Bab. 36

1016 Kata
Hari ini adalah hari baru. Matahari bersinar dengan cerahnya, masuk dengan bebas melalui celah jendela yang tak terhalang tirai gorden. Dua orang maid masuk beriringan ke dalam kamar Reina untuk memulai tugasnya. Marta berjalan anggun mendahului Ani. Dengan hati-hati, kepala maid membuka selimut yang membungkus tubuh Reina dan membangunkan gadis itu dengan suara lembut. Sementara Ani langsung melakukan tugasnya, membersihkan kamar Reina tanpa menimbulkan suara berisik. Suara heel sepatunya teredam oleh karpet import yang menutupi lantai. Ani sibuk memunguti pakaian Reina yang berserakan. Kemudian lanjut memvacum seluruh lantai dan karpet. "Nona Reina," Marta berucap pelan. Tak ada jawaban. "Nona Reina, ayo bangun!" Marta duduk di tepi ranjang, mengusap pelan tangan Reina secara berulang agar gadis itu terbangun. Reina bergerak sedikit. Memicingkan matanya dari silau mentari yang merangsek masuk dengan bebas. "Jam berapa sekarang?" tanya Reina malas. "Sudah jam sembilan." "Dimana Papa?" "Tuan sudah berangkat ke bandara setengah jam yang lalu." Reina membuka matanya. "Apa? Sudah pergi lagi? Kemana?" Reina memberondongnya dengan pertanyaan. "Maaf Nona, saya juga tidak tahu. Tuan menerima panggilan telpon, kemudian bergegas naik ke kamar." Marta menjelaskan apa adanya. "Apa Papa tidak mengatakan apapun?" Marta menggeleng pelan. "Sama sekali tidak. Beliau pergi dengan terburu-buru." "Apa ada telpon dari Keira pagi ini?" Sekali lagi Marta menggelengkan kepala. "Nenek sihir itu pasti mulai melupakanku," gumam Reina. "Jangan begitu. Nona Keira pasti sangat sibuk saat ini. Nona harus maklum," sahut Marta sebelum beranjak berdiri. "Air panas sudah disiapkan. Begitu juga dengan pakaian yang akan Nona pakai. Tuan Besar Kesuma meminta anda datang menjenguk. Apa Nona ingin sarapan di kamar?" sambung Marta sebelum pergi. "Aku sudah mengerti. Sebentar lagi aku akan turun." "Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu." Marta menunduk hormat lalu berjalan keluar dari kamar diikuti oleh Ani. Kini hanya tinggal Reina sendirian. Tak ada siapapun lagi di rumah besar itu selain dirinya dan para pelayan setia keluarganya. Reina menyibak selimutnya dan mulai berjalan ke kamar mandi. Bathup penuh buih sabun dengan wewangian segar telah menunggunya untuk dimasuki. Gadis itu melepas gaun tidur serta underwear yang melekat di tubuhnya. Kemudian melangkah masuk ke dalam bathup dan mulai berendam. Hanya menyisakan wajahnya di atas permukaan air. Air hangat membuat seluruh ototnya kembali melemas. Wewangian buih sabun membuat pikiran Reina menjadi lebih rileks. Jika tidak ingat pesan kakeknya, mungkin Reina akan berendam lebih lama. Hingga seluruh kulitnya berubah pucat. Reina menyudahi mandinya, membilas seluruh tubuh dan rambutnya, lalu menyikat giginya. Ia gegas keluar dari kamar mandi menuju walk in closet. Meraih pakaian yang telah disiapkan Marta untuknya. Reina mendengus pelan, menatapi pakaian yang disediakan Marta untuknya.  "Selalu saja pakaian formal," sungutnya. Namun Reina tak bisa menolak. Blus lengan panjang dengan detail mutiara pada bagian leher serta rok pensil berwarna hitam telah melekat di tubuhnya. Kali ini, Reina tidak mengenakan perhiasan mahalnya, hanya cincin berlian pemberian ibunya saat ulangtahunnya tahun lalu. Reina mengikat tinggi rambutnya, dan merias wajahnya natural dengan lipstik berwarna nude. Reina melangkah meninggalkan kamar dengan stileto hitam yang menempel pas di kaki jenjangnya seraya menenteng clutch mewah dari rumah mode ternama. Tak ada yang kurang dari gadis itu. Reina terlihat lebih dewasa sekarang. Rengek manja serta teriakan yang biasa terdengar riuh setiap pagi kini mulai hilang dan berganti dengan sikap anggun dan tenang. Reina banyak berubah sejak kepulangannya dari kota Medan. Marta serta seluruh maid di rumah itu menyaksikan perubahan itu. "Tolong buatkan makananku," ucapnya pada maid yang berdiri di belakangnya. Dengan sabar Reina menunggu hingga Emi selesai mengisi piringnya dengan makanan. "Terima kasih," ucapnya tulus. Emi bersama maid lain yang bertugas di meja makan saling pandang. Reina melahap makanannya dalam diam. Tak ada komentar kasar seperti biasanya. Bahkan denting sendok nyaris tak terdengar di meja makan. Ia meneguk habis minumannya pertanda bahwa Reina telah selesai. "Katakan pada supir untuk menyiapkan mobil," suruhnya pada mereka. Seorang maid bernama Hera bergegas keluar. "Katakan pada Bu Marta, aku akan pergi sekarang." "Baik, Nona." Emi menunduk lalu pergi ke area dapur. Tak lama akhirnya ia kembali bersama Marta. "Nona akan berangkat sekarang?" tanya Marta kembali memastikan. "Iya. Jaga rumah dengan baik." Marta menunduk seraya berkata, "Tentu saja." Reina bangkit, melangkah ke luar dari ruang makan menuju pintu depan. Terlihat Pak Abdi berdiri tegak di samping mobil sambil membukakan pintu belakang untuknya. "Aku akan pergi sendiri," katanya tegas. "Tapi, Nona--" "Jangan membantahku!" potong Reina cepat. "Aku sedang tidak ingin ribut sekarang." "Baik." Pak Abdi mengalah. Ia mendorong pintu mobil menutup lalu mundur ke belakang. Membiarkan Reina menempati posisinya di kursi kemudi. Tak lama kemudian, mobil mulai melaju meninggalkan kediaman Kesuma. Tak seperti biasanya, hari ini Reina langsung pergi ke rumah Kakek Kesuma. Ia sama sekali tidak berhenti untuk sekedar membeli buah tangan. Reina tahu, Kakek Kesuma hanya ingin bicara serius dengannya. Perjalanan satu jam ditempuh Reina hanya dalam empat puluh lima menit dengan mobil sport milik ayahnya. Sebelumnya Reina dengan susah payah merayu ayahnya demi diijinkan menggunakan salah satu koleksi mobil Sanjaya. Dalam hal ngebut, Reina cukup ahli jika dalam keadaan sadar dan tidak mabuk. Hanya saja, kadang Keira tak mengijinkannya karena tak percaya adiknya itu bisa menguasai mobil dengan baik. Akhirnya, gadis itu sampai di kediaman Kakek Kesuma. Seorang petugas penjaga pintu tersenyum ramah padanya. Reina tak mengacuhkannya. Maid kepala yang bertugas di rumah Kakek Kesuma menyambut Reina di depan pintu. Ia tersenyum hangat. "Selamat pagi, Nona. Tuan sudah menunggu di kamarnya." "Antar saya kesana," sahut Reina. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar pribadi orangtua itu. Kepala maid meninggalkan Reina sendirian bersama tuannya, kemudian menutup pintu kamar. Reina tersenyum manis. Langkahnya maju mendekati ranjang Kakek Kesuma dan duduk di kursi di samping ranjang. Orangtua itu balik mengulas senyumnya hangat. "Bagaiamana keadaan Kakek?" Reina meraih tangan keriput itu dan menggenggamnya erat. "Aku pasti akan baik-baik saja," jawabnya. "Dimana Sanjaya? Apa dia tidak datang bersamamu?" Kakek Kesuma tampak mencari sosok di balik punggung Reina. Raina menggeleng pelan. "Papa sudah berangkat tadi pagi. Mereka bilang, dia pergi dengan terburu-buru menuju bandara." "Apa kau tidak menelponnya?" Sekali lagi Reina menggelengkan kepala. "Mungkin nanti. Mungkin dia memang sedang dibutuhkan di suatu tempat." "Bagaimana kabar Keira?" tanya Kakek Kesuma lagi. "Jangan tanya padaku, Kakek selalu tahu lebih awal dariku." Reina menyunggingkan senyumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN