminta tolong pada Pak Abdi untuk segera mencari nona mereka sebelum tuan mereka pulang. Mendengar hal itu, Pak Abdi segera menyiapkan mobil. Lelaki tua itu berniat mencari nonanya di beberapa klub malam. Karena salah satu tempat itu pasti pernah di kunjungi nonanya. Pak Abdi paham bahwa Reina menyukai tempat seperti itu. Mobil mulai bergerak maju meninggalkan garasi rumah dan hendak keluar dari pintu gerbang namun tertahan. Sebuah mobil mewah menjadi penyebabnya. Pak Abdi memilih mundur membuat Marta mengerutkan kening saat melihatnya. Namun kerutan itu segera menghilang saat mobil yang dikendarai oleh nonanya masuk melewati pintu gerbang menuju pelataran rumah. Marta gegas berlari menyambut kepulangan Reina. Ia membuka pintu bagian kemudi. Seketika aroma alkohol menguar, keluar dari mobil bersamaan dengan pintu yang terbuka. Marta menampung tubuh nonanya dan membantunya masuk ke dalam rumah bersama Ani yang ikut memegang tubuh Reina di sisi yang lain. "Nona mabuk lagi hari ini. Tuan bisa marah jika tahu," ujar Marta pelan. Reina meletakkan telunjuknya dibibir. "Sstt... Papa gak akan tahu. Tenanglah." Reina berhenti melangkah, memalingkan wajahnya dan memandang Marta beberapa saat lalu berkata, "Suruh mereka membersihkan mobil itu dan kembalikan ke dalam garasi." Marta mengangguk. "Baik, Nona." Ia kembali menuntun Reina naik ke kamar melalui lift khusus. Dan membantunya berganti pakaian, lalu membaringkannya di ranjang. Sementara Ani diperintahkannya turun untuk menemui Pak Abdi. Gadis itu memintanya untuk membersihkan mobil yang dipakai Reina dan mengembalikannya ke garasi seperti semula. Marta keluar dari kamar setelah tugasnya selesai. Ia kembali ke ruangannya di bagian belakang rumah, khusus untuk para maid yang bekerja di rumah itu. Hatinya merasa lega setelah Reina kembali. Marta berada di ruangannya untuk menyelesaikan laporan harian yang akan ia laporkan pada nyonya rumah. Ayuningtias selalu menanyakan keadaan di rumah itu padanya, dan juga laporan harian tentang semua kebutuhan di rumah. Karena itu, Marta harus segera menyelesaikannya sebelum persiapan makan malam. Karena nyonya Sanjaya sewaktu-waktu akan menelpon dan bertanya padanya. Selesai mengerjakan laporannya, Marta segera keluar dari kamarnya. Wanita itu segera membagi tugas para maid untuk tugas malam. Meskipun tak banyak pekerjaan yang akan dilakukan. Setidaknya nona mereka berada di rumah untuk makan malam. Juru masak segera melakukan tugasnya untuk menyiapkan menu utama makan malam. Dan asisten juru masak yang ditunjuk oleh Marta membantunya menyiapkan hidangan pencuci mulut. Sementara maid lain yang telah lelah bertugas seharian dapat beristirahat sejenak sebelum makan malam. Begitu pun dengan maid yang akan bertugas di meja makan dan juga bertugas mencuci piring. Mereka mendapatkan waktu untuk beristirahat sebelum kembali bekerja. Setelah membagi tugas para maid, Marta keluar dari dapur melalui pintu samping khusus pekerja. Ia keluar untuk memastikan mobil yang dipakai oleh nonanya telah bersih dan kembali ke garasi. Marta mengulas senyumnya saat mendapatkan mobil itu dalam keadaan bersih dan wangi. Tak ada aroma alkohol yang tertinggal di jok depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN