Sanjaya mematung untuk beberapa saat. Ucapan putrinya telah membuatnya sadar betapa ia telah begitu jauh meninggalkan mereka di belakang. Laki-laki yang dipanggil dengan sebutan papa itu tak pernah memberikan waktunya untuk mengasuh putrinya dengan alasan sibuk bekerja.
Mengingatkannya, betapa ia hanya memperdulikan masalah uang, uang, dan hanya uang. Ia telah membesarkan putrinya dengan uang yang ia miliki. Menebus setiap waktu yang ia buang dengan memberibmereka uang yang banyak.
Sanjaya lupa, bahwa kedua putrinya juga butuh perhatian dan kasih sayang mereka. Kedua putrinya butuh sosok papa yang real, yang ada dalam setiap jejak pertumbuhan mereka, dalam fase hidup mereka, dalam susah senang mereka.
Ia terlalu sibuk mengejar kesenangannya sendiri, hingga lupa bahwa putrinya begitu merindukan hadirnya. Ia terlalu sibuk bekerja dan selingkuh dengan sekeretaris seksinya hingga lupa pada kewajibannya.
Lalu ketika ia mulai menua dan kedua putrinya sudah tumbuh dewasa, ia baru berpikir untuk mengambil tanggung jawab itu yang selama ini mereka serahkan pada maid kepercayaan mereka. Membuat kedua putrinya terluka dalam. Ya, mereka telah dewasa dan mengerti segalanya. Mereka telah terluka terlalu lama.
Sanjaya membatu, saat kalimat sindiran itu menghantam gendang telinganya hingga menimbulkan retakan di hatinya. Ia tak mampu bicara untuk sekedar membantah tuduhan putrinya. Ia ingin marah, namun merasa tak berhak.
Ia merasa seluruh sendi ditubuhnya, bahkan jantungnya remuk redam dalam hitungan detik. Putrinya sendiri telah berani melakukan kesalahan di belakangan dan membantah kepadanya. Ingin rasanya marah seperti orangtua tua terhadap putrinya, namun kalimat Reina berhasil menyudutkannya. Ia telah kalah.
"Reina! Jaga bicara kamu."
Kalimat itu terbang keluar dari mulut Atmajaya sendiri. Dengan malas Reina menurunkan pandangannya dari sang ayah. Ia mencebikkan bibirnya kesal.
"Kapan kamu sampai, nak? Ayo, duduk! Bicarakan semuanya dengan kepala dingin."
Ucapan bijaksana Atmajaya membangunkannya dari lamunan. Sanjaya duduk diantara putri dan ayahnya.
"Katakan Reina, apa yang ingin kamu akui di depan Kakek dan Papamu? Kamu sadar 'kan, apa kesalahanmu hingga Keira menyuruhmu pulang?" Atmajaya kembali bersuara.
"Tak ada yang ingin aku akui. Kalian juga pasti sudah tau apa yang terjadi."
"Baiklah. Kakek paham kenapa kamu bersikap kekanakan seperti itu. Tapi tidak pantas jika kamu berbuat sesuka hati hanya untuk menunjukkan jati diri kamu. Apalagi berbicara kasar pada orangtuamu. Ingat Reina, bagaimanapun juga kamu harus berubah demi masa depan kamu. Kamu tidak bisa selamanya bergantung pada orang lain, terutama Keira."
"Aku tahu," timpal Reina cepat.
"Berhentilah membuat orang lain khawatir. Kamu sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah." Perkataan Atmajaya membuat putra dan cucunya menatap serius ke arahnya.
"Dari mana Papa tahu?" tanya Sanjaya, air mukanya seketika berubah.
"Apa maksud Kakek? Siapa yang ingin menikah? Aku?" tuding Reina pada dirinya sendiri. Ia menatap dua pria dewasa di depannya bergantian. Namun Atmajaya hanya tertawa kecil.
"Tanya sendiri pada Papamu," kelit pria tua itu.
"Papa?" Wajahnya berpaling menatap Sanjaya nanar.
"Ya, kamu akan menikah beberapa bulan lagi setelah Keira kembali kesini."
"Kenapa bukan Keira? Kenapa harus aku?" gerutunya masih merasakan keterkejutan.
"Karena kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri. Kamu sudah terlalu sering merepotkan kakakmu itu, sampai dia melupakan dirinya sendiri. Harus sampai kapan kamu seperti itu? Bersikap dewasalah, Reina. Daripada kamu mempermalukan dirimu terus, akan lebih baik jika kamu menikah." Sanjaya menjelaskan.
"Aku gak mau, Pa! Kenapa Papa gak tanya aku dulu? Ini hidupku dan Papa gak berhak memutuskan apa yang baik untukku!" ocehnya.
"Papa berhak mengaturmu. Kamu itu anak Papa!"
"Kenapa bukan Keira? Kenapa harus aku?"
"Karena kamu terlalu banyak membuang waktumu di klub dan cuma tau menghabiskan uang dan mabuk-mabukan. Gadis baik-baik tidak akan melakukan semua itu," tandas Sanjaya.
"Lalu apa yang telah Papa dan Mama lakukan selama ini? Apakah kalian pikir sudah menjadi orangtua yang baik bagiku dan Keira?" pekik Reina frustasi.
"Reina!" bentak Sanjaya geram. Gadis itu menundukkan kepala.
"Kamu tidak berhak menolak! Papa sudah menjodohkan kamu dan kalian akan segera menikah."
"Aku gak mau, Pa!" tolak Reina berang.
"Menikah atau kamu tidak akan mendapatkan apapun dari harta Papa. Papa akan mencoret nama kamu dari ahli waris keluarga Kesuma." Sanjaya memberikan keputusan yang membuat Reina membelalakkan matanya lebar.
"Pa..." desis Reina putus asa.
"Papa memang bukan orangtua yang baik. Tetapi setidaknya Papa bisa memberikan yang terbaik buat kamu dan Keira. Papa hanya ingin menjaga nama baik kamu, Rein. Sekali saja nama baik kamu tercoreng, tidak akan ada gunanya lagi sekuat apapun usaha kamu karena orang akan terus mengingatnya."
"Tapi, Pa --"
"Papa tidak sedang bernegosiasi denganmu," sahut Sanjaya cepat.
"Kalau Papa ingin Reina jadi gadis baik-baik, Reina akan lakukan, Pa. Tapi gak harus memaksa Reina kayak gini," keluhnya.
"Papa gak mau dengar apapun lagi, Rein. Papa kecewa sama kamu."
Sanjaya bangkit berdiri. Meninggalkan ayahnya dan putrinya di halaman belakang dengan wajah kecewa. Ia menyentak nafasnya keras. Tenggorokannya sesaat terasa tercekat.
Langkahnya membawanya ke kamar pribadinya. Menutup dirinya dari dunia untuk beberapa saat. Sanjaya sama frustasinya saat ini. Menghadapi putrinya yang telah beranjak dewasa, ia merasa gagal.
Sementara Reina juga menahan rasa perih di tenggorokannya. Keputusan sang ayah yang menjodohkannya dengan pria yang tidak ia kenal, membuat dunianya serasa hancur. Airmata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luluh. Melesat deras dari pelupuk matanya dan mulau membasahi pipinya yang merona merah.
Ia juga bangkit. Berlalu dari hadapan Kakek Kesuma untuk kembali ke kamarnya. Kamar yang bagai goa persembunyiannya selama ini. Goa yang melindungi dirinya sejak ia masih anak-anak.
Reina membanting tubuhnya di atas ranjang. Menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya dan mulai terisak kencang. Marta yang sejak tadi membuntuti anak asuhnya itu ikut merasa sedih, saat mendengar lolongan lirih Reina dari balik pintu.
Ia sangat khawatir pada gadis itu dan ingin mendobrak masuk untuk memberikannya pelukan. Namun Reina telah mengunci dirinya dari dalam kamar. Marta hanya bisa menghela nafasnya. Ani yang berdiri di sisinya juga merasakan hal yang sama.
Akhirnya, Marta memilih turun kembali untuk menemui Tuan Besar Kesuma yang masih duduk di taman belakang. Pria tua itu masih berada disana menyesap sisa minuman di dalam cangkir tehnya.
"Bagaimana?" tanyanya saat Marta telah berdiri di belakangnya.
"Nona Reina sedang menangis di kamarnya," sahut Marta. Suaranya terdengar bergetar.
"Biarkan saja! Ayah dan anak itu sama-sama keras kepala. Apakah Ayu sudah kembali?" tanya Atmajaya lagi.
"Belum, Tuan."
Atmajaya menarik nafas panjang. "Wanita itu telah berubah, Marta. Semua ini karena kesalahan putraku sendiri. Ayu adalah menantu yang baik. Tapi kelakuan Sanjayalah yang membuatnya jadi istri pembangkang." Ia menghela nafasnya lagi.
"Biarkan mereka tenang dulu. Siapkan saja makan malam seperti biasa. Jika lapar, mereka akan turun."
"Baik, Tuan."
"Kalau begitu, saya akan kembali sekarang. Jaga Reina baik-baik untuk ku."
"Tentu saja. Dia sudah seperti putri saya sendiri," jawab Marta.
Atmajaya hanya menganggukkan kepalanya. "Aku percaya padamu," katanya sambil tersenyum.
Marta hanya menundukkan kepalanya saat Atmajaya berlalu dari hadapannya. Perawat pribadinya membawanya kembali ke mobil.
***
Malam ini, seperti biasanya Marta memerintahkan koki dan maid yang bertugas di dapur untuk menyiapkan makan malam, seperti yang diperintahkan oleh Tuan Besar Kesuma padanya. Setelah semuanya telah tertata rapi, Marta naik untuk memanggil anak asuhnya.
Suara ketukan di pintu mulai terdengar beberapa kali. Namun tak ada sahutan dari dalam. Marta mulai berteriak memanggil anak asuhnya disela ketukan pintu yang masih terus terdengar. Hasilnya tetap nihil. Reina masih tak mau membukakan pintu kamarnya.
Marta kembali memanggil dengan suara lembut seraya membujuk agar gadis itu mau keluar. Lagi-lagi, Reina tak juga menyerah. Gadis itu tetap bertahan di dalam kamarnya.
Marta hanya bisa pasrah. Ia kembali turun dengan tangan kosong. Tatapannya tertumbuk pada Tuannya yang sudah duduk di ruang makan seorang diri.
"Bagaimana?" tanyanya saat Marta sudah berdiri di belakangnya.
"Nona Reina masih mengurung dirinya, Tuan."
"Ya sudah, biarkan saja. Jika lapar, Reina pasti akan turun." Sanjaya menjawab datar.
"Baik, Tuan." Marta hanya bisa mengangguk patuh.
Sanjaya menikmati makan malamnya dalam keheningan. Tak seorang pun berada disisinya, bahkan istrinya sendiri. Hanya ada Marta dan maid lain yang bekerja di rumahnya yang selalu berdiri dengan setia di belakangnya.
Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring, menemani makan malamnya. Ia benar-benar merasa sangat kesepian, meskipun putrinya ada bersamanya.
Suapan terakhir dari piringnya telah beralih ke dalam mulut. Sanjaya menyeka bibirnya dengan serbet setelah menelan kunyahan terakhirnya. Ia kemudian menyesap minumannya hingga tersisa sedikit.
Setelah perutnya dirasa sudah agak tenang, Sanjaya bangkit berdiri dan pergi dari ruang makan. Laki-laki itu masuk ke ruang kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya yang lama tidak ia gunakan.
Sanjaya menatap layar laptopnya. Namun tak benar-benar sedang melihat isinya. Pikirannya melayang entah kemana. Perdebatannya dengan putri semata wayangnya seakan menyadarkannya bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu yang harusnya bisa ia berikan pada mereka.
Putrinya menjadi pemberontak juga karena kesalahan yang ia dan istrinya lakukan. Keegoisan mereka telah membuat putrinya bersikap sangat dingin padanya. Ia tak pernah membayangkan bahwa putri kandungnya sendiri berani terhadapnya.
Berbeda dengan Keira, meskipun marah padanya, Keira tetap berusaha sopan dan menjadi anak penurut di depannya. Meskipun bukan darah dagingnya, Keira justru lebih menghormatinya sebagai orangtuanya.
Sanjaya mengulum senyumnya. Gadis kecil yang telah ia besarkan kini telah tumbuh jadi anak yang baik dan tahu bagaimana menjaga adiknya dan menjaga nama baik keluarganya. Membuat Sanjaya tak rela jika gadis itu meninggalkannya.
Tak pernah terpikir olehnya jika suatu hari Keira akan mengetahui jati dirinya. Mungkin ia tidak akan pernah siap jika gadis itu marah dan pergi meninggalkannya untuk mencari ibu sialannya itu.
Sanjaya mendesah seraya menghembuskan nafasnya. "Dasar wanita sialan! Lihat saja jika kau berani mengambil Keira dariku!" ujarnya membatin.
Sanjaya meraih ponselnya lalu menekan sebuah nama yang tersimpan disana. Suara dering memanggil mulai terdengar. Ia langsung menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Ya, halo." Suara seorang wanita terdengar di ujung telpon. Senyum Sanjaya melebar.
"Apa kabarmu, Kei? Apakah kamu baik-baik aja tanpa Reina?" ujar Sanjaya.
"Aku baik, Pa. Terima kasih sudah bertanya," sahutnya singkat.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Semuanya baik. Maaf soal Reina," kata Keira kemudian.
"Jangan menyalahkan dirimu, Kei. Mulai sekarang, Papa yang akan menjaganya untukmu. Jangan khawatir," katanya untuk membuat gadis itu merasa tenang.
"Terima kasih, Pa."
"Lakukan pekerjaanmu dengan baik. Belajarlah untuk mengambil keputusan, karena hotel itu akan Papa serahkan untukmu. Kelola dengan baik. Tanyakan pada Papa jika ada yang tidak kamu pahami," ucapnya.
"Apa Papa serius? Papa tidak sedang berniat untuk mengasingkanku, kan?" tanya Keira. Sanjaya tertawa pelan.
"Apa Papa terdengar seperti itu?" lontar Sanjaya balik.
"Pa... jangan bercanda. Itu gak lucu," keluhnya.
"Baiklah. Segeralah pulang kalau tugasmu sudah selesai. Papa akan menunggumu di rumah," jawabnya.