Bab. 55

1872 Kata
Ayuningtias duduk bersandar di kepala ranjang sembari memijit pelipisnya. Memikirkan kebebasan yang tak mungkin lagi diraih. Peringatan tegas dari ayah mertuanya membuat Ayu tidak dapat melakukan segala yang disenanginya. Begitu pun dengan Sanjaya yang harus berkurung di rumah seharian tanpa bisa bertemu dengan siapa pun tanpa seizin Atmajaya Kesuma. Bahkan untuk bertemu kolega bisnisnya. Pria tua itu sengaja menempatkan beberapa orang untuk berjaga di rumah putranya. Tentu saja dengan beberapa pengecualian. Orang-orang suruhan orang tua itu akan mengikuti Sanjaya maupun Ayuningtias, kemana pun mereka pergi. "Ini semua karena kamu, Mas. Coba aja dulu kamu gak macam-macam sama sekretaris bodohmu itu, keluarga kita gak akan seperti ini." Ayuningtias terus saja menyalahkan suaminya yang telah berselingkuh darinya. "Sudahlah. Kau pun sama saja. Kau hanya tau menghabiskan uangku dengan lelaki b******k yang bahkan tidak bisa membiayai hidupnya sendiri." Sanjaya mendengus kesal. "Uangmu? Itu juga uangku. Sudah tugasmu untuk memenuhi segala kebutuhanku, termasuk memberiku uang. Kau bahkan lebih banyak menghabiskan uang untuk wanita simpananmu itu. Jangan kamu pikir aku tidak tau tentang perhiasan, apartemen, juga mobil mahal yang kau berikan untuk wanita sialanmu itu!" Ayu balik menyerang suaminya dengan semua bukti yang ia punya. "Apa yang kau katakan? Dari mana kau tahu semua itu? Itu semua tidak benar." Sanjaya berusaha menyangkal semua ucapan istrinya. "Dasar lelaki pembohong! Teganya kamu melakukan ini pada kami, Mas! Sekarang Papamu bahkan ikut campur dalam urusan rumah tangga kita. Apa kamu senang sekarang? Bahkan kedua putri kita tidak mau mendengarkan kita lagi sekarang." Ayu merasa wajahnya mulai memanas. Bahkan untuk menelan saliva saja tenggorokannya terasa perih. Ayu mulai menangis meratapi hidupnya. "Sudahlah! Air matamu tidak akan bisa merubah semuanya." Sanjaya keluar dari kamar, meninggalkan istrinya sendirian. Lelah bertengkar dengan sang istri selama bertahun-tahun. Langkah Sanjaya gontai keluar dari lift, berjalan masuk ke dalam ruang baca di lantai bawah. Marta membuntuti tuannya masuk ke ruangan itu setelah meminta Ani membuatkan teh dan cemilan untuk Sanjaya. Wanita paruh baya itu berdiri merapat pada dinding di samping pintu masuk. Ia sengaja membiarkan pintu terbuka. Marta melihat tuannya begitu gelisah. Laki-laki itu hanya duduk di kursi bacanya sambil menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Guratan kesedihan terlihat jelas di wajahnya yang mulai keriput di makan usia. Marta mengerti apa yang sedang dirasakan oleh tuannya. Namun dirinya tak dapat berbuat apa-apa dan tak ingin mencampuri apa yang bukan menjadi bagian dari tugasnya. Suara ketukan pintu memaksa Sanjaya membuka matanya. Seorang gadis muda, seusia putrinya masuk sambil mendorong kereta yang membawa teko dan cangkir teh, serta sepiring cemilan. Gadis itu menuangkan teh di dalam cangkir teh dan meletakkannnya di meja bersama dengan cemilannya. "Berapa usiamu?" Sanjaya bertanya pada gadis itu. Melihat parasnya yang masih muda, ia bisa menebak jika Ani bahkan tidak lebih tua sehari dari kedua putrinya. Ani menundukkan kepalanya. "Dua puluh tahun, Tuan." Ia menjawab dengan sopan tanpa melirik wajah tuannya. Kemudian berjalan mundur dan berdiri di samping Marta. Wanita tua itu hanya menoleh sekilas padanya tanpa berkata apa-apa. "Ooh." Kepalanya diangguk-anggukan pelan. "Sudah berapa tahun kamu bekerja di sini?" tanya Sanjaya lagi. "Hampir empat tahun, Tuan." Masih dengan kepala yang tertunduk. "Artinya, kamu tidak melanjutkan pendidikanmu?" Ani tersenyum kecut. "Tidak, Tuan." "Apa kamu yang ditugaskan untuk melayani Reina?" Lagi-lagi, Ani mempertahankan senyum di wajahnya. "Benar Tuan." Sanjaya menegakkan duduknya. Ia meraih cangkir teh dari atas meja dan menyesap tehnya perlahan. "Coba katakan, apa kamu pernah mendengar Reina berbicara dengan pria? Mungkin kekasihnya? Atau... temannya?" selidik Sanjaya. Ia begitu penasaran bagaimana bisa putrinya menolak menikah dengan Banyu. Ani melirik pada Marta, meminta persetujuan untuk mengatakan apa yang dia ketahui tentang nona mudanya itu. Melihat Marta yang mengangguk ke arahnya, Ani jadi percaya diri untuk bicara. "Maaf, Tuan. Tapi saya tidak pernah melihat Nona Reina berteman dengan lelaki. Saya juga tidak pernah mendengarnya bicara tentang itu, bahkan pada Nona Keira." Ani menjawab setenang mungkin. "Apa itu benar, Bu Marta?" Sanjaya mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang berdiri di dekat pintu. "Benar, Tuan." Marta menjawab singkat. Namun Sanjaya sepertinya merasa tidak puas dengan jawaban kedua pelayannya itu. Laki-laki itu menyentak napasnya kesal. Jawaban itu jelas berbeda dengan pengakuan putrinya yang mengatakan bahwa dirinya sedang dekat dengan seorang pria dewasa. Alasan di balik penolakan Reina atas perjodohannya dengan Banyu. Sanjaya berdiri lalu mengebrak mejanya kuat, hingga membuat cangkir teh bergetar. Kedua maid itu pun ikut terkejut. "Jangan berbohong padaku!" bentaknya pada kedua wanita itu. Matanya menatap tajam keduanya bergantian. "Bu Marta saya tugaskan untuk mengasuh Reina dengan baik. Bukan berarti harus menutupi apapun yang Reina lakukan dari saya. Seharusnya Bu Marta memberi tahu saya, apa saja yang dilakukan oleh Reina. Dengan siapa saja dia berteman? Apa saja yang dilakukannya saat saya tidak di rumah? Saya gak ingin Reina terjerumus pertemanan yang tidak baik di luar sana. Apa Bu Marta paham?" Marta mengangguk pelan, wajahnya terlihat tegang. Ia menggigit bibir bawahnya pelan untuk menahan rasa perih yang menjalar di hatinya. Sanjaya menjatuhkan kembali pantatnya, sementara kepalanya bersandar pada punggung kursi. Kedua tangannya memijit pelipis yang berdenyut. "Telpon Keira sekarang. Katakan padanya bahwa saya memintanya untuk kembali ke Jakarta sekarang. Jika Reina tak ingin kembali bersamanya, biarkan saja! Beri tahu Keira agar meminta Pak Abdi untuk menjaga Reina." Sanjaya memberi perintah untuk maid kepala. Segera Marta beranjak dari ruang baca menuju ruang keluarga. Ia duduk di kursi kecil di samping meja telpon. Dengan cekatan jari jemarinya menekan nomor ponsel Keira. Menunggu telpon itu hingga tersambung. "Halo, Nona?" Wajah murung Marta berubah ceria ketika sambungan telponnya tersambung. "Halo, Bu. Apa kabar?" Suara Keira begitu jelas terdengar. Setelah seharian dia mencoba menelpon gadis itu, namun tak pernah tersambung. "Mm, segalanya sedang tidak baik di sini. Karena itu, sebaiknya Nona Keira cepat kembali," ujar Marta. Dia berusaha untuk tidak menyembunyikan apapun dari anak majikannya itu. "Apa maksudnya sedang tidak baik? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah?" Suara Keira terdengar khawatir. Dibandingkan dengan siapa pun yang tinggal di rumah megah itu, hanya Keira yang benar-benar perduli pada keluarga itu, termasuk pada maid yang bekerja di keluarga mereka. "Nona Keira, Tuan meminta anda untuk segera kembali ke rumah secepatnya. Keadaan di rumah sedang kacau sekarang." Marta mengadu. Suaranya terdengar pelan setengah berbisik karena tak ingin didengar oleh orang lain. "Apa? Kembali ke rumah? Ada apa, Bu Marta?" Gadis itu semakin merasa khawatir. Otaknya menerka-nerka apa yang terjadi di ujung sana. "Kemarin malam, Tuan Besar Kesuma datang ke rumah dan bicara serius dengan Tuan dan Nyonya," ujarnya hati-hati. Kepala Marta menoleh ke sana kemari untuk melihat situasi. "Lalu saya mendengar bahwa Tuan Besar melarang mereka keluar dari rumah sebelum Nona Reina kembali ke rumah. Mereka juga berbicara tentang pembatalan perjodohan Nona Reina dan Tuan Muda." Marta melanjutkan laporannya sambil sesekali melirik ke arah pintu. "Benarkah?" tanya gadis itu singkat. "Tentu saja. Tuan Besar bahkan menempatkan beberapa pengawal untuk berjaga agar tak seorang pun bisa keluar dari rumah ini sebelum anda dan Nona Reina kembali ke rumah." Marta melanjutkan laporannya. "Kakek sampai melakukan itu? Pasti kali ini masalahnya sangat berat. Kakek tidak mungkin menempatkan pengawal begitu saja." Keira bermonolog. Namun suaranya masih jelas terdengar oleh orang di ujung telpon. "Benar, Nona." Marta menyahut. "Nona harus segera pulang bersama Nona Reina," lanjut Marta penuh harap. Tak ingin masalah di rumah itu berlarut-larut. "Gimana kalau Reina tidak mau pulang?" "Tuan bilang, tinggalkan saja. Biarkan Pak Abdi yang menjaganya di sana. Jika tidak ada Nona, mungkin Nona Reina akan berpikir untuk ikut pulang ke Jakarta." Keira diam. Suara helaan napasnya terdengar di telinga Marta. "Nona?" "Ya?" "Segeralah kembali ke rumah." "Akan aku usahakan," jawab Keira tak yakin. Pembicaraan mereka terputus. Marta yang memutuskannya lebih dulu. Langkah Marta terayun meninggalkan ruang keluarga dan kembali masuk ke ruang baca. Ani melirik ke arah pintu saat Marta muncul dari sana. Gadis itu bertahan di ruang baca selama Marta pergi. Hal serupa juga dilakukan oleh Sanjaya. Pria paruh baya itu ikut menoleh pada sosok yang berjalan masuk dari ambang pintu menuju ke arahnya. "Bagaimana? Apa dia mengangkat telponnya?" tanya pria itu tak bersemangat. Ia tidak yakin putrinya akan menerima panggilan itu. Marta menundukkan kepalanya sambil mengangguk. "Iya, Tuan." Pria itu langsung menegakkan duduknya dan menyandarkan dadanya di tepi mejja, serius mendengar kelanjutan cerita dari Marta. "Benarkah? Apa yang dikatakannya?" tanya Sanjaya tak sabar. Kedua matanya membulat lebar menunggu jawaban. "Nona Keira belum memutuskan kapan akan kembali, Tuan." Marta menjawab takut-takut. "Ck... apa yang harus aku katakan pada keluarga Dimas sekarang?" keluhnya. Sanjaya membuang napasnya kuat. "Apa dia mengatakan sesuatu tentang Reina?" Marta sekali lagi menunduk. "Tidak ada. Nona tidak mengatakan apapun," tuturnya menjelaskan. Tangannya terayun ke udara, mengusir keluar kedua wanita itu. Menunduk sopan, keduanya langsung keluar dan menutup pintu, meninggalkan Sanjaya sendirian di ruang baca, tenggelam dalam kesedihannya. *** "Kamu mau pergi kemana lagi?" Keira melotot ke arah adiknya. Gadis itu memakai skinny jeans serta halter top putih berbahan kaos. Reina menggantung tas di bahunya saat keluar dari kamar. "Aku mau makan malam di bawah. Kenapa? Kau pikir aku mau pergi dengannya lagi?" ucapnya sengit.  Pipinya digembungkan hingga membuat bibirnya mengerucut. Reina pergi sambil membanting pintu. Ia merasa sikap Keira sangat aneh sejak tadi pagi. Tak mau ambil pusing, Reina melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift dan mulai bergerak turun ke lantai dasar. Ia sama sekali belum bertemu dengan Pak Abdi sejak pulang tadi. Reina menyambung langkahnya begitu lift berhenti dan mulai terbuka lebar. Perut keroncongannya menuntut ingin diisi. Gegas Reina masuk ke restoran dan memilih meja kosong yang tersisa agak jauh di tengah. Hari ini restoran terlihat penuh, tidak seperti sebelumnya. Tak mau ambil pusing, Reina mengangkat tangannya tinggi ke atas. Seorang perempuan menghampiri Reina sambil memegang ballpoint dan catatan kecil di tangannya. Reina tak ingin mengulur waktu, segera ia memilih menu makan malam untuk dirinya. Juga beberapa menu lainnya yang harus diantar ke kamar mereka. Bagaimana pun, ia tak tega membiarkan Keira kelaparan di kamar, sementara ia makan tanpa rasa bersalah. "Itu gak perlu!" Sebuah suara terdengar menyahuti permintaan Reina. Refleks gadis itu memutar kepalanya mencari sumber suara. "Loh... sejak kapan kau berdiri di situ?" tanya Reina antusias ketika melihat kakaknya turun untuk menemaninya makan malam. "Baru aja sampai," sahutnya datar tanpa tersenyum. Wajahnya masih sama menyebalkannya seperti saat Reina meninggalkannya tadi. Reina membatalkan permintaannya. Membiarkan pelayan itu mengerjakan tugasnya, menyiapkan pesanan khusus bagi petinggi hotel. Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Keira? Gadis itu sudah lebih dari satu bulan berada di hotel Santika untuk bekerja. "Ckck... ya ampun. Apa kau tidak bisa tersenyum sedikit saja?" Reina menyampaikan kelihannya. "Jangan lihat wajahku kalau kamu tidak suka. Lihat aja ke tempat lain." Ucapan gadis itu terdengar dingin. Reina geleng-geleng kepala. "Ada apa denganmu? Jika ada masalah, kau bisa membaginya denganku. Walaupun aku gak bisa membantu, setidaknya kau akan merasa sedikit longgar karena sudah membuang separuh masalah dari pikiranmu. Itu supaya otaknu jangan sampai mengeluarkan asap. Pasti akan sulit sekali untuk memadamkannya kalau otakmu sampai terbakar." Reina terkekeh mendengar gurauannya sendiri. Sementara Keira hanya tersenyum kecut ke arahnya. "Gak lucu," balasnya sengit. "Siapa juga yang sedang ngelawak?" Reina bermonolog. "Oya, apa hari ini orang di rumah menelponmu?" Reina mengalihkan pembicaraan mereka. "Mm..." "Apa mereka menyuruhmu untuk pulang?" Wajah Reina berubah serius, menatap kakaknya lekat-lekat. "Kenapa? Apa mereka menyuruhmu pulang?" Reina mengangguk-angguk. "Lalu kau jawab apa?" Reina mengedikkan bahunya. "Aku gak bilang apa-apa. Hanya mendengarkan mereka mengoceh lalu menutup telponnya." "Siapa? Bu Marta?" Reina mengangguk lagi. "Iya. Siapa lagi?" "Apa yang mereka katakan padamu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN