Bab. 54

1531 Kata
Berbekal sebuah ponsel baru dengan tipe dan model yang sama, yang baru saja dibeli, Keira kembali ke hotel dengan perasaan tenang. Semua data yang tertinggal di ponsel lamanya telah ia dapatkan, walau harus mengeluarkan biaya tambahan untuk itu. Keira berjalan gontai keluar dari lift menuju kamar president suite yang ia tinggali bersama Reina. Pembicaraannya dengan Sanjaya kembali terngiang. Dirinya kembali diliputi rasa bersalah karena terlanjur mengungkapkan keberadaan Reina. Keira berhenti tepat di depan pintu. Bayangan wajah Reina yang menangis karena dirinya, terbayang di depan mata. Andai saja ia bisa mengunci mulutnya rapat-rapat. Tangannya terulur untuk membuka pintu. Suara pintu berderit pelan kala Keira mendorongnya hingga terbuka. Keberadaan dua orang di dalam kamar membuatnya terkejut. Ia terpaku di depan pintu hingga seseorang menegurnya. "Kei! Untuk apa kau berdiri di depan pintu? Ayo, masuk." Reina datang mendekat. Tepukan di pundaknya menyadarkan Keira. "Oh, hai... aku hanya, tadi aku hanya terkejut." Keira menyahut gugup. Matanya menangkap sosok Alex sedang duduk santai di sofa. "Mau apa dia ke sini?" bisik Keira. Ia melihat keduanya bergantian. "Oh, dia hanya ingin menemaniku sambil menunggumu pulang." "Oh..." "Ada apa, Kei? Kenapa wajahmu seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Reina khawatir. Ia merasa kakaknya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Tidak ada apa-apa," jawab Keira cepat. Ia mengacuhkan keduanya saat berjalan masuk ke kamar tidur. Tak tinggal diam. Reina ikut membuntut di belakang. Tak ambil pusing saat Keira menegur aksinya. Reina hanya terkekeh di belakangnya. "Keira.' "Hm." "Aku akan punya bayi." Reina mengulum senyumnya. Ia menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang. "Hm. Aku sudah tau," jawabnya dingin, tanpa menoleh. "Dari mana kau tahu? Apa Alex memberitahumu?" Niat Reina untuk memberi kejutan pada kakaknya malah mendapat jawaban yang balik mengejutkannya. "Bukan." "Lalu? Kau tahu dari mana?" "Dari mu," sahutnya enteng. "Ih... Keira! Aku bicara serius denganmu." Reina mendengus kesal. "Aku tahu karena kamu berulang kali mengatakannya. Jadi, apa bedanya dengan hari ini?" jawabnya sarkas. Reina cemberut. Hatinya terluka. Ia hanya ingin memberikan kejutan untuk Keira, tapi sepertinya kakaknya sedang tidak ingin bicara dengannya. Reina berusaha menguatkan hatinya. Ia memilih keluar dari kamar untuk mendinginkan suasana. Ia sempat melirik pada Keira sebelum keluar tadi. "Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu, Rein?" Alex melihatnya dengan perasaan khawatir. "Keira. Aku pikir dia akan senang, tapi sepertinya tidak." Reina mengembuskan napasnya kuat, namun berusaha tetap tersenyum meski dipaksakan. "Sudah, gak apa-apa." Alex membelai rambut Reina lembut. "Mungkin dia lagi ada masalah pribadi. Beri dia waktu untuk sendiri." "Iya. Padahal tadi pagi dia masih baik-baik aja," keluh Reina, kepalanya bersandar di bahu Alex. "Sudahlah, biarkan saja. Gimana kalau kita jalan-jalan di luar? Kamu juga butuh udara segar," ajak Alex. "Keira gimana? Aku gak bisa ninggalin dia sendirian di sini," sahut Reina bimbang. Alex mengulas senyumnya. "Kita bisa ajak dia juga." Reina bingung. Ia menimbang-nimbang ajakan Alex. "Tidak usah dipaksakan. Gak apa-apa kalau kamu tidak ingin pergi. Besok pagi setelah pekerjaanku selesai, aku jemput kamu di sini." Reina menoleh, memandang penuh pada Alex. "Kita mau pergi kemana?" selidik Reina, keningnya berkerut. Alex tersenyum simpul. "Kenapa kamu jadi pelupa seperti ini, sih?" "Maksudnya? Aku benar-benar gak paham," katanya bingung. "Bukannya kamu ingin punya anak, ya? Besok kita pergi untuk membuatnya." "Iih... apaan, sih, Lex?" Cubitan kecil langsung mendarat di perut Alex, membuat pria itu meringis sakit. "Auw...." Alex terkekeh geli melihat Reina cemberut. "Cuma becanda, Sayang." Alex mengusap puncak kepala Reina. "Besok kita cari dokter yang bisa wujudkan mimpi kamu." Alex meralat ucapannya. Senyum di wajah Reina langsung terbit. *** "Apa dia sudah pergi?" Reina berbalik. Pertanyaan yang meluncur dari mulut Keira menghentikan langkahnya saat ia hendak masuk ke kamar mandi. "Sudah," jawabnya. "Apa yang dilakukannya di sini?" tanya Keira sinis. "Kenapa? Jadi kau marah karena aku membawanya masuk?" Reina balik bertanya. Ucapan Keira seakan menuduhnya melakukan sesuatu yang terlarang bersama lelaki itu. "Asal kau tahu, kami cuma ngobrol sambil menunggumu kembali. Aku sudah bilang, kan? Dia ingin menyampaikan sesuatu padamu. Tapi kau bersikap kekanak-kanakan seperti itu," jawabnya ketus. Reina berbalik pergi, melanjutkan niatnya untuk mandi sebelum turun untuk makan malam. Ia mengabaikan Keira yang menatapnya tajam tanpa kedip hingga Reina masuk ke kamar mandi. Suara air yang mengalir dari pancuran air terdengar sampai di telinga Keira. Ia mengambil kesempatan itu untuk memeriksa ponselnya. Keira tertegun ketika notifikasi pesan dan panggilan masuk, muncul di layar ponselnya tanpa henti hingga beberapa saat. Keira sengaja menunggunya hingga notifikasi terakhir muncul. Kemudian mulai memeriksanya satu per satu. Kedua matanya membulat lebar ketika menemukan nomor telpon ayahnya muncul dalam panggilan masuk hingga beberapa kali. Lalu beberapa panggilan masuk lain dari nomor telpon rumahnya, juga beberapa pesan beruntun yang dikirimkan oleh Kakek Kesuma dan juga Banyu. Keira juga menemukan beberapa panggilan masuk dari Reina. Yang semakin membuat jantungnya berdebar adalah saat membaca pesan masuk dari ibunya, Ayuningtias. Keira tak pernah menyangka, ulahnya menghancurkan ponsel berbuntut pada pesan yang dikirimkan oleh sang ibu yang memintanya untuk membawa Reina kembali ke rumah, bersamanya. Pesan yang ia terima dari Kakek Kesuma juga mengatakan hal yang tidak jauh berbeda. Entah apa yang sedang terjadi di rumahnya, semua itu membuat perasaan Keira tidak tenang. Namun ia ragu untuk membalas setiap pesan yang mereka kirim padanya. Keira sangat takut. Teringat pada permintaan Reina yang memintanya untuk menikah dengan Banyu. "Apa yang sudah aku lakukan? Semua orang paati akan menyalahkanku sekarang," desis Keira merutuki kebodohannya. Ragu, Keira memilih untuk menonaktifkan ponselnya kembali. Tetapi ponselnya kembali berdering sesaat sebelum Keira mematikan ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari Ayuningtias membuat Keira panik. Buru-buru Keira keluar dari kamar tidur dan duduk di mini bar. Ia gelagapan. Keira menekan tombol hijau sebelum meletakkan ponselnya di telinga. Suara lembut ibunya yang sangat Keira rindukan, kini menggema di telinganya. "Halo, Keira." Ayuningtias memanggil namanya, membuat hati Keira seketika menghangat. "Bagaimana kabarmu nak?" lanjut Ayu. Suaranya lembut menyapa. "Halo, Ma. Kabarku baik," sahut Keira gugup. "Kenapa ponselmu tidak aktif seharian ini?" "Maaf, Ma. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi, aku pikir tidak ingin diganggu dulu," jawab Keira mencari-cari alasan. "Oh. Apa sekarang pekerjaanmu sudah selesai?" "Sudah." "Mm... Kei, Mama ingin mengatakan sesuatu padamu. Apa Reina ada di sampingmu?" "Reina? Oh, tidak. Dia sedang mandi." "Nak, bisakah kamu pulang bersama Reina? Ada hal penting yang ingin kami bicarakan denganmu dan Reina." Deg. Detak jantung Keira seakan berhenti. Lagi-lagi, mereka membicarakan tentang Reina. Tak bisakah mereka hanya fokus pada dirinya saja? "Keira." Wanita itu menyadarkan Keira dari lamunannya. "Ya, Ma." "Apa kamu mendengar Mama? "Mm... aku mendengarnya. Maaf, Ma, sepertinya aku tidak bisa mengantarnya pulang. Tidak bisakah dia pulang bersama Pak Abdi saja?" "Kenapa? Pekerjaanmu?" "Iya." "Sekarang kamu sama seperti Papa, Kei. Kalian sudah lupa untuk pulang hanya karena alasan pekerjaan." Suara tarikan napasnya terdengar sampai di telinga Keira. "Ma... bukan seperti itu." "Mama akan ada di rumah jika kalian masih membutuhkan Mama." "Ma..." "Jaga adikmu dengan baik, Keira. Maaf karena Mama tidak bisa datang ke sana untuk menemui kalian." Panggilan itu terputus, bahkan sebelum Keira sempat menjawab kalimat terakhir dari ibunya Ada sesak menindih dadanya. Setelah bertahun-tahun, untuk pertama kalinya Ayu menanyakan kabarnya dan berbincang dengannya walau hanya sebentar. Keira tertegun untuk beberapa saat, sampai sebuah tangan memegang bahunya. Menyadarkan Keira dari lamunan singkatnya. "Rein." Keira mendongak, melihat Reina berdiri di sampingnya. "Sejak kapan kamu di situ?" tanya Keira panik. Wajahnya berubah pucat. "Baru aja. Kau habis bicara dengan siapa? Aku dengar kau tadi memanggil Mama. Apa telpon itu darinya?" Reina balik menodongkan pertanyaan padanya. "Oh, itu... mungkin kamu salah dengar." Keira melukis senyum di wajahnya, berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya. Reina mendengus kesal. "Sejak kapan kau belajar berbohong seperti itu?" "Aku dengar saat kau bicara tadi. Kenapa? Apa mereka menyuruhku pulang?" Tak bisa mengelak lagi, Keira akhirnya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Apa mereka menyalahkanmu?" Sekali lagi, kepala Keira bergoyang ke samping beberapa kali. "Terus, kenapa kau bengong seperti itu?" "Sudahlah, jangan banyak tanya! Aku mau tidur, kepalaku sakit." Keira beranjak masuk ke kamar tidur dan langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Matanya terpejam kuat. "Hei. Mandi dulu sana! Ck,ck... dasar gadis jorok." Reina bermonolog. *** Sementara itu, di kediaman keluarga Sanjaya. Suasana tegang meliputi seluruh penghuni rumah. Termasuk Tuan dan Nyonya Kesuma. Tak ada seorang pun dari suami istri itu berani untuk pergi meninggalkan rumah setelah Atmajaya Kesuma memberi peringatan keras pada mereka. Bahkan untuk sekedar menyusul kedua putrinya di Sumatera, keduanya tidak memiliki keberanian. Atmajaya mengultimatum anak dan menantunya perihal pernikahan Reina. Oleh karena itu, Sanjaya mengatur ulang rencana pernikahan putrinya dengan Banyu Danuarta. Pertemuan dua keluarga itu telah disepakati. Sebab itulah, Ayuningtias meminta Keira untuk kembali ke Jakarta bersama Reina. Mereka ingin Keira mengetahui rencana pernikahan itu secara langsung dan tidak ada alasan untuk menolaknya, seperti yang Reina lakukan. Alasannya klise. Demi kebaikan Keira dan nama baik keluarga. "Bagaimana?" cecar Sanjaya pada istrinya. "Katanya, dia tidak bisa pulang. Mungkin akan meminta Reina untuk pulang bersama Pak Abdi," sahut Ayu datar. "Apa kau tidak bisa sedikit memaksanya?" "Aku tidak bisa, Mas. Kami sudah lama tidak bicara, jadi... wajar rasanya kalau Keira menolak permintaanku." "Lihatlah, bahkan kau tidak bisa mengambil hati putrimu sendiri. Bagaimana bisa kau menyebut dirimu sebagai Mamanya?" cibir Sanjaya. "Jangan salahkan aku! Ini semua karena ulahmu, Mas. Jika saja dulu kau tidak memulainya, keluarga kita tidak akan seperti ini," ujar Ayu menyalahkan suaminya. "Sudahlah! Jika sudah begini, mau menyalahkan siapa lagi? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN