Reina turun dari kamarnya dengan pakaian rapi dan riasan bold andalannya. Bibirnya yang berwarna kemerahan, mengulas senyum penuh arti. Gadis itu bangun lebih awal untuk bersiap-siap.
Sanjaya menatap putrinya dengan keheranan saat Reina muncul di ruang makan tanpa beban dan ekspresi marah yang ia tunjukkan kemarin pada dirinya. Putrinya itu bahkan tersenyum ke arahnya tanpa ragu.
"Selamat pagi," sapa Reina saat dirinya telah duduk di meja makan.
"Ya, selamat pagi juga untukmu," jawab Sanjaya ragu. Ada sebersit kelegaan ketika melihat perubahan pada putrinya.
"Tumben Papa masih ada di rumah? Apa tidak bekerja hari ini?" tanyanya penuh sindiran tanpa menoleh. Pandangannya lurus menatap meja penuh hidangan.
"Tidak. Papa akan tetap berada di rumah kecuali ada rapat penting dan janji dengan klien," katanya menyahut.
"Kenapa? Apa Papa sudah bosan dengan sekeretaris Papa itu?" tanya Reina dingin tanpa ekspresi.
Sanjaya meletakkan sendoknya. Pandangannya kini teralih pada gadis yang duduk di depannya. "Apa yang kamu bicarakan? Itu semua tidak benar." Sanjaya berusaha menekan emosinya agar tak terpancing.
"Papa tidak perlu berbohong padaku, Pa. Aku sudah dewasa dan aku punya mata juga telinga. Kalian selalu membahasnya setiap kali bertengkar, jadi jangan heran jika aku tahu segalamya. Bahkan jika tembok di rumah ini bisa bicara, mereka juga akan mengatakan hal yang sama," ujarnya sarkas. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas, menyunggingkan senyum miring pada Sanjaya.
Sanjaya mengetatkan rahangnya. Kemarahannya sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Tatapannya tajam menusuk, namun Reina tetap tak perduli. Gadis itu terua saja mengunyah makanan di mulutnya dengan santai.
"Aku mau keluar sebentar. Papa juga boleh keluar jika bosan di rumah," sindirnya lagi, lalu menyudahi makannya. Reina bangkit berdiri setelah menyeka mulutnya.
"Oya, aku akan bawa mobil sendiri jadi tidak perlu merepotkan Pak Abdi lagi. Papa tenang saja, aku tidak akan membuat ulah lagi!" seru Reina sebelum Sanjaya mulai membuka mulutnya.
Gadis itu keluar dari ruang makan. Ia kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil tas yang masih tertinggal di atas nakas. Reina mengacuhkan Sanjaya yang berdiri menunggunya di anak tangga paling bawah.
"Kamu mau kemana, Reina?" hardik Sanjaya hampir kehilangan kesabarannya.
"Aku mau keluar sebentar. Aku bosan berada di rumah terus," kilah Reina.
"Papa ingin bicara denganmu," katanya. Reina membuntutinya ke ruang tengah dengan muka cemberut.
Reina mendudukkan bokongnya di atas sofa. Menunggu Sanjaya memulai percakapan mereka agar ia bisa cepat pergi dari sana.
"Papa ingin bicara apa?" tanya Reina tak sabar. Gadis itu terlihat gelisah.
"Kenapa? Apa kamu ada janji dengan seseorang?"
"Tidak juga. Aku hanya ingin ke salon sebentar. Selama di Medan, Keira selalu melarangku untuk pergi meninggalkan hotel. Bahkan untuk sekedar perawatan," keluh Reina.
"Jadi, please... aku hanya ingin pijat relaksasi dan melakukan perawatan tubuh. Lagi pula, aku bosan tinggal di rumah sendirian." Reina menambahkan. Kali ini ia bicara dengan nada sedikit memohon.
"Papa akan mengantarmu," tawar Sanjaya.
"Tidak perlu!" sahut Reina cepat. Matanya membelalak lebar.
"Kenapa? Papa hanya ingin menghabiskan waktu sama anak Papa. Waktu yang tak pernah Papa sisihkan untuk menemani kalian dulu," jawabnya lemah. Tatapannya menerawang ke langit-langit ruang keluarga.
"Aku hanya khawatir jika ada orang yang berpikir bahwa aku adalah kekasih Papa." Reina melirik Sanjaya, melihat perubahan pada raut wajahnya.
"Biarkan saja mereka berpikir seperti itu. Bukankah kamu juga berharap seperti itu? Agar tak ada lagi wanita yang mencoba merayu Papa?" goda Sanjaya, senyumnya mengembang.
"Ayo. Hari ini Papa akan menemani kamu. Tidak enak sendirian di rumah. Kamu paham, kan?" Alis Sanjaya naik sebelah.
Reina berdecak kesal saat tak kuasa menolak permintaan sang ayah. Padahal, ia berniat untuk berburu calon ayah dari bayinya kelak. Tentu saja tanpa melibatkan orang lain dalam obsesi gilanya itu. Karena mereka semua pasti akan menentang keputusannya itu.
Reina mempercepat langkahnya, mengejar Sanjaya yang hampir sampai di pintu depan.
"Biar aku yang nyetir," ujar Reina. "Papa tidak tahu kemana tujuanku, jadi biarkan aku yang menyetir."
Sanjaya mengangguk menyetujui. Ia harus belajar mengalah jika ingin merebut hati putrinya itu. Dengan harapan, Reina mau menyetujui perjodohan itu.
"Aku ingin bawa yang itu. Boleh, kan?" Reina menuding mobil sport berwarna kuning, yang merupakan salah satu koleksi Sanjaya.
"Kamu belum pernah membawanya. Biar Papa saja yang bawa," sergahnya. Ia khawatir Reina akan menggores koleksi mobil mahalnya.
"Aku akan berhati-hati. Aku janji." Reina mengangkat dua jarinya ke udara. Senyumnya mengembang sempurna saat sang ayah mengangguk setuju.
Reina duduk di balik kemudi dengan gugup. Perlahan mobil keluar dari garasi dan melaju menuju pintu gerbang. Sesaat ia melupakan rasa kecewanya terhadap Sanjaya.
"Kita akan ke salon dulu, aku mau body treatment biar kelihatan segar. Aku khawatir Papa akan bosan menunggu ku," ujar Reina sekedar mengingatkan. Ia melirik Sanjaya dengan ujung matanya, berharap pria tua itu berubah pikiran.
"Tidak apa-apa. Papa juga ingin mencobanya," sahutnya santai. Untuk kali ini, rencana Reina gagal total.
Gadis itu menghela nafasnya pelan, mencari cara lain untuk membuat Sanjaya berubah pikiran.
"Kapan Mama akan pulang? Apa Mama juga tahu kalau Papa bakal menikahkanku dalam waktu dekat?" tanya Reina berbasa-basi.
"Seharusnya kamu telpon Mama dan tanyakan langsung padanya. Jika sudah bosan di luar, dia pasti akan pulang ke rumah."
Reina mendesah pelan. "Apa kalian tidak saling mencintai? Kenapa memilih menikah jika tidak cinta?" Pertanyaan Reina keluar begitu saja tanpa memikirkan perasaan sang ayah yang sedikit terkejut.
"Kami dijodohkan. Walaupun bukan cinta pertama, tapi Mama kamu berhasil membuat Papa jatuh cinta padanya." Tatapan Sanjaya menerawang.
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Yah... Mama merasa cemburu pada salah satu pegawai Papa yang berujung salah paham." Sanjaya terkesan membela diri. Reina hanya mendengarkan saja tanpa membantah apapun.
"Dan kalian melampiaskan kemarahan kalian dengan meninggalkanku dan Keira. Apa Papa tahu kalau aku dan Keira sangat membutuhkan kalian? Kami juga selalu merindukan kalian dan berharap kalian mau meluangkan waktu untuk kami," oceh Reina lagi.
"Karena itu, Papa ingin menebusnya."
"Dengan apa? Dengan menikahkanku sama cowok yang aku juga gak kenal? Apa kalian yakin kalau suatu saat aku akan jatuh cinta padanya?" cecar Reina. Mengambil kesempatan itu untuk beradu argumen, berharap Sanjaya akan mengerti.
"Papa sangat yakin karena kamu juga mengenalnya," sahut Sanjaya tenang, tak ingin terprovokasi oleh ucapan Reina.
Reina memalingkan wajahnya. Mencari kepastian di balik tatapan pria paruh baya di sampingnya.
"Papa berhutang penjelasan padaku," ucap Reina sesaat sebelum mobil mereka memasuki area parkir salon kecantikan langganan Reina.