Bab. 38

1066 Kata
Reina memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu masuk sebuah gedung berlantai empat. Kemudian melangkah masuk ke dalam gedung, tersenyum ramah saat melewati petugas jaga di pintu depan. "Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Petugas yang berjaga menghentikan Reina beberapa saat. "Saya ingin bertemu dengan Bapak Banyu Danuarta," jawab Reina tenang. Meski untuk pertama kali datang ke tempat itu, ia sama sekali tidak gugup. "Maaf, apa Ibu sudah membuat janji sebelumnya?" Petugas itu bertanya lagi. "Tentu saja." "Kalau begitu, silahkan ikut dengan saya." Lelaki itu mengulurkan tangan, mempersilahkan Reina untuk masuk dan meninggalkannya di meja reapsionis. Seorang gadis berseragam menyambut Reina dengan senyumnya yang ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Bu?" katanya membuka percakapan. Suaranya terdengar lembut di telinga. "Ya. Saya sudah ada janji untuk bertemu dengan Bapak Banyu Danuarta siang ini," sahut Reina tak kalah ramah. Gafis di depannya hanya mengangguk kecil. "Saya bicara dengan Ibu siapa, ya?" "Reina. Reina Kesuma." "Sebentar ya, Bu Reina. Saya akan memberitahukan kedatangan Ibu di kantor ini." Gadis itu mulai menekan tombol telpon yang menyambungkannya dengan seseorang, entah siapa. Reina menunggu dengan sabar. "Silahkan naik ke lantai empat ya, Bu. Bapak Banyu sudah menunggu di ruangannya." Gadis itu mengarahkan tangannya pada lift yang terletak tak jauh di belakang Reina. Reina menoleh ke belakang dan langsung mengerti maksud gadis itu. Tanpa menunggu lagu, ia langsung pergi menuju lift. Seperti yang telah diberitahukan padanya tadi, Reina menekan tombol angka empat. Lift menutup dan mulai bergerak naik. Tak lama kotak besi itu kembali membuka dan Reina berjalan anggun keluar dari lift, menyisir lorong hingga ke ujung dan melewati beberapa ruangan yang tertutup. Di lantai itu, hanya ada satu ruangan yang terlihat lebih besar dari ruangan lainnya. Di depannya terdapat sebuah meja yang dihuni oleh seorang gadis cantik, dengan pakaian rapi dan riasan yang tak terlalu mencolok. Reina yakin, gadis itu adalah sektretaris Banyu. "Selamat siang, Mbak." Reina menyapanya. Gadis itu mengangkat wajahnya seraya tersenyum. "Selamat siang. Ibu Reina, ya?" tebaknya. Reina mengangguk mengiyakan. "Silahkan masuk Bu Reina, Pak Banyu sudah menunggu di dalam," sambungnya lagi. Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu lalu membukanya untuk Reina masuki. Langkah Reina anggun. Ia masuk dan duduk di sofa di dalam ruangan itu. Tujuannya bukan untuk bisnis walau sebenarnya ia ingin membuat kesepakatan dengan pria itu. "Hai, Rein." Banyu tersenyum lebar. Ia masih tak menyangka Reina akan benar-benar mengunjunginya. Gegas Banyu bangkit dari kursi kerjanya. Mengejar Reina yang telah duduk di sofanya. "Ada apa tiba-tiba ingin bertemu denganku? Seingatku, kau tidak suka dengan lingkungan kantor," ujar Banyu. Pria itu mendudukkan pantatnya tepat di samping Reina. "Tentu saja, calon suamiku bekerja di kantor ini, jadi aku harus mulai terbiasa dengan semua ini. Dan kau pun juga sama. Kau harus mulai membiasakan diri melihatku ada disini." Reina berkata dingin. Senyum lebar Banyu berganti dengan kerutan di dahi. Ditatapinya Reina dengan seksama. Meyakinkan diri bahwa gadis di depannya tidak sedang bercanda. "Ada apa sebenarnya?" tanya Banyu akhirnya. Ia tak ingin terjadi salah paham diantara mereka. Reina menyentak nafasnya. Mengatur kembali irama jantungnya agar lebih rileks. Kedatangannya bukan untuk ribut dengan Banyu. "Pernikahan kita. Apa kau sudah tau? Kenapa waktu itu kau tidak memberitahuku? Dan kenapa kau tidak katakan saja kalau Papa yang mengirimmu datang ke Medan?" Reina memberondongnya. Gadis itu ingin tahu semuanya, semua skenario yang dibuat orangtuanya untuknya. Banyu tak langsung menjawab. Pria itu malah kembali tersenyum dan mengusap kepala Reina dengan lembut. "Apa yang harus aku jelaskan lagi? Kau juga sudah tahu. Lagi pula, saat itu aku belum diberitahu akan menikah dengan siapa. Maksudku, Om Sanjaya punya dua putri, kan?" sahut Banyu enteng. Reina menatap bingung. Kedua alisnya mengernyit. "Kenapa? Apa kau tidak senang ya menikah denganku? Kalau tidak suka lebih batalkan saja," gerutu Banyu, wajahnya terlihat kecewa. Ia mengangkat tangannya dari kepala Reina. Reina memperdalam tatapannya ke manik hitam Banyu. Mencari kepastian di dalam sana siapa gadis yang disukai oleh Banyu. Jika pria itu menyukai dirinya, berarti Banyu harus menelan rasa kecewa karena Reina sudah putuskan tidak ingin menikah dengannya. "Siapa diantara aku dan kakakku yang kau sukai?" tanya Reina. "Apa itu penting? Pernikahan kita sudah ditetapkan," balas Banyu datar. "Tentu saja. Apa kau bisa menikah dan hidup bersama dengan pasangan yang tidak kau sukai? Omong kosong!" seru Reina. "Apa kau tidak suka denganku?" Banyu melempar pertanyaan itu kembali pada Reina. "Aku?" Reina menunjuk dirinya sendiri, kemudian menggeleng kuat. "Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat." "Apa Om Sanjaya sudah tau?" Reina mengangguk. "Iya." "Apa yang dikatakannya?" "Papa tidak akan membatalkan perjodohan itu demi menjaga nama baiknya," desis Reina kecewa. Banyu menghela nafasnya panjang. Masalah ini membuatnya sakit kepala. Ia tak pernah menyangka, wajah tampannya tak mampu membuat gadis manja seperti Reina tertarik padanya. "Lalu bagaimana sekarang?" tanya Banyu pasrah. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Senyum di wajah Reina seketika terbit. Sudah waktunya menyatakan niat kedatangannya pada Banyu, setelah pusing berkeliling hanya untuk mengatakan hal itu. "Aku ingin kau menikah dengan Keira." Reina berucap tegas. "Hah?" Mulut Banyu menganga, memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. "Menikahi Keira. Kau mau 'kan?" ulang Reina penuh penekanan. "Rein, please... jangan bercanda!" Mata Banyu membulat sempurna. "Aku mohon..." Reina menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. Kedua netranya mengerjap gemas. "Tapi ini gak mungkin, Rein." "Kenapa gak mungkin? Aku akan bilang sama Papa kalau kamu sukanya sama Keira, bukan aku." Banyu melotot tak percaya. Gadis itu membuatnya pusing. Masih tak percaya kalau Reina sanggup melakukan itu semua demi tak menikah dengannya. "Om Sanjaya pasti akan marah, Rein. Aku tidak ingin merusak persahabatan orangtuaku dan Om Sanjaya." Banyu coba mengingatkan Reina akan resiko dari ucapannya itu. "Kamu tenang aja. Aku akan bujuk Keira agar mau menikah denganmu juga. Jadi tidak ada alasan Papa untuk marah karena Keira juga putri Papa. Yang penting, perjodohan itu tetap berjalan sesuai kesepakatan mereka." Senyum Reina semakin lebar. Banyu menggeleng tak percaya. Namun ada perasaan lega di hatinya karena akhirnya ia akan menikahi Keira, bukan Reina. Tanpa sadar, Banyu ikut tersenyum. Senyum yang sangat tipis hingga Reina sendiri tak menyadari senyuman Banyu. Reina bisa pulang dengan perasaan lega. Akhirnya ia dapat meyakinkan Banyu. Dan sekarang Reina akan meyakinkan Keira juga. Ia berencana untuk datang menemui Keira di Medan. Dan itu hanya akan terjadi atas persetujuan Kakek Kesuma. Reina sepertinya harus sabar menunggu hingga kesehatan Kakek Kesuma pulih. Setelah itu, ia akan menyusul Keira. Dengan atau tanpa persetujuan kakaknya itu. Dan tentu saja, Reina juga punya tujuan lain disana. Alex. Ya, bertemu dengan Alexander Baldwin!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN