Reina memandang lurus ke depan, pada Sanjaya yang duduk di seberangnya. Meja bundar berkaki besi menjadi penghalanh diantara mereka. Ayah dan anak tengah duduk berdua, menikmati minuman dingin yang tersaji di hadapan mereka.
Beberapa jam yang lalu, keduanya baru saja menikmati waktu bersama di salon langganan Reina. Baru setelah itu Reina membawa ayahnya ke cafe yang berada tak jauh dari salon itu. Tempat ia biasa menghabiskan waktunya sebelum kembali ke rumah.
Dan disinilah mereka saat ini. Hening tanpa suara. Keduanya saling menunggu tanpa mau mendahului untuk membuka suara, hingga tiga puluh menit berlalu dengan sia-sia.
Sanjaya menyesap kopi s**u dari gelasnya. Sementara Reina masih menunggu sambil memainkan sedotan di dalam gelas jus jeruknya. Ia bahkan telah menghabiskan dua potong roti sandwich di atas piring. Namun mereka masih belum membahas apapun.
Reina berdecak kesal karena ayahnya hanya diam dan menunggu.
"Bagaimana? Papa masih berhutang penjelasan padaku," ujar Reina kesal. Tangannya bersedekap di depan d**a.
"Apa yang harus Papa jelaskan?"
"Pa, jangan pura-pura tidak mengerti! Katakan padaku, dengan siapa Papa menjodohkan aku?" desak Reina.
"Ooh... " Sanjaya tertawa pelan. "Kenapa tidak bilang dari tadi?" ujar Sanjaya santai tanpa merasa bersalah.
Reina mencebik kesal. Rasanya ingin menjambak rambutnya sendiri karena merasa geram karena ucapan ayahnya.
"Jika Papa katakan padamu, apa artinya kamu menerima perjodohan itu?" tanya Sanjaya memastikan.
"Ya ampun, Pa. Bilang dulu, dengan siapa Papa menjodohkan aku!" pekik Reina mulai tak sabar. Matanya mendelik lebar.
"Banyu. Kamu akan menikah dengan Banyu, Rein."
"Banyu? Pa, please... jangan bercanda! Reina gak suka sama Banyu, Pa!" ucap Reina tegas.
"Kenapa? Bukankah kalian dekat sejak lama? Papa pikir, kamu pasti menyukai Banyu."
Reina tertawa kikuk. Mulutnya menganga lebar. "Pa, aku dan Banyu hanya berteman. Gak lebih!" sanggahnya.
Reina menggelengkan kepalanya. Mengingat ia akan menikah dengan Banyu membuatnya bingung sendiri.
"Kenapa harus aku? Kenapa bukan Keira, Pa? Apa Banyu sudah tahu tentang ini?" tanyanya penasaran. Sanjaya mengangguk.
"Jadi, kedatangan Banyu ke Medan?"
"Itu saran Papa."
Reina memalingkan wajahnya ke tempat lain, seraya tersenyum miring. Pantas saja Banyu selalu menyinggung pernikahan di depan mereka. Kini Reina paham alasan Banyu mengatakan semua itu.
"Apa Banyu tahu dengan siapa dia akan menikah?" cecar Reina lagi. Sanjaya menggelengkan kepala.
"Itu tidak penting. Dia tidak menolak siapapun yang akan dinikahkan dengannya," jawab Sanjaya yakin.
"Apa Papa yakin? Apa kalian sudah bertanya padanya?"
"Itu tidak perlu, Rein. Papa dan Mama Banyu sudah setuju bila Banyu menikah denganmu."
"Tapi, Pa..."
"Stop!" Sanjaya mengangkat telunjuknya ke udara. "Tidak ada perdebatan lagi. Semua orang sudah menyetujuinya, Rein. Jadi jangan mencari-cari alasan untuk menolaknya," tegasnya tak ingin dibantah.
Reina mendengus kesal, usahanya untuk meyakinkan Sanjaya kembali menemui jalan buntu.
"Mungkin sudah saatnya mencari donor s****a," batin Reina. "Aku akan buktikan pada mereka bahwa aku bisa bahagia tanpa menikah. Pasti lebih menyenangkan jika aku punya bayi," batinnya lagi seraya tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Sanjaya pun tak menyadarinya.
"Apa Papa sudah selesai? Apa kita bisa pergi sekarang?"
"Mm... ayo!"
Reina memeluk lengan Sanjaya erat. Hari ini ia bebas untuk bermanja di lengan pria yang sangat dirindukannya. Meskipun Reina tak ingin mengakuinya.
Dan Sanjaya membiarkan saja gadis itu bergantung di lengannya. Sesekali tangannya mengusap kepala Reina lembut. Mereka sama sekali tak menghiraukan orang-orang yang mencibir kedekatan keduanya.
Sanjaya dan putrinya sama-sama tertawa saat semua orang menatap mereka sinis. Mungkin mereka berpikir bahwa Reina adalah seorang sugar baby yang sedang bermanja di lengan seorang sugar daddy.
Tidakkah mereka melihat kemiripan di wajah kami? Pikir Reina saat membalas tatapan orang-orang itu.
Jika ditilik lebih jelas, Sanjaya memang terlihat masih gagah diusianya yang menginjak empat puluh delapan tahun. Hampir separuh abad, tapi wajahnya masih terlihat tampan dan sangat terawat. Wajar saja jika banyak yang menyukai ayahnya, bahkan para pegawainya sendiri.
Sementara Reina, gadis itu memiliki tubuh ramping ideal dan tinggi badan sempurna untuk seorang model. Sayangnya Reina bukanlah model seperti banyak orang pikirkan. Ia memiliki segalanya yang diidamkan oleh banyak wanita lain. Wajah cantik, kulit bersih terawat, barang-barang bermerk, serta uang yang banyak. Segala kemewahan yang begitu diinginkan oleh semua wanita.
"Apa Papa bisa menebak apa yang sedang mereka pikirkan tentang kita?"
Sanjaya tertawa lepas. "Tentu saja. Lelaki tua tampan sedang bersama gadis muda yang sangat cantik. Apalagi yang bisa mereka pikirkan?"
"Apakah menyenangkan jalan bersama gadis muda?" sindir Reina seraya ikut tertawa.
"Papa mengerti maksudmu. Sudahlah, jangan menyindir Papa seperti itu."
"Bagaimana kalau aku yang berada di posisi Papa?" Reina memainkan alisnya naik turun.
"Maksudnya?" Kening Sanjaya berkerut.
"Ada seseorang yang menyukaiku. Sayangnya dia terlalu tua bagiku, ya walaupun tidak setua Papa. Tapi dia tampan dan juga sangat baik padaku," jelas Reina tanpa basa-basi.
"Siapa?"
"Aku yakin sekali jika Papa juga mengenalnya." Reina mengulas senyum penuh arti.
"Siapa?"
"Alex, Pa. Alexander kalau tidak salah."
Sanjaya menghentikan langkahnya demi memandang putrinya, ingin mendengar kejelasan dari mulut Reina.
"Bagaimana kamu bisa mengenalnya?" Kening Sanjaya berkerut. Namun Reina malah menunjukkan senyumnya.
"Kami tidak sengaja bertemu saat di lift. Dan setelah itu, kami jadi teman dekat," jawab Reina. Ia sengaja berbohong agar Sanjaya membatalkan perjodohannya. Senyumnya semakin mengembang ketika melihat air muka Sanjaya berubah.
"Jika Papa tidak percaya, Papa bisa tanyakan pada Keira." Sekali lagi, Reina berhasil memprovokasi ayahnya. Ia mengulum senyumnya. Hatinya bersorak girang.
"Sejauh apa hubungan kalian?" tanya Sanjaya dingin, mungkin masih merasa terkejut dengan pengakuan putrinya.
"Mm... aku tidak bisa mengatakan apapun. Tapi pria itu memang aneh. Karena dia mengakui aku sebagai pacarnya di depan teman-temannya," aku Reina, mengingat hal paling memalukan yang pernah ia alami saat bertemu Alex.
"Apa itu benar?"
Reina mengangguk cepat. "Tentu saja."
"Andai aku lebih memilih Alex daripada Banyu, apakah Papa akan membatalkan perjodohan kami? Aku mohon..." Reina menarik lengan baju Sanjaya, berharap ayahnya berubah pikiran.
"Itu tidak mungkin, Rein. Papa tidak mungkin membatalkannya begitu saja. Itu sama saja dengan mempermalukan Papa di depan mereka," ungkap Sanjaya.
Ada kekecewaan tersirat di matanya. Ia ingin Reina bahagia, tetapi malah menolak pria yang dicintai oleh putrinya. Sementara, ia dan keluarga Banyu telah sepakat untuk menikahkan anak-anak mereka demi memperkuat kerajaan bisnis mereka di masa depan.
Sementara di dalam pikiran Reina terlintas ide gila untuk menjadikan Alex sebagai salah satu pendonor baginya. Bukankah untuk mencari bibit unggul, ia harus mencari pria-pria unggul juga? Mungkin Alex adalah salah satu dari mereka, pikir Reina. Tapi, apa dia bersedia? Reina khawatir bila pria itu akan menolak ide gilanya.
Lalu sisanya?
Reina mungkin harus mulai berburu mulai dari sekarang.
Tapi kemana Reina harus mencarinya? Dimana ia harus memulainya?
Jakarta?
Atau Medan?