"Dari mana saja kau? Kenapa baru balik sekarang?" cecar Reina dengan wajah datar. Ia melirik Keira tajam lewat ujung matanya, sementara kedua tangannya dilipat bersedekap di depan d**a.
Keira diam. Ia mengunci mulutnya rapat tanpa ingin menjawab pertanyaan itu. Gadis itu hanya lewat begitu saja di depannya saat akan masuk ke dalam kamar. Ia bahkan tidak perduli meski Reina telah membereskan seluruh barang-barangnya.
"Kei! Apa kau harus mendiami ku seperti ini? Apa kau ingin membalasku?" teriak Reina lantang.
Gadis itu masih bertahan dalam diam. Ia menahan rasa sakit di hatinya. Menahan sesak yang menghimpit dadanya. Keira hanya sedang menunggu kesadaran dari adiknya itu untuk berubah.
Karena tak selamanya ia akan terus berada disisi Reina seperti sekarang. Ada saatnya gadis itu harus mandiri dan berdiri pada kakinya sendiri. Dan Keira menanti saat-saat itu. Sebab pada akhirnya, ia hanyalah orang luar bagi keluarga Kesuma.
"Keira! Jawab aku!" teriak Reina. Ia mulai kehilangan kesabarannya.
Hening.
Hanya terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Reina mendengus kesal.
Beberapa menit berlalu. Keira keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk yang melekat di tubuhnya. Gadis itu membuka lemari untuk mengambil pakaiannya. Ia tidak terkejut saat memdapati setengah dari isi lemari pakaian itu sudah tidak ada di sana. Sudah seharusnya begitu. Semua barang2 itu memang harus segera dibersihkan dari sana.
Keira keluar dari kamar setelah selesai berpakaian dan kembali memulas wajahnya dengan riasan tipis serta memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala. Ia masih tetap diam meski Reina terus mengomel padanya, karena aksi tutup mulutnya itu.
"Jawab aku, Kei! Kemana aja kamu sepanjang malam? Kenapa tidak tidur disini?" Reina kembali memberondongnya dengan pertanyaan. Bahkan Reina mencegahnya keluar dari tempat itu sebelum Keira bicara.
"Kamu harus bersiap-siap karena sebentar lagi
akan ada orang yang menjemput kamu disini.," sahut Keira datar tanpa menoleh.
'Fine! Aku bakal pulang, Kei, kalau itu yang kau mau. Tapi jawab dulu pertanyaanku. Dari mana saja kau sepanjang malam hingga pagi ini?" tanya Reina lagi. Ia berharap Keira mau menjawab keluhannya.
Keira mendesah berat. Ia merasakan dadanya semakin terasa sesak.
"Aku pergi untuk membereskan semua kekacauan yang kamu tinggalkan di tempat itu. Apakah sekarang kamu mengerti?" ucap Keira datar tanpa ekspresi.
"Permisi, aku harus kembali bekerja sekarang."
Reina diam mematung. Tak berniat untuk bertanya lebih jauh tentang apa yang Keira telah lakukan. Ia membiarkan Keira keliuar dari sana tanpa keinginan menahannya.
Seperti yang telah Keira katakan tadi, satu jam setelah perdebatan mereka, Pak Abdi datang bersama satu orang pria lain yang berusia sedikit lebih muda darinya. Keduanya datang untuk membantu membawakan barang-barang milik nona muda.
"Silahkan, Nona." Pak Abdi memberi jalan pada gadis muda itu untuk berjalan lebih dulu.
Ketiganya berjalan beriringan saat keluar dari lift. Reina menangkap sosok Keira sedang duduk menunggu di loby.
Keira bangkit, melangkah mendekati adiknya yang baru akan keluar dari pintu hotel.
"Hati-hati di jalan," ucapnya datar.
"Hmm... terima kasih." Reina menyahut tak kalah datar. Lalu masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi.
"Ayo, jalan. Kita akan ketinggalan pesawat."
***
Sanjaya Kesuma berang saat mendengar kabar tentang putrinya langsung dari sang ayah, Atmajaya. Pria tua itu menyalahkan putranya karena tak dapat mendidik putrinya dengan baik.
Beberapa jam yang lalu, Atmajaya mendapat kabar tak sedap dari Keira tentang kelakuan adiknya. Meskipun begitu, ia tetap memohon agar jangan menghukum adiknya itu jika telah kembali ke rumah.
Atmajaya langsung bergerak cepat. Meminta anak buahnya memberekan kekacauan yang Reina buat di klub malam. Cucunya itu akan segera menikah. Tidak baik jika meninggalkan catatan buruk selama mereka tinggal di kota lain. Karena awak media telah mengendus keberadaan Reina di kota itu.
Demi untuk menghindari gosip tak sedap, Kakek Kesuma menyiapkan keberangkatan Reina dengan hati-hati saat kembali ke Jakarta.
Tak lupa juga, Atmajaya ikut mengabari putranya itu. Ia berharap Sanjaya bisa segera kembali ke rumah untuk dapat menemui Reina.
Sanjaya dengan segera membereskan pekerjaannya di luar negeri. Ia kembali ke Indonesia dengan menumpangi pesawat pribadi milik keluarganya, yang selama ini mengantar dirinya kemana pun yang ia akan pergi.
Sekretaris pribadinya melangkah dengan terburu-buru saat mereka keluar dari hotel. Sikap manis yang selama ini Sanjaya tunjukkan padanya seketika menghilang sejak pria itu menerima panggilan telpon internasional.
"Pak, tunggu saya." Gadis itu memanggilnya dengan nada manja.
"Ayo, cepat! Aku membayarmu bukan untuk bermalas-malasan," jawab Sanjaya ketus tanpa mengurangi kecepatan kakinya.
"Ini juga sudah cepat. Bapak saja yang terlalu terburu-buru. Kaki saya sakit, Pak."
"Buka saja sepatumu itu jika menghambat langkahmu." Sekali lagi Sanjaya merasa tidak perduli.
"Paaak..." teriaknya manja saat Sanjaya semakin jauh meninggalkannya.
Sanjaya lebih dulu masuk ke dalam mobil. Sementara gadia itu baru tiba lima menit kemudian dengan nafas terengah-engah dan keringat yang mengalir dari keningnya.
"Lain kali jangan pakai sepatu sialan itu lagi, kecuali saat bertemu rekan bisnisku." Sanjaya berkata datar tanpa ekspresi. Membuat gadis di sampingnya itu mendengus kesal.
Suasana mobil hening. Hanya terdengar suara hembusan nafas dari dua orang berlainan jenis yang duduk di bangku belakang.
"Aku akan menurunkanmu di hotel."
"Terserah," sahut gadis itu ketus. Wajahnya memandang ke luar jendela. Tangannya bersandar pada pintu untuk menopang dagunya.
"Aku akan menemuimu besok pagi!" seru Sanjaya kala gadis itu keluar dari mobil. Tangannya menyeret koper kecil di sisinya.
Mobil kembali melaju kencang membelah jalan. Kali ini, Sanjaya kembali ke istana megahnya yang telah ia tinggalkan selama lebih dari dua minggu. Ini adalah kepulangannya yang tercepat. Karena Sanjaya hanya akan kembali dalam beberapa bulan.
Ia mengernyitkan alisnya saat mendapati dua buah mobil telah terparkir di pelataran depan rumahnya. Sanjaya memantapkan hatinya sebelum melangkah keluar dari mobil, sebab ia sendiri tidak tahu berita apa yang sedang menunggunya di dalam sana.
Sanjaya mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kuat. Ia akhirnya keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Sanjaya tak mendapati Marta menyambutnya di depan pintu. Bisa ditebak bahwa wanita itu sedang menunggui tamu penting di rumahnya.
"Dimana mereka?" Sanjaya melempar tanya pada Ani yang menunduk di belakangnya.
"Sedang minum teh di taman belakang, Tuan."
Dengan langkah cepat Sanjaya menyusul tamunya ke ke taman belakang. Sisi lain dari istananya selain dapur dan ruangan khusus bagi para maid yang bekerja di rumah itu.
Langkahnya terhenti saat menyadari keberadaan Reina di tempat itu, sedang berbicara santai dengan sang kakek.
"Kapan kamu pulang?" tanya Sanjaya dengan suara besar.
"Baru dua puluh menit yang lalu," jawabnya pelan, seperti tidak bersemangat.
"Dimana kakakmu?" tanyanya saat menyadari tidak melihat keberadaan putri sulungnya di tempat itu.
"Dia masih tinggal disana untuk bekerja. Tadi aku pulang bersama Pak Abdi. Mungkin dia ada di ruangannya sedang beristirahat."
"Papa tidak bertanya tentang supir itu, Reina!" bentak Sanjaya. "Papa sedang bertanya tentang Keira, kakakmu."
Reina mendengus pelan. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas menciptakan senyum sengit di wajahnya yang dingin.
"Kenapa bertanya tentang dia? Apa Papa tidak mengkhawatirkan aku juga?" Reina melempar tanya penuh sindiran.
"Untuk apa? Kamu sudah ada disini, di depan Papa. Apa yang harus Papa khawatirkan lagi?" ujarnya tanpa beban.
"Apa Papa tahu apa yang terjadi padaku?" tanya Reina. Matanya menatap lurus ke dalam mata Sanjaya.
"Ada apa? Apa kamu merasa melakukan kesalahan? Jika ya, mengaku saja. Apa yang telah kamu lakukan sebenarnya?" tantang Sanjaya pada putrinya.
Reina mendengus, menyentak nafasnya kuat. Air mukanya tiba-tiba berubah. Kedua matanya terlihat mulai berkaca-kaca dengan rona merah di hidung dan wajahnya yang terlihat jelas. Gadis itu tengah menahan air matanya.
"Sejak kapan Papa mulai perduli padaku dan Keira? Kemana saja Papa selama ini? Bukankah kalian sibuk dengan diri kalian sendiri? Kenapa tiba-tiba berubah jadi pahlawan kesiangan dan sok jadi orangtua yang baik untuk kami?" keluhnya penuh sindiran.