"Oh, jangan seperti itu sayang. Bagaimanapun dia adalah kakakmu. Apa kau tidak ingin menemuinya? Mungkin Kakek bisa mengaturnya untukmu." Kakek Kesuma mengerling penuh arti.
"Apa maksud Kakek? Apa aku bisa kembali ke Medan?"
"Itu tidak mungkin, Sanjaya sudah pasti akan menentang rencanamu."
Wajah Reina berubah muram. Pasahal baru saja ia berpikir untuk langsung menemui Alex jika ia bisa balik ke Medan lagi. Reina akan memulai rencana gilanya pada pria itu.
"Lalu, untuk apa Kakek memberiku harapan palsu?" sungut Reina.
Kakek Kesuma tersenyum lalu berkata lagi, "Kalian akan bertemu di rumah karena Kakek akan memintanya kembali ke Jakarta dalam waktu dekat."
Kening Reina mengkerut. Harapannya untuk bertemu Alex semakin kecil.
Jika Keira kembali ke Jakarta, maka tidak ada lagi alasan untuk bisa bertemu dengan Alex, pikir Reina. Ia menghela nafasnya.
"Sebenarnya apa yang ingin Kakek bicarakan denganku? Aku tau, Kakek pasti punya alasan memintaku datang ke sini, benar kan?" cecar Reina.
Raut wajah Atmajaya Kesuma berubah serius. Tak ada senyum menghias bibir keriputnya. Suasana kamar itu berubah tegang. Sanjaya bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang seraya menatapi wajah cucunya yang tampak lebih dewasa dibandingkan ketika mereka bertemu sebulan yang lalu.
"Apa kau sudah setuju untuk menikah seperti permintaan Sanjaya?" tanyanya serius.
Reina menggeleng pelan.
"Apa kau sudah tahu siapa laki-laki itu?"
Reina mengangguk. "Hmm."
"Apa kau mencintainya? Apa kau bersedia menikah dengannya? Kakek hanya ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya. Jadi, apa keputusanmu?" cecar Atmajaya tak putus.
Reina menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya pelan. Tangan Atmajaya diletakkan kembali ke sisi ranjang.
"Apa Kakek ingin mendengarkan pengakuanku?"
"Tentu saja."
"Apa Kakek berada di pihakku? Karena jika tidak, aku gak perlu repot menjelaskannya sama Kakek," cetus Reina tanpa basa-basi.
"Tentu saja, karena kau adalah cucuku," jawab Atmajaya berusaha meyakinkan Reina. "Apa yang ingin kau katakan?"
"Hmm..." Reina tampak berpikir sejenak sebelum benar-benar mengutarakan niatnya.
"Sebenarnya aku tidak ingin menikah. Bukan karena pria itu adalah Banyu. Bahkan jika ada pria lain yang datang untuk melamarku, aku juga akan menolaknya," ucap Reina tegas.
Atmajaya tidak begitu terkejut dengan keputusan Reina. Namun ia mendukung keputusan cucunya meski Reina belum mengatakan alasan dibalik ucapannya.
"Kenapa Kakek malah tersenyum? Apa Kakek sebenarnya sudah tahu tentang hal ini? Apa Papa sudah bicara dengan Kakek?" tebak Reina. Matanya menatap tajam penuh selidik ketika Atmajaya hanya menunjukkan senyumnya tanpa berkomentar.
"Tentu saja Papamu tidak akan mengatakan apapun. Karena dia tahu bahwa Kakek juga menolak rencana bodohnya itu. Dia ingin putrinya menikah sementara pernikahannya sendiri tak bisa ia selamatkan." Atmajaya mulai berkomentar.
Netranya yang tampak redup, teralih menatap langit-langit kamar. Desahan nafasnya terdengar berat seakan sedang memikul beban besar. Sementara pikirannya menerawang jauh ke masa lalu.
"Kakek tidak ingin Papamu mengulang kesalahan yang pernah Kakek lakukan dulu, menikahkan anak satu-satunya dengan orang yang tidak dicintainya," jelas Kakek Kesuma.
"Sekarang bagaimana, Kek? Aku juga tidak mencintai Banyu. Kakek tau 'kan? Kami hanya berteman dengannya, tidak lebih. Meskipun bukan itu alasanku yang sebenarnya," ungkap Reina. Suaranya mendadak lemah ketika Kakek Kesuma fokus menatapnya.
"Jadi apa alasanmu yang sebenarnya? Katakan pada Kakek." Reina terpaku. Ia tidak yakin untuk mengatakan hal gila itu pada Atmajaya. Orangtua itu bisa-bisa menghukumnya. Reina berakhir dilema.
"Bukan apa-apa, Kek! Aku hanya tidak ingin seperti Papa dan Mama. Pernikahan mereka yang berada di ujung tanduk, membuatku tidak yakin bahwa pernikahan akan membuat hidupku bahagia dan sempurna."
Atmajaya terlihat manggut-manggut. Sepertinya ia juga setuju dengan Reina. Setidaknya Atmajaya punya kesempatan untuk mempersiapkan gadis itu menjadi penerus bisnisnya kelak.
"Kalau gitu, Kakek akan mendukungmu. Tenang aja!" Atmajaya menepuk pundak cucunya pelan lalu kembali berbaring.
"Tapi, bisakah Kakek meminta sesuatu padamu sebagai gantinya?"
"Apa?"
"Kau harus menjadi penerus bisnis yang telah Kakek bangun selama bertahun-tahun. Kau adalah satu-satunya ahli waris Kakek, Reina." Atmajaya terbatuk beberapa kali, membuat dadanya terasa sesak hingga sulit untuk bernafas.
"Maaf Nona, Tuan Besar harus istirahat sekarang." Wanita berseragam putih berdiri di samping Reina, tampak sibuk membantu lelaki tua itu untuk meminum obatnya lalu memasangkan masker oksigen.
"Kalau gitu, aku pamit Kek. Cepat sembuh agar nanti bisa membelaku di depan Papa dan Mama," ujarnya sebelum beranjak pergi.
Reina kembali menutup pintu di belakangnya. Menarik nafasnya dalam dan menghelanya pelan lalu mulai melangkah ke pintu depan. Reina berhenti di depan teras. Merogoh tasnya, mengambil ponselnya dan mulai mencari nama seseorang. Beberapa saat kemudian, benda pipih itu telah berpindah ke telinga Reina.
"Halo... apa kau sedang sibuk?" tanya Reina. "Aku akan datang menemuimu disana. Ku harap kau mau menyambut kedatanganku," lanjut Reina sebelum mengakhiri telponnya.
Reina melajukan mobilnya keluar dari kediaman megah Atmajaya Kesuma. Pikirannya tengah berkecamuk. Perkataan kakeknya tadi menyita perhatiannya.
"Aku adalah satu-satunya ahli waris Kakek? Apa maksudnya?"
***
Keira berdiri, meregangkan seluruh ototnya yang kaku setelah berjam-jam duduk di depan imac-nya. Banyak hal yang harus ia kerjakan setelah Kakek Kesuma serta ayahnya menyatakannya sebagai petinggi di Hotel Santika Kesuma di kota Medan, salah satu dari jaringan hotel Kesuma Group.
Gadis itu berdiri di depan jendela kaca tinggi yang tertutup gorden tipis, namun tak menghalangi pandangannya untuk melihat ke sekeliling gedung hotel tempatnya berada.
Keira berdecak pelan. Di luar sedang turun hujan. Sudah beberapa hari hujan turun mengguyur kota itu siang dan malam. Dan itu membatasi ruang gerak Keira, membuatnya kesulitan untuk keluar berjalan-jalan melepas rasa bosan selama tinggal di hotel.
Tok, tok, tok...
Pintu di dorong terbuka dari luar. Keira menoleh ke belakang, mencari tahu siapa yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Permisi, Bu Keira... Pak Alex ingin bertemu dengan Ibu. Beliau sedang menunggu di luar." Sekretaris Keira yang baru, Sofia, tampak berdiri tak jauh dari meja kerjanya.
"Langsung suruh masuk aja, Sof."
"Baik, Bu. Oya, sebentar lagi jam istirahat. Apa Ibu ingin saya pesankan makanan atau memesan tempat untuk makan siang?" tawar Sofia sebelum ia kembali keluar.
Keira tersenyum tipis. "Tidak perlu, terima kasih."
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Sofia melenggang keluar dan mempersilahkan Alex untuk masuk sebelum menutup pintu ruangan itu.
Keira mengulas senyumnya lebar saat Alex telah duduk di seberang mejanya. Begitu pun dengan pria itu yang ikut tersenyum bersamanya.
"Bagaimana pekerjaan barumu? Apa kau mengalami kesulitan? Katakan saja, mungkin aku bisa membantumu," tawar Alex tulus.
"Terima kasih, tapi itu tidak perlu. Aku bisa mengatasinya. Jangan lupakan bahwa aku adalah anak dari pemilik hotel ini, jadi sedikit banyak aku sudah menguasainya," tolak Keira dengam cara yang sopan.
"Tentu saja. Aku hanya tidak ingin dana yang aku investasikan di hotel ini berakhir sia-sia. Aku hanya tidak ingin dirugikan," balas Alex tak mau kalah.
"Itu sudah pasti, karena aku juga ingin hotel ini berjalan lancar dan memberiku keuntungan besar," sahut Keira mendominasi.
"Hahaha..." Alex tertawa lepas.
"Baiklah, Nona Keira yang pintar dan cantik. Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu. Kau sulit untuk dilawan." Alex mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Ada apa kau datang kesini?" selidik Keira, kedua netra gelapnya menatapi Alex tajam.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang," ujar Alex santai.
"Tapi di luar sedang hujan. Sepertinya kita makan siang di restoran hotel ini aja."
"Tidak masalah," jawab Alex cepat. "Setidaknya kita bisa ngobrol bebas disana."
"Ayo pergi! Pekerjaanku disini juga sudah selesai." Keira menyantolkan tasnya di bahu lalu keluar dari ruangannya di iringi oleh Alex.
Keduanya memasuki lift bersama dan turun ke lantai bawah dimana restoran berada.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Alex memulai pembicaraan agar suasana di dalam lift tidak terlalu canggung.
"Hmm. Tanya apa?" Keira menoleh, sedikit menengadah ke atas.
Alex terlihat ragu, tak lama ia kemudian kembali bertanya, "Apa adikmu itu akan datang ke kota ini lagi?"
Tanpa sadar, Keira tertawa. Ia sudah curiga sejak awal kalau Alex menyukai adiknya.
"Jangan tertawa! Aku bertanya serius," sungut Alex jengkel. Dalam hatinya, ia menyesal sudah bertanya pada Keira. Gadis itu sejak awal sangat menyebalkan baginya.
"Apa kau menyukainya? Kalau gitu, kau harus berhati-hati karena Papa tidak suka jika putrinya diusik orang," goda Keira. Ia menutup mulutnya untuk menahan tawanya keluar.
"Aku hanya bertanya, bukan ingin mengusiknya. Kenapa? " tanya Alex kesal.
Keira tak menyahutnya. Gadis itu langsung keluar dari lift saat pintunya terbuka. Alex mengikutinya hingga mereka masuk ke dalam restoran dan duduk dengan saling berhadapan.
"Kau hanya akan kecewa padanya, Bapak Alexander yang terhormat." Keira menggantungkan senyum tipis di bibirnya.
"Apa dia sudah punya kekasih?" Raut wajah Alex berubah kecewa.
Keira menggelengkan kepala. "Adikku yang menyebalkan itu sebentar lagi akan menikah."
Senyum Keira benar-benar hilang dari wajahnya. Karena pria yang akan menikah dengan adiknya adalah orang yang dia sukai. Tapi Keira sadar, dia tidak mungkin menang dari Reina.
Lagi pula, orangtua angkatnya telah memberikan hotel itu untuknya. Itu lebih dari cukup untuk jaminan masa depannya, pikir Keira.
Sejak tahu bahwa ia bukan anak dari Sanjaya Kesuma, Keira sangat sedih. Untungnya keluarga itu, terlebih Kakek Kesuma, selalu menunjukkan rasa sayangnya tanpa membedakan dirinya dan Reina.
"Keira! Bu Keira!" panggil Alex keras seraya menepuk lengan gadis itu.
Keira mengerjapkan matanya beberapa kali, meraih kesadarannya kembali membuat lamunannya hilang begitu saja.
"Apa?" tanya Keira bingung.
"Apa yang kau katakan barusan itu benar?"
"Yang mana? Emangnya apa yang sudah kukatakan tadi?" Kening Keira berkerut. Mata Keira berputar saat berusaha mengingat apa yang dikatakannya tadi.
Alex menyentak nafasnya kesal. "Adikmu akan menikah. Apa kau serius?"
"Ooh... soal itu? Tentu saja benar. Apa kau cemburu?" goda Keira, senyum nakalnya kembali bertengger.
"Jangan bercanda!" tampik Alex, mukanya merona merah karena kesal.
"Aku gak bercanda. Kalau kau memang menyukainya, aku sarankan untuk mengejarnya. Mungkin aja gadis nakal itu juga suka padamu." Keira melipat tangannya bersedekap di depan d**a menunggu reaksi Alex.
"Kalau yang kau katakan itu benar, aku akan mencobanya. Boleh aku minta nomor ponselnya?" Alex mengulurkan ponselnya ke tangan Keira, melihat gadis itu mengetikkan beberapa angka di ponselnya.
"Ini. Aku sudah save nomornya di ponselmu." Keira menyerahkan ponsel itu kembali.
"Terima kasih. Kalau begitu, aku akan membayar semua pesanan makan siangmu. Kau boleh memesan apa saja," tawar Alex.
"Itu harus karena kau berhutang padaku," Keira mengulas senyum penuh arti.