Bab. 33

1056 Kata
Reina bertahan untuk mengunci dirinya di dalam kamar. Ia terpaksa melewatkan makan malamnya karena masih merasa kesal pada sang ayah. Dan terpaksa berpura-pura tidak mendengar ketukan di pintu serta panggilan lembut Marta. Dan sekarang sudah lewat tengah malam, Reina harus menahan perih di perutnya karena rasa lapar datang menderanya. Membuat Reina meringis memeluk perutnya yang mulai keroncongan. Meskipun ia memaksa matanya untuk terpejam kuat, namun nalurinya tetap menolak untuk tidur. Karena yang dibutuhkan oleh Reina adalah makan malamnya, bukannya malah tidur dengan perut lapar. Reina terpaksa bangkit dari ranjangnya dan mulai berjalan ke arah pintu. Membuka pengait pintu dan menarik handel pintu perlahan. Ia tak ingin seorang pun tau jika ia keluar dari persembunyiannya. Langkah kakinya berayun cepat menuruni anak tangga ke lantai bawah. Lalu berjalan memasuki dapur, namun tak seorang pun berada disana karena semua orang telah beristirahat. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk datang ke kamar Marta dan mengetuk pintunya. "Nona... ada apa?" tanya Marta saat mendapati Reina berdiri di depan kamarnya. "Kau masih belum tidur, kan?" katanya dengan suara pelan. Marta menggeleng. "Belum. Apa Nona lapar? Apa ingin saya buatkan makanan?" tanyanya dengan nada khawatir. Reina mengangguk malu. "Sebentar." Marta kembali masuk ke kamarnya. Memakai jubah tidurnya lalu membawa Reina menuju dapur. "Apa Nona ingin makan disini?" tanya Marta lagi saat melihat Reina duduk di pantry. "Kenapa?" Reina mengernyit bingung. "Sebaiknya tunggu saja di kamar. Saya akan membawanya ke atas nanti," jawab Marta. Reina diam tampak berpikir untuk sesaat. "Ya sudah. Tolong bawakan juga s**u hangat untukku," jawabnya kemudian. "Tentu saja. Pergilah." Sesudah Marta berkata seperti itu, Reina segera beranjak pergi dan kembali ke kamarnya. Sementara Marta pergi untuk membangunkan asisten koki untuk menyiapkan makan malam majikan muda mereka. Hampir tiga puluh menit Reina menunggu di kamarnya dengan frustasi, karena perutnya minta diisi. Tubuhnya disandarkan pada kepala ranjang, sementara tangannya memeluk perut rampingnya dengan mata terpejam. Tak lama, pintu kamar dibuka dari luar. Marta tampil dari balik pintu sambil membawa baki berisi segelas s**u putih hangat dan sepiring nasi goreng seafood, serta beberapa cemilan dingin.  Wanita itu tersenyum saat Reina menyambutnya. Reina turun dari ranjang dan duduk di sofa. "Makanlah selagi hangat," ujarnya saat meletakkan baki diatas meja. "Terima kasih." Senyum Reina mengembang. Aroma mentega dari nasi goreng itu menguar di udara dan memenuhi ruang kamar Reina. "Saya akan kembali lagi nanti untuk mengambil piring kotor," ujar Marta saat hendak keluar dari sana. "Jangan! Disini saja dulu, aku ingin ditemani." Reina berkata sebelum Marta sempat keluar. "Baiklah."  Marta menurut dan ikut duduk tak jauh dari anak asuhnya. Melihat Reina menyantap makan malamnya dengan lahap, Marta mengulum senyumnya. "Apa Nona ingin yang lain? Akan saya ambilkan di dapur," tawar Marta saar melihat makanan di piring telah ludes tak bersisa. "Tidak usah. Perutku sudah kenyang." Reina mengusap perutnya sambil tertawa kecil. "Terima kasih, Bu Marta." Wanita tua itu ikut tertawa dengan suara tertahan. "Lain kali telpon saja. Nona tidak perlu repot datang ke kamar saya," ucap Marta. "Gak apa-apa. Sebenarnya aku juga bosan di kamar terus," jawabnya memberi alasan. Reina kemudian diam. Senyum di bibirnya lenyap begitu saja. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" selidik Marta ketika melihat perubahan di wajah gadis itu. "Mm... apa aku sangat menjengkelkan?" tanya Reina, membuat Marta mengernyit bingung. "Apa?" "Apa aku seburuk itu sampai Papa dan Mama tidak mau menyayangiku?" tanyanya lagi. "Kenapa bicara seperti itu?" Marta mulai terlihat khawatir. "Sejak aku kecil, mereka selalu meninggalkanku dan Keira. Lalu setelah aku besar, mereka tiba-tiba pulang dan membuat keputusan untuk menikahkan aku dengan pria yang aku sendiri tidak kenal. Apa aku seburuk itu, sampai Papa dan Mama ingin aku pergi dari rumah ini?" Wajah Reina berubah mendung. Marta tak sampai hati melihat betapa rapuhnya Reina saat ini. Ia duduk mendekat, meraih tangan lembut Reina dan menggenggamnya. "Jangan bicara seperti itu. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Mungkin mereka sedang memiliki masalah sendiri yang membuat mereka menjauh satu sama lain, termasuk jauh dari anaknya." "Tapi aku belum ingin menikah, Bu. Kenapa Papa sangat keras kepala?" keluh Reina. "Mungkin Tuan Sanjaya hanya merasa kasihan karena Nona Reina tak memiliki teman yang bisa menemani setiap saat. Apalagi Tuan dan Nyonya jarang berada di rumah. Saya pikir, mungkin juga karena Nona Keira sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya, jadi tidak bisa sepenuhnya menemani Nona Reina." Marta berusaha memberi pengertian pada anak asuhnya. "Nona harus percaya, Tuan mungkin tidak ingin melihat Nona merasa kesepian seperti sekarang." Ia mengeratkan genggaman tangannya. "Tapi, Bu... aku tidak percaya pernikahan akan membuatku bahagia. Aku takut, pernikahanku akan berakhir seperti Papa dan Mama. Mereka hidup dengan saling menyakiti seperti itu selama bertahun-tahun." Marta membeliak kaget karena Reina mengetahui semuanya tentang hubungan kedua majikannya itu. "Jadi, maksud Nona?" Marta menggantung kalimatnya. "Aku tidak ingin menikah. Tapi aku bisa punya anak biar aku tidak kesepian lagi," jawab Reina bersemangat. Air mukanya kembali berubah ceria. Kedua alis Marta berpadu membentuk cukangan kecil diantaranya. "Maksudnya apa?" tanyanya bingung. "Aku ingin punya anak, Bu. Aku ingin punya bayi yang akan ku lahirkan sendiri," jawab Reina. Gadis itu tersenyum lebar penuh arti. "Nona, tolong jangan lakukan hal aneh yang bisa membuat Tuan marah," ujar Marta. Dia merasa khawatir dengan perkataan Reina barusan.  Namun Reina seakan tak mendengar peringatan Marta. Gadis itu malah semakin terbuai dengan khayalannya. Pikirannya melayang entah kemana. Reina masih tak bisa tidur selepas Marta keluar dari kamarnya membawa baki berisi piring kotor ke dapur. Ia kembali mengunci pintu karena tak ingin ada orang yang menerobos masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Ingatan Reina terbang pada cowok tampan yang ia temui di klub malam. Laki-laki tampan yang cocok untuk menjadi pendonor benih calon anaknya. Sayang sekali, karena Keira menghancurkan harapannya sebelum itu terjadi. Reina mengulas senyumnya lebar. Entah mengapa ide itu mengalir begitu saja. Ia tiba-tiba terobsesi pada pria tampan dan benih yang mereka bawa di tubuh mereka. Seakan tubuh penuh hormon itu memikat dirinya. Reina Santika Kesuma menemukan obsesinya. Tak lagi tentang kesenangan duniawi dan minuman beralkohol. Bukan tentang tas dan pakaian bermerk. Bahkan bukan tentang pernikahannya yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Karena sebuah pernikahan belum tentu bisa membuatnya bahagia dan memberikannya anak. Ya, anak yang banyak agar Reina tak kesepian lagi. Obsesinya adalah Reina ingin mendapatkan pria yang bisa memberinya anak. Tanpa pernikahan dan tanpa penyatuan tubuh. Mungkin terdengar gila, tapi Reina menyukainya dibandingkan memaksanya untuk menikah. Reina lebih tertarik untuk hamil dan melahirkan bayinya. Alasannya klise. Reina ingin bahagia dengan caranya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN